• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

Sekolah Elit tapi Parkiran Irit!

  • Pembuat thread awal. Pembuat thread awal. Angela
  • Tanggal Mulai Tanggal Mulai

Angela

IndoForum Pro E
No. Urut
88
Sejak
25 Mar 2006
Pesan
45.487
Nilai reaksi
35
Poin
0
Sekolah Elit tetapi Parkiran Irit!


Penulis: Angga Prasetyo
Editor: Asri Candra Wanodya


Cangkeman.net -Ketika keluar rumah untuk menyelesaikan suatu urusan anggaplah bekerja, tiba di rumah merupakan sesuatu yg harap segera dicapai. Tidak adanya halangan saat di perjalanan pun jadi asa untuk cepat hingga rumah, namun terkadang kendala itu muncul seperti diakibatkan adanya sekolah elit yg berada di depan jalan sehingga jadi tersendat.

Kebetulan hampir setiap hari melewati jalan tersebut. Karena satu arah & memang jalan ini yg harus saya lewati untuk tiba di rumah, harus ekstra sabar saat berada di area tersebut. Ada kalanya juga timbul kejengkelan saat melihat kendaraan mengular akibat mobil-mobil yg bertugas mengantar-jemput siswa sekolah elit itu. Memakan separo badan jalan. Ngomong-ngomong soal jalan, tidaklah terlalu lebar tetapi termasuk letak yg cukup sibuk. Banyak kendaraan dengan berbagai ragam ukuran mengpakai jalan itu. Jika terdapat satu dua bus atau truk yg lewat, dipastikan kemacetan semakin menjadi.

Penyebab utama dari kemacetan yg terjadi saya pikir pihak sekolah atau yayasan tersebut tidak mempunyai lahan parkir yg semestinya fasilitas ini wajib disediakan. Sudah tahu sekolah elit, anggapan yg ada di benak pengguna jalan biasa pasti setiap siswa akan dijemput permobil satu siswa satu mobil. Karena tidak mempunyai lahan parkir, pengguna jalan biasa jadi korban.

Memang kalau melihat secara biasa berdirinya sekolah di depan jalan, baik sekolah elit ataupun bukan akan berpotensi menimbulkan kemacetan. Hanya saja, sejauh ini saya tidak pernah menemukan jalanan jadi sangat tersendat di depan sekolah biasa alias yg bukan elit. Sudah banyak yg antar-jemput, pintu keluar-masuk berada di area yg sama. Suasana jalan semakin panas & ribut. Belum lagi petugas parkir atau satpam yg sering saya lihat lebih memprioritaskan kendaraan keluar-masuk ke sekolah tersebut. Pada akhirnya, kemacetan betul-betul tak terhindarkan.

Hal lain yg tak kalah menarik tertangkap di mata saya itu adanya himbauan berupa spanduk yg dikeluarkan kepolisian setempat dengan stempel dari sekolah itu yg berbunyi: Selain penjemput siswa sekolah, mohon mengambil lajur kanan. Bagi saya, seakan-akan pihak kepolisian setempat pun tahu akar penyebab kemacetan di sana, namun tidak sanggup berbuat banyak. Saya pun sejauh ini tidak pernah melihat petugas kepolisian turut menolong mengentaskan kemacetan di letak yg biasa terjadi saat pulang sekolah. Oh, kondisi ini tidak cuma di satu waktu saja. Bisa jadi, sekolah tersebut menerapkan sistem pulang sekolah yg berbeda setiap tingkat.

Mengapa nggak lewat setelah anak-anak pulang sekolah? Mungkin ada yg bertanya begitu. Pengguna jalan sudah pasti punya alasan tersendiri. Misalkan, bagi kaum pekerja yg seharian sudah berkutat dengan tanggung jawab rasanya harap segera beristirahat di rumah, sama halnya dengan pejalan lain untuk segera tiba di tempat tujuannya. Saya pikir, hal semacam ini juga salah satu dari sekian hal yg kurang disadari oleh seluruh jajaran sekolah tersebut. Berhubung jalan itu tempat umum, setiap orang pun pasti punya kepentingannya masing-masing. Namun, yg mereka lakukan malah seakan-akan minta dimaklumi demi kepentingan sendiri.

Timbul pertanyaan, Apakah pantas fenomena semacam ini dianggap lumrah?

Jawaban yg paling simpel tentu saja tidak dapat dianggap lumrah. Hal ini bagi saya dilandaskan pada sebuah pemikiran, bahwa kepentingan pihak tertentu malah mengorbankan kepentingan orang lain. Jalanan merupakan salah satu contoh fasilitas umum. Namanya fasilitas biasa sudah pasti dipakai banyak pihak, bukan satu pihak semata. Tak punya fasilitas yg semestinya wajib dipunyai yakni lahan parkir, pengguna jalan lain kok seakan-akan harus memaklumi kekurangan yg dipunya. Apa itu tidak sombong namanya?

Arogan merupakan suatu sikap yg mesti dihindari. Dalam fenomena ini, seakan-akan dibiarkan tumbuh & berkembang dilingkungan pendidikan. Adanya suatu kesalahan yg dibiarkan begitu saja & berharap supaya orang lain memaklumi tanpa adanya upaya membenahi diri juga merupakan sikap yg tak pantas dalam lingkungan pendidikan. Apakah pantas & diperbolehkan kalau instansi pendidikan mengajarkan sedari dini pada siswa, bahwa merugikan pejalan lain dengan sengaja menyebabkan kemacetan jadi sikap yg dianggap biasa? Tentu saja tidak boleh begitu.

Hal lain yg tak kalah menarik berdasarkan fenomena ini menurut saya adalah, adanya unsur ketidaksengajaan dari pihak sekolah untuk tidak mempedulikan kondisi sekitar. Iya, saya paham. Sekolah elit pasti punya kurikulum pendidikan yg luar biasa. Dari kurikulum tersebut ada asa supaya peserta didik jadi sosok yg luar biasa, setidaknya pintar secara akademik. Namun buat saya jadi tidak berguna kalau tidak diseimbangkan dengan nalar bersosial yg baik. Nalar semacam ini yg menentukan bagus/tidaknya seseorang dalam memahami hingga membentuk suatu perilaku saat berada di lingkungan sosial-masyarakat.

Apalagi kalau ditambah melihat kondisi masyarakat kita. Bagi saya, orang Indonesia lebih mengedepankan harmonisasi daripada individualisasi. Apa pun yg hendak dilakukan atau sekedar baru dipertimbangkan dalam pikiran, pasti memasukan unsur orang lain sebelum memutuskan. Cara bagaimana mengerjakan hubungan yg serasi kepada berbagai pihak, dapat dikatakan sebagai kemampuan yg cukup penting. Kalau tidak segera diajarkan, atau malah menunjukan sikap eksklusif, justru menciptakan hubungan yg ada semakin runyam. Saya pun juga melihat review dari netizen tentang sekolah ini. Banyak mengeluhkan kemacetan yg terjadi. Namun sejauh ini, belum ada solusi dari pihak sekolah, hal ini merupakan penerapan contoh yg baik dari sikap eksklusif.

Sekolah elit tetapi parkiran irit. Memang sebuah kalimat nyinyiran untuk menggambarkan betapa arogan, ketidakpedulian, tak mau bertanggung jawab atas keterbatasan lahan parkir, yg menyebabkan jalanan macet. Malah mengorbankan pengguna jalan lain demi kepentingannya sendiri. Sungguh, fenomena macam ini sangat tidak pantas dilakukan instansi pendidikan. Katanya pendidikan merupakan solusi untuk mencerdaskan bangsa, kok malah begitu? Suatu instansi pendidikan malah tidak memberikan contoh yg baik.


Tulisan ini ditulis diCangkemanpada tanggal 29 November 2022. Hari ini 18:38
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.