Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
WELCOME TO MY THREAD
Kali ini mau ane share minuman keras produksi dalam negeri, tepatnya di Semarang. Apa itu? Ya, Congyang
Penasaran ? Mari kita simak
KOTA SEMARANGmemiliki berbagai macam masakan khas yg sudah diketahui masyarakat luas, seperti lunpia, tahu pong, bandeng presto, wingko babat, & banyak lagi. Kota yg terbentuk dari akulturasi empat budaya, Jawa, Tingkok, Arab, & Belanda ini memang memiliki kekayaan masakan yg tercipta dari sebuah perpaduan budaya.
Selain makanan, ada pula produk minuman beralkohol yg juga tercipta dari perpaduan budaya Jawa & Tiongkok.
Congyang namanya, minuman beralkohol semacam wine ini diproduksi CV Tirta Waluyo & memiliki kadar alkohol 19,63 persen.
Spoiler for Congyang:
Spoiler for Congyang:
Spoiler for Bonus :
Meski sebenarnya dalam kemasannya diberi nama Cap Tiga Orang, warga Kota Semarang sering menyebutnya dengan nama Ceye (CY) atau Congyang.
Congyang merupakan hasil fermentasi beras & gula pasir, sepirit, perasa kopi moka, pewarna makanan, yg dilengkapi dengan beberapa kandungan lain & tergolong dalam alkohol tipe B.
Dari banyak referensi yg diperoleh halosemarang.id, tokoh penting di balik penciptaan Congyang adalah seorang kakek yg biasa disapa Koh Tiong. Dia adalah pewaris generasi peracik obat berdarah Tionghoa yg menetap di Kota Semarang.
Dari tangan dharap Koh Tiong inilah, Congyang melegenda hingga sekarang.
Konon, Koh Tiong merupakan salah satu penerus generasi Khong A Djong, seorang suhu ternama yg mengusai ilmu kungfu nomor wahid pada zamannya.
Khong A Djong yg konon juga mewarisi ilmu Wong Fei Hong ini sekaligus adalah master peracik minuman tradisional. Khong A Djong sendiri lahir di Kampung Gabahan Lengkong Buntu, kawasan Pecinan Semarang pada 10 Oktober 1896.
Dikisahkan, selama 27 tahun dia digembleng ilmu kungfu di Tiongkok. Pada tahun 1923, saat itu masih era penjajahan Belanda di Indonesia, A Djong kemudian dipanggil oleh orang tuanya yg menetap di Semarang & diminta segera menikah dengan seorang gadis bernama Auw Yang Ien Nio, warga Kampung Gabahan Lengkong Buntu, Semarang.
Untuk menghidupi keluarganya pada masa kolonial Belanda di Indonesia, Khong A Djong yg juga memiliki keahlian meracik obat-obatan tradisional ini kemudian memproduksi minuman beralkohol yg diberi nama A Djong.
Minuman ini sempat populer pada tahun 1960an hingga 1980an. Bahkan saking terkenalnya, di kalangan anak muda Kota Semarang kala itu, sempat ada istilah ndoyong Ajong atau mabuk Ajong untuk menyebut orang yg berperilaku kurang normal seperti orang mabuk.
Sejarah Congyang tak terlepas dari minuman A Djong ini, karena merupakan evolusi dari minuman beralkohol A Djong.
Pada era 1960-1970-an, merk A Djong ini jadi minuman alkohol terkenal di Semarang dengan kadar alkohol 35 persen.
Namun seiring berjalannya waktu, minuman A Djong kian lama ditinggalkan karena rasanya yg dinilai terlalu panas, mirip seperti arak China. Rasa A Djong bagi para konsumen di Semarang dirasa kurang bersahabat di lidah, tenggorokan, & perut mereka. Hal inilah yg kemudian menyebabkan A Djong berangsur-angsur makin meredup.
Dan sekitar 1980an, kejayaan A Djong benar-benar pudar & lambat laun mulai tidak laku. Karena persoalan inilah muncul perkembangan baru dalam bentuk Congyang pada tahun 1980-an.
Racikan Congyang kemudian mulai diproduksi & dilempar ke pasaran. Ternyata pergulatan Koh Tiong dalam mengkreasikan minuman A Djong jadi Congyang mendapatkan antusiasme dari masyarakat Kota Semarang.
Congyang pun mulai beredar sekitar 1980-an silam. Sejak awal minuman ini memang diproduksi massal sebagai komuditas dagang. Jadi berbeda dengan ciu atau arak & minuman tradisional lain di Indonesia yg diproduksi sebagai tradisi yg mengakar di masyarakatatau kultural.
Congyang kali perdana diproduksi di sebuah rumah, tepatnya di sebelah Klenteng Siu Hok Bio yg berada di Jalan Wotgandul, kawasan Pecinan Semarang.
Distribusi awalnya dikemas mengpakai besek yg terbuat dari bambu. Di dalamnya diberi pengaman dari dami atau pohon padi yg sudah kering supaya botol tidak mudah pecah bila terbentur.
Pada kemasan botol tertulis Cong Yang dengan gambar logo anak kecil diapit raja & ratu.
Pada tahun 1985 nama minuman ini dipatenkan jadi Cap Tiga Orang.
Hingga kini Cap Tiga Orang diketahui luas dengan istilah Congyang. Bagi para penikmatnya, Congyang merupakan air kedamaian, air kata-kata yg rasanya manis & menghangatkan.
Namun sebenarnya ramuan yg terkandung pada Congyang, diracik secara spesifik oleh Koh Tiong untuk meningkatkan kejantanan atau keperkasaan bagi lelaki, dengan takaran spesifik yakni 1 sloki (gelas kecil).
Konsumsi Congyang yg sesuai dengan aturan, menurut pembuatnya akan berkhasiat untuk melancarkan peredaran darah & menciptakan otot serta saraf jadi rileks. Konsumsinya tidak boleh melebihi takaran karena kalau melebihi dosis, maka minuman ini dapat memabukkan hingga menyebabkan seseorang jadi hilang ingatan.
Berubah Fungsi
Congyang yg pada esensinya adalah jamu kesehatan, pada perjalanannya banyak dikonsumsi secara berlebihan oleh para konsumennya. Untuk mengantisipasi hal-hal yg tidak diharapkan, maka pemerintah menciptakan kebijakan dengan memasukkan minuman ini dalam kategori minuman beralkohol golongan B, karena di dalamnya memiliki kandung alkohol sebesar 19.5%.
Peredaran minuman ini kemudian harus dilakukan dalam supervisi yg ketat.
Sayangnya, dalam upaya penelusuran sejarah minuman Congyang di industri pembuatnya, halosemarang.id gagal memperoleh informasi dari pemilik CV Tirta Waluyo.
Wakil keluarga CV Tirto Waluyo yg coba dihubungi, enggan memberikan informasi terkait sejarah & perkembangan produksi Congyang saat ini.
Namun dari referensi yg didapat dari banyak sumber, ada yg mengatakan bahwa mengatakan Congyang adalah serapan dari bahasa Hokkian yg berarti Mawar Merah.
Padahal dalam bahasa Hokkian mengatakan Chong sendiri berarti Maju & Yang sendiri tidak memiliki pemaknaan Mawar ataupun Merah (Hngs).
Namun lepas dari itu, keunikan rasa Congyang sudah jadi bentuk asimilasi dua budaya, yakni etnis Jawa & Tionghoa.
Di pasaran, Congyang dijual dalam dua tipe kemasan botol akbar & botol kecil. Label gambarnya khas yakni orang tua yg diapit oleh dua perempuan. Oleh karena itu pada labelnya ada tulisan Cap Tiga Orang.
Meski termasuk minuman keras, namun tahun 2010, Congyang dilegalkan sebagai produk komoditi.
Saat ini, produksi Congyang dilakukan di daerah Kaligawe Semarang.
Menurut sumber yg diperoleh halosemarang.id, sejak awal, perusahaan ini sudah memiliki izin produksi. Tetapi baru mengpakai cukai resmi mulai 2005 silam.
Meski laris manis, produksi Congyang saat ini sudah dibatasi, yakni setiap hari cuma memproduksi 1.000 dus. Setiap satu dus berisi 24 botol.
Kemasan dus tersebut kemudian diedarkan melalui distributor. Harga eceran per botol seharga Rp 30 ribu hingga Rp 40 ribu.
Tetapi kalau di tempat hiburan malam seperti di tempat karaoke dapat mencapai Rp 50 ribu per botol kecil.
Wilayah edarnya cuma di sekitar wilayah Kota Semarang saja. Meski penyebarannya cuma di warung-warung tradisional, namun nama Congyang, diakui atau tidak, sudah terlanjur melegenda sebagai salah satu produk unggulan Kota Semarang.
Sumber
Terimakasih gan, semoga informasi yg ane dapatkan, & share ke agan agan bermanfaat
Spoiler for Boleh dong mampir di thread ane lainnya:
suka duka jaga warung
Lentog Tanjung masakan khas kota Kudus
mengulas album SLAYER
Guns N' Roses - The Spaghetti Incident
Himbauan Sunan Kudus Untuk Tidak Menyembelih Sapi
Evolusi Kartun Tom & Jerry
Momen Keberhasilan Squidward
Quote:
abis baca dont forget
Quote:
boleh juga di lempar
Quote:
jangan di timpuk
Sekian & terimakasih