Pendaratan Asyik habis Ujian
Enak Bertapa di Rumah
Hidup itu mahal. Sekarang semuanya pasti pakai harga. Entah itu harga yang dibayar pakai uang ataupun harga yang harus dibayar dengan pengorbanan.
Coba tengok ensiklopediamu. Cari nama Thomas Alva Edison, Albert Einstein, dan Alexander Graham Bell. Semua tokoh dunia itu harus membayar mahal kemasyhuran nama mereka dengan pengorbanan. Ada yang dicap bodoh, tidak waras, bahkan dianggap tidak kompeten.
Namun, pengorbanan mereka tidak sia-sia. Terbukti, semua karyanya menjadi cikal bakal teknologi supercanggih abad ini. Nah, pengorbanan seperti itulah yang dilakukan 59,6 persen respondet saat ujian. Tidak seperti pulang sekolah biasanya yang bisa diisi dengan main, saat ujian, sepulang sekolah harus langsung ke rumah. Kenapa? Istirahat (49,6 persen) atau langsung belajar (15,7 persen).
Satu di antara responDet-responDet pejuang tersebut adalah Pipit Dwi Arisnawati. Demi mendapat nilai memuaskan, pelajar SMP Kemala Bhayangkari 1 ini rela mengurangi jam bermain.
"Habis ujian kan pasti stres tuh. Harus tidur dulu biar nanti belajarnya lebih enak," ujar Pipit. Kebiasaan itu mendapat dukungan penuh orang tuanya. "Mereka ngerti kok, kalau siangnya aku tidur, pas malam belajarnya jadi lebih semangat," terangnya.
Kebiasaan tidur siang sehabis ujian juga dilakoni Kevin Albertus Hidayat. Cowok 13 tahun asal SMP Santo Stanislaus 2 ini rela menghapus semua agenda nongkrong bareng teman yang biasa dilakukannya. "Selama musim ujian, bisa dipastikan aku jadi anak rumahan. Pulang ujian, nggak ada acara mampir-mampir dulu," cuapnya.
Dengan begitu, Kevin merasa lebih siap "berperang" melawan soal-soal ujian keesokan harinya. "Badan dan pikiran fresh, saat menjawab soal jadi lebih lancar. Sip lah pokoknya," imbuh Kevin.
Dari Kevin, beralih ke Hazizul Hakim. Pelajar SMA GIKI 2 ini memilih cara berbeda, yaitu menambah waktu belajar.
Kebetulan, dia termasuk tipe yang nggak bisa belajar dalam suasana gaduh. So, hanya rumahlah tempat yang pas. "Enak, di rumah kan sepi. Jadi, belajar bisa lebih konsen," tutur penyuka warna hitam itu.
Enak Bertapa di Rumah
Hidup itu mahal. Sekarang semuanya pasti pakai harga. Entah itu harga yang dibayar pakai uang ataupun harga yang harus dibayar dengan pengorbanan.
Coba tengok ensiklopediamu. Cari nama Thomas Alva Edison, Albert Einstein, dan Alexander Graham Bell. Semua tokoh dunia itu harus membayar mahal kemasyhuran nama mereka dengan pengorbanan. Ada yang dicap bodoh, tidak waras, bahkan dianggap tidak kompeten.
Namun, pengorbanan mereka tidak sia-sia. Terbukti, semua karyanya menjadi cikal bakal teknologi supercanggih abad ini. Nah, pengorbanan seperti itulah yang dilakukan 59,6 persen respondet saat ujian. Tidak seperti pulang sekolah biasanya yang bisa diisi dengan main, saat ujian, sepulang sekolah harus langsung ke rumah. Kenapa? Istirahat (49,6 persen) atau langsung belajar (15,7 persen).
Satu di antara responDet-responDet pejuang tersebut adalah Pipit Dwi Arisnawati. Demi mendapat nilai memuaskan, pelajar SMP Kemala Bhayangkari 1 ini rela mengurangi jam bermain.
"Habis ujian kan pasti stres tuh. Harus tidur dulu biar nanti belajarnya lebih enak," ujar Pipit. Kebiasaan itu mendapat dukungan penuh orang tuanya. "Mereka ngerti kok, kalau siangnya aku tidur, pas malam belajarnya jadi lebih semangat," terangnya.
Kebiasaan tidur siang sehabis ujian juga dilakoni Kevin Albertus Hidayat. Cowok 13 tahun asal SMP Santo Stanislaus 2 ini rela menghapus semua agenda nongkrong bareng teman yang biasa dilakukannya. "Selama musim ujian, bisa dipastikan aku jadi anak rumahan. Pulang ujian, nggak ada acara mampir-mampir dulu," cuapnya.
Dengan begitu, Kevin merasa lebih siap "berperang" melawan soal-soal ujian keesokan harinya. "Badan dan pikiran fresh, saat menjawab soal jadi lebih lancar. Sip lah pokoknya," imbuh Kevin.
Dari Kevin, beralih ke Hazizul Hakim. Pelajar SMA GIKI 2 ini memilih cara berbeda, yaitu menambah waktu belajar.
Kebetulan, dia termasuk tipe yang nggak bisa belajar dalam suasana gaduh. So, hanya rumahlah tempat yang pas. "Enak, di rumah kan sepi. Jadi, belajar bisa lebih konsen," tutur penyuka warna hitam itu.