Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
Diselingkuhi itu menyakitkan. Pengkhianatan terbesar dalam komitmen sayang berumah tangga. Respon orang yg diselingkuhi tentu tidak terima, marah & bahkan ada yg membalas dengan mengerjakan hal serupa.
Kemudian muncul pertanyaan menarik. Apakah pembalasan ini dapat disebut adil? Sebagian orang pada umumnya akan menilai itu adil. Seperti mencubit dibalas dengan mencubit balik. Memukul dibalas dengan pukulan. Diberi kesakitan bernilai 96 ya perlu dibalas dengan rasa sakit bernilai 96 pula. Dia yg berselingkuh harus merasakan betapa sakitnya diselingkuhi. Pemikiran seperti ini muncul karena memandang arti 'adil' seperti di KBBI yakniharus sama berat, tidak berat sebelah & tidak memihak. Seperti timbangan bebek.
Namun sayang kadang kita lupa bahwa mengatakan 'adil' di dalam KBBi juga punya arti lain yakniberpihak kepada yg benar; berpegang pada kebenaran. Seperti yg kita tahu bahwa berselingkuh, mengerjakan hubungan suami istri dengan pasangan tidak halal jelas merupakan perbuatan dosa akbar & tidak dibenarkan oleh agama manapun. Membalas selingkuh dengan selingkuh itu sama saja seperti membersihkan kotoran dengan kotoran. Bukannya selesai masalah & jadi bersih, malah yg ada adalah kotorannya makin banyak.
Terus apa yg harus dilakukan kalau diselingkuhi pasangan?
Ini pertanyaan sulit & semoga kita tidak pernah dalam keadaan sulit ini.Yang pasti membalas selingkuh dengan selingkuh jelas bukan opsi yg adil & bijak untuk menyelesaikan masalah. Yang ada malah tambah masalah.
Ada baiknya kita cari tahu dulu alasan pasangan berselingkuh. Kalau ternyata ada faktor karena kita. Misal terlalu sibuk dengan pekerjaan sehingga istri dahaga akan belaian. Atau karena punya sakit pada 'senjata' sehingga tidak dapat memuaskan tetapi malas berobat. Jika karena hal-hal seperti itu kita pun harus tahu diri. Kebutuhan biologis itu bersifat mendesak gan. Terlebih bagi yg sudah pernah merasakan nikmatnya nganu-nganuan. Bukan bermaksud mencari pembenaran perselingkuhan, apapun alasannya perbuatan semacam itu tidak dapat dibenarkan. Di sini TS sekadar menyampaikan kalau faktor pemicu perselingkuan karena kita maka sepertinya pantas kita memberikan kesempatan kedua & kita pun wajib berusaha memperbaiki diri.
Tapi kalau semua kebutuhan pasangan baik lahir maupun batin sudah terpenuhi & dia masih selingkuh, ya keputusan ada pada diri kita masing-masing. Kalau dirasa sanggup memaafkan & membuka lembaran baru itu lebih baik. Tapi kalau nanti malah akan terus-terusan berteman dengan rasa sakit ketika mengingat apa yg sudah dilakukan pasangan, ya lepaskan saja. Buka lembaran baru bersama orang yg dapat lebih menghargai arti ikatan sayang.
Sekian sudut pandang TS. Ada yg punya pendapat lain?
Oh ya jangan lewatkan tentang anak. Anak yg kedua orang tuanya bercerai akan jadi korban, kurang perhatian & kasih sayang. Meninggalkan lubang kepedihan di dalam hatinya.
sumber ilustrasi
Sumber ilustrasi2 Hari ini 16:19
Kemudian muncul pertanyaan menarik. Apakah pembalasan ini dapat disebut adil? Sebagian orang pada umumnya akan menilai itu adil. Seperti mencubit dibalas dengan mencubit balik. Memukul dibalas dengan pukulan. Diberi kesakitan bernilai 96 ya perlu dibalas dengan rasa sakit bernilai 96 pula. Dia yg berselingkuh harus merasakan betapa sakitnya diselingkuhi. Pemikiran seperti ini muncul karena memandang arti 'adil' seperti di KBBI yakniharus sama berat, tidak berat sebelah & tidak memihak. Seperti timbangan bebek.
Namun sayang kadang kita lupa bahwa mengatakan 'adil' di dalam KBBi juga punya arti lain yakniberpihak kepada yg benar; berpegang pada kebenaran. Seperti yg kita tahu bahwa berselingkuh, mengerjakan hubungan suami istri dengan pasangan tidak halal jelas merupakan perbuatan dosa akbar & tidak dibenarkan oleh agama manapun. Membalas selingkuh dengan selingkuh itu sama saja seperti membersihkan kotoran dengan kotoran. Bukannya selesai masalah & jadi bersih, malah yg ada adalah kotorannya makin banyak.
Terus apa yg harus dilakukan kalau diselingkuhi pasangan?
Ini pertanyaan sulit & semoga kita tidak pernah dalam keadaan sulit ini.Yang pasti membalas selingkuh dengan selingkuh jelas bukan opsi yg adil & bijak untuk menyelesaikan masalah. Yang ada malah tambah masalah.
Ada baiknya kita cari tahu dulu alasan pasangan berselingkuh. Kalau ternyata ada faktor karena kita. Misal terlalu sibuk dengan pekerjaan sehingga istri dahaga akan belaian. Atau karena punya sakit pada 'senjata' sehingga tidak dapat memuaskan tetapi malas berobat. Jika karena hal-hal seperti itu kita pun harus tahu diri. Kebutuhan biologis itu bersifat mendesak gan. Terlebih bagi yg sudah pernah merasakan nikmatnya nganu-nganuan. Bukan bermaksud mencari pembenaran perselingkuhan, apapun alasannya perbuatan semacam itu tidak dapat dibenarkan. Di sini TS sekadar menyampaikan kalau faktor pemicu perselingkuan karena kita maka sepertinya pantas kita memberikan kesempatan kedua & kita pun wajib berusaha memperbaiki diri.
Tapi kalau semua kebutuhan pasangan baik lahir maupun batin sudah terpenuhi & dia masih selingkuh, ya keputusan ada pada diri kita masing-masing. Kalau dirasa sanggup memaafkan & membuka lembaran baru itu lebih baik. Tapi kalau nanti malah akan terus-terusan berteman dengan rasa sakit ketika mengingat apa yg sudah dilakukan pasangan, ya lepaskan saja. Buka lembaran baru bersama orang yg dapat lebih menghargai arti ikatan sayang.
Sekian sudut pandang TS. Ada yg punya pendapat lain?
Oh ya jangan lewatkan tentang anak. Anak yg kedua orang tuanya bercerai akan jadi korban, kurang perhatian & kasih sayang. Meninggalkan lubang kepedihan di dalam hatinya.
sumber ilustrasi
Sumber ilustrasi2 Hari ini 16:19