Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
Terinspirasi dari foto-foto meme tentang mudik yg Ane temukan di Facebook, Ane terpikir untuk menulis thread tentang Jalan Tikus untuk mudik ini. Sebab dalam pemikiran Ane, meme itu bukan sekadar lelucon belaka, melainkan memang fakta di lapangan yg Ane saksikan, menunjukkan bahwa semakin dilarang mudik, warga semakin antusias mencari jalan alternatif untuk 'Menuju Rumah'. Jadi, benar mengatakan bung Haji Oma Irama, 'Banyak Jalan Menuju Rumah' (Rumah apa Roma, ya? Kaga jelas denger lagunya.
Emang, semenjak wabah corona menyerang negeri ini, pemerintah (pusat & daerah tertentu) melarang warga untuk mudik ke wilayahnya. Hal ini tentu saja akan mengurangi 'nilai kesakralan' Ramadan bagi para perantau yg harap menginjakkan kaki di tanah leluhur atau kelahirannya, berbagi 'angpao' bagi sanak sodara di kampung, atau sekadar dapat sekilas memandang paras mantan kekasih.
Karena itu, larangan mudik tidak mengurangi animo & semangat juang mereka untuk dapat hingga di kampung halaman. Jika satu jalan ditutup, maka mereka akan mencari jalan atau cara lainnya, sehingga sering saja ada Jalan Tikus supaya dapat hingga ke tempat tujuan.
Lebaran kali ini tidak jauh beda dengan tahun sebelumnya, khususnya di wilayah Ane, Kalimantan Selatan. Meski belum ada larangan mudik secara resmi dari pemerintah daerah, namun posko-posko kesehatan & kelancaran lalu lintas dari Dinas Kesehatan & Kepolisian sudah mulai disiagakan pada beberapa titik strategis pada setiap kabupaten dan batas kota. Pada posko inilah biasanya petugas melaksanakan razia kepada warga yg harap mudik.
Dengan alasan tak harap perjalanan terganggu, apalagi hingga disuruh putar balik, maka warga lebih memilih jalur alternatif untuk menghindari razia tersebut. Meski katanya tak ada jalan tikus yg dapat menciptakan mereka lolos, nyatanya mereka masih dapat berada di kampung halaman.
Lantas, bagaimana mereka dapat melewati posko-posko pemeriksaan tersebut? Menurut pengamatan & "penerawangan" Ane, inilah jalan tikus & cara mereka melewatinya.
1. Jalan Desa
Setiap jalan raya, pasti ada jalan desa yg lebih kecil sebagai jalan alternatif penghubung antar desa & wilayah. Bahkan ada jalan yg lebih sempit yg biasa diketahui dengan nama Gang. Nah melalui jalur inilah para pemudik melewati posko pemeriksaan. Namun sebelum memilih jalan ini, tentunya pemudik mempelajari dulu tentang jalan tersebut supaya tidak tersesat, atau menemui jalan buntu. Mereka mencari informasi sebanyak-banyaknya sebelum mudik tentang letak razia & jalan alternatif tersebut.
2. Berhenti Sebelum Posko
Jika pada semua jalan tikus ternyata juga ada aparat yg menjaganya, maka para pemudik biasanya berhenti sebelum posko penjagaan. Mereka istirahat di tempat ibadah atau di rumah warga setempat kalau diizinkan, menunggu hingga jam penjagaan posko juga istirahat/selesai. Tak mungkin petugas berjaga selama 24 jam, meski dengan sistem rolling shift. Nah di saat tak ada penjagaan inilah, para pemudik melanjutkan perjalanannya.
3. Pakai Joki
Jika memang posko dijaga selama 24 jam, maka pemudik akan meminta jasa warga setempat untuk membonceng dia. Maka saat diperiksa, sang joki dapat beralibi bahwa dia adalah penduduk setempat dengan menunjukkan KTP & mengatakan tidak pergi ke luar daerah. Masalah uang jasa, tentu tergantung kesepakatan mereka.
4. Membawa Surat Keterangan Bebas Covid
Ini tentu bagi yg berduit & tak harap repot. Dia akan mengerjakan Rapid Test atau Swab & menunjukkan hasilnya kepada petugas kalau ia benar-benar sehat, sehingga dapat d..iizinkan untuk mudik ke tempat tujuan. Atau setidaknya membawa Surat Keterangan dari Ketua RT atau Kepala Desa yg menerangkan tentang keperluannya mudik yg bersifat mendesak, misalnya orang tuanya wafat di kampung. Menurut Ane, ini sangat langka. Mungkin dari 100 pemudik, cuma maksimal 10% yg mengerjakan ini.
Meski ini cara legal (bukan jalan tikus), namun terkadang ada saja yg memalsukan surat tersebut, yg penting dapat mudik.
Itulah beberapa cara & jalan tikus warga untuk mudik lebaran. Kakau Ane sih lebih milih kirim uang biaya mudik itu untuk keluarga di kampung, ketimbang maksa mudik tetapi pas mau balik malah minta duit sama keluarga di kampung.

***
Diolah dengan pemikiran sendiri. Sumber foto di sini.