hendladi
IndoForum Beginner D
- No. Urut
- 113568
- Sejak
- 15 Jan 2011
- Pesan
- 685
- Nilai reaksi
- 2
- Poin
- 18
ACEH, KOMPAS.com - Seratusan senjata api ilegal, baik rakitan maupun organik, sisa-sisa konflik antara aparat keamanan dengan kelompok Gerakan Aceh Merdeka (GAM), diperkirakan masih dipegang warga Aceh. Jika tak ditarik seluruhnya, senjata api itu akan menimbulkan masalah nantinya.
"Hitung-hitungan kami, seratusan senjata api masih beredar di masyarakat. Itu masih masalah di sini," kata Irjen Iskandar Hasan, Kepala Polda Aceh di Polda Aceh.
Iskandar mengatakan, sejak Juni 2009 hingga Februari 2011, pihaknya telah menyita 52 pucuk senjata api organik milik TNI/Polri dan 344 senjata api rakitan. Selain itu, ikut disita 3.053 amunisi serta lima granat.
"Itu hasil kesadaran masyarakat untuk menyerahkan senjata. Kami membujuk saudara-saudara kita di Aceh untuk menyerahkan sisa perang. Ada juga yang diserahkan ke Kodam," ucap dia.
Dikatakan Iskandar, faktor keengganan warga menyerahkan senjata api lantaran mereka mendapatkannya dengan membeli. "Ada yang berutang, jual sapi, jadi enggan menyerahkan. Kedua, mereka ketakutan nanti dihukum. Kami sudah sampaikan, kalau sadar serahkan tidak kami hukum, hanya kami catat. Mudah-mudahan kedepan bisa tambah lagi yang menyerahkan," ucap dia.
Direktur Intelejen dan Keamanan Polda Aceh, Kombes Bambang Soetjahjo, mengatakan, ratusan senjata api yang disita hasil penggalangan dari tiga kelompok yang terlibat dalam perperangan yakni GAM, Forkam (Forum Komunikasi Mantan GAM), dan Peta (Pembela Tanah Air).
Dijelasakannya, di luar senjata api rakitan, senjata api yang diterima pihaknya jenis M-16, AK 47, AK 56, SS1, Revolver, dan pistol. Untuk senjata organik milik TNI/Polri, kata dia, paling banyak diserahkan oleh kelompok GAM. Adapun senjata api rakitan diserahkan kelompok Forkam dan Peta.
Ketika ditanya apakah senjata api itu akan dimusnahkan, Bambang menjawab, "Kami belum dapat petunjuk dari Mabes Polri dimusnahkan atau tidak," jawab dia.
Dari mana senjata api itu didapat? Bambang mengatakan, berdasarkan pengakuan, mereka membeli di pasar gelap di Batam dan Medan. "Ada juga beli di tengah laut bertemu dengan kelompok Thailand. Mereka membawanya dengan dibenamkan di laut lalu diseret dengan perahu sehingga tak terlihat," jelas dia.