• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

Sekilas tentang Istana Bogor

  • Pembuat thread awal. Pembuat thread awal. kis
  • Tanggal Mulai Tanggal Mulai

kis

IndoForum Junior E
No. Urut
281032
Sejak
23 Mei 2013
Pesan
1.661
Nilai reaksi
36
Poin
48
Ini tujuan Belanda bangun Istana Bogor
4brWo.jpg
Istana Bogor awalnya bernama Buitenzorg yang artinya bebas dari masalah atau kekhawatiran. Begitulah tujuan awal dibangunnya Istana Bogor, yaitu sebagai tempat peristirahatan untuk melepas penat.

Mungkin tak pernah terpikir oleh Gustaaf Willem Barron Van Imhoff kalau tempat peristirahatan yang dia bangun kini menjadi salah satu tempat vital bangsa Indonesia. Istana Bogor yang kini dijadikan tempat berkantor Presiden Joko Widodo ( Jokowi) dahulunya dibangun oleh Gubernur Jenderal Belanda tersebut hanya sebagai tempat untuk bersantai melepas penat.

Bangunan megah kebanggaan warga Bogor ini dibangun pada masa penjajahan kolonial Belanda pada abad ke 18. Dirancang dengan bentuk pesanggrahan, bangunan ini awalnya bernama Buitenzorg, yang artinya bebas masalah atau bebas kekhawatiran.

Sesuai dengan namanya, Gustaaf memang membangun pesanggrahan tersebut agar bisa menghindar sejenak dari panasnya pusat pemerintahan di mana dia bekerja. Jakarta yang dulunya bernama Batavia merupakan pusat pemerintahan Belanda yang ternyata sudah terasa terlalu panas untuk orang Belanda. Maka Gubernur Jenderal yang memerintah waktu itu berinisiatif untuk mencari tempat lain lebih teduh dan sejuk yang bisa dijadikan tempat peristirahatan.

Setelah melakukan inspeksi, akhirnya anak buah Gustaaf menemukan tempat yang strategis di daerah Cianjur, Jawa Barat. Tempat inilah bernama Bogor yang akhirnya dipilih Gustaaf untuk membangun tempat peristirahatan. Tepatnya pada bulan Agustus tahun 1744, Gustaaf membangun sebuah pesanggrahan yang modelnya ia tiru dari bangunan Blainheim Palace di Oxford, Inggris. Dalam sejarahnya Blainheim Palace ini merupakan tempat kediaman Duke of Malborough, nenek moyang Princes Wale Lady Diana.

Selain untuk nama pesanggrahan, Buitenzorg juga menjadi nama untuk perkampungan di sana. Kemungkinan nama Bogor merupakan adaptasi dari nama Buitenzorg. Dinamai Istana Bogor, sejak bangunan ini diambil alih oleh pemerintah Indonesia pada tahun 1950. Bentuk dan luas bangunan Buitenzorgh memang mengalami perkembangan seiring berjalannya waktu. Utamanya pada era masuknya Inggris di bawah pemerintahan Herman Willem Daendles dan Sir Stamford Raffles. Dari yang awalnya hanya sebuah pesanggrahan, Buitenzorgh berubah menjadi bangunan Istana Paladian.

Istana ini pernah rusak berat akibat meletusnya Gunung Salak. Sekitar tahun 1850, seorang Gubernur Jenderal bernama Albertus Jacob membangun kembali Istana Bogor. Hingga pada tahun 1870, istana ini dijadikan tempat kediaman resmi Gubernur Jenderal Hindia Belanda. Orang Belanda yang terakhir menghuni adalah Gubernur Jenderal Tjarda van Starkenborg hingga direbut oleh pemerintah Jepang. Tahun 1950, pemerintah Indonesia mengambil alih istana tersebut dan secara resmi menjadikannya sebagai salah satu istana kepresidenan Republik Indonesia.

Di era pemerintahan Soekarno, Istana Bogor masih digunakan sebagai tempat peristirahatan. Soekarno menjadikan Istana Bogor sebagai tempat rehat dan bercumbu mesra dengan istri-istri dan anak-anaknya. Barulah pada masa pemerintahan Soeharto, tempat ini mulai digunakan untuk urusan pemerintahan. Soeharto pernah mengadakan pertemuan APEC (Asia-Pasific Economy Cooperation) di Istana Bogor pada tanggal 15 November 1994.
V49au.jpg
Presiden Abdurrahman Wahid juga pernah memilih Istana Bogor untuk tinggal dan berkantor, Dia sering menjamu tamu-tamu negara di sana. Pada masa pemerintahan Megawati pernah mengadakan pesta untuk memeriahkan kemerdekaan RI yang ke 57. Presiden Amerika George Walker Bush juga pernah berkunjung ke Istana Bogor saat SBY masih menjabat presiden. Kini, presiden ke 7 Jokowi juga telah memilih Istana Bogor sebagai tempatnya tinggal sekaligus berkantor mengurusi urusan pemerintahan.

5AcC.jpg
Era Soekarno, Istana Bogor jadi tempat rehat dan melepas rindu

Di era Soekarno, Istana Bogor menjadi tempat presiden RI pertama ini untuk rehat melepas lelah dan penat. Di sana pula tempat ia melepas rindu dan bercumbu mesra dengan istri dan anaknya.

Wajah Hartini nampak heran saat melihat suaminya, Soekarno, kembali ke istana pada waktu yang tidak biasa. Helikopter yang dinaiki Soekarno mendarat di lapangan Istana sekitar pukul 11.00 siang. Waktu yang tidak biasa bagi Hartini melihat Soekarno datang ke istana menjelang tengah hari. Presiden RI pertama itu memang rutin mendatangi Istana Bogor setiap hari Jumat untuk istirahat dan bertemu istri-istrinya. Soekarno biasanya menginap dan kembali ke Istana Merdeka di Jakarta pada Senin pagi.

Kok, siang-siang begini datang, biasanya kan sore, pikir Hartini sambil keluar paviliun menyambut suami kebanggaannya.

Soekarno baru saja terbang dari Jakarta bersama ajudan dan pengawalnya Brigjen Sabur yang juga merupakan Komandan Resimen Cakrabirawa (satuan pengawal presiden). Sambil berjalan menuju paviliun, Soekarno menampakkan wajah yang tidak ceria. Ada raut kecewa bercampur khawatir di mimik mukanya. Ia masih memakai pakaian khas negarawan: peci, seragam presiden abu-abu, dan tak lupa tongkatnya.

Pagi-pagi kok sudah ada di Bogor, Mas? tanya Hartini yang masih heran dengan sikap dan mimik wajah Soekarno yang tidak seperti biasanya.

Tien, keadaan genting, jawab Soekarno seraya berjalan menuju kamar. Ia kemudian berganti pakaian, salat zuhur dan makan siang.

Hari itu, Jumat tanggal 11 Maret 1966, memang bukan hari yang menggembirakan bagi Soekarno. Kedatangannya di Istana Bogor lebih awal dari biasanya bukan tanpa alasan. Ia baru saja meninggalkan rapat kabinet di Istana Merdeka Jakarta. Rupanya rapat kabinet yang ia gelar tidak berjalan mulus. Jakarta sedang ricuh hingga terasa panas dirasa Soekarno. Maka, Istana Bogor pun menjadi pelarian saat ia gerah menghadapi hiruk pikuk suasana pemerintahan.

Hartini adalah salah satu istri yang setia dan sangat dicintai Soekarno. Bernama lengkap Siti Suhartini, janda kelahiran Ponorogo-Jawa Timur ini, dinikahi Soekarno pada malam Rabu 7 Juli 1954 di Istana Cipanas. Sebelumya Soekarno sudah menikahi Utari, Inggit, dan Fatmawati. Dengan Utari dan Inggit pernikahan Soekarno tidak bertahan lama. Konon, ada yang mencatat Soekarno telah menikahi sembilan orang istri. Inggit minta cerai saat Soekarno akan menikahi Fatmawati.

Pernikahan Soekarno dengan Hartini merupakan pernikahan yang paling sensasional karena menimbulkan cekcok antara Soekarno dengan Fatmawati. Setelah akad, Soekarno memboyong Hartini ke Istana Bogor. Fatmawati yang sudah tinggal lama lebih dulu di istana nampak cemburu berat melihat kedatangan istri barunya Soekarno. Demi menjaga perasaan Fatmawati, Soekarno membangunkan paviliun khusus untuk Hartati tak jauh dari Istana. Setahun kemudian, Fatmawati memutuskan untuk pindah ke Jalan Sriwijaya, Jakarta Selatan.

Saat keadaan politik dalam negeri kisruh, utamanya di tahun 1966, Soekarno ditinggalkan para pengikutnya. Ia juga digerogoti berbagai penyakit dan menjalani pemeriksaan rutin. Cenderung dikucilkan, Soekarno tidak lagi kelihatan sibuk. Dia lebih banyak menghabiskan waktu di paviliun Istana Bogor bersama anak dan istrinya. Hingga pada tahun 1967, Soeharto memaksa Soekarno dan keluarganya untuk meninggalkan istana dalam waktu 2x24 jam. Soekarno kemudian pindah ke sebuah rumah di kawasan Batutulis, Bogor.

Menggambarkan bagaimana Soekarno di Istana Bogor, Rachmawati (salah satu anak Soekarno) dalam bukunya yang berjudul Bapakku Ibuku, menulis: Hanya di sini (Istana Bogor) Bapak menemukan kembali suasana bersuami istri, semenjak kepergian ibuku dari istana di Jakarta.

2EiZP.jpg
Kisah Supersemar dan Soekarno ngamuk di Istana Bogor

Di balik kemegahannya, Istana Bogor menyimpan sejarah yang dramatis tentang sebuah perpindahan kekuasaan. Turunnya Surat Perintah 11 Maret atau yang dikenal dengan Supersemar menjadi titik balik berkuasanya Soeharto menggantikan Soekarno. Ada tiga jenderal yang ikut berperan mendalangi turunnya Supersemar. Siapa saja tiga jenderal tersebut? Bagaimana kisah dramatis yang terjadi di Istana Bogor waktu itu?

Hari itu, Jumat tanggal 11 Maret 1966, waktu menunjukkan pukul 13.00 di Istana Bogor. Terdengar deru helikopter mendarat di lapangan istana. Ternyata tiga orang jenderal angkatan darat (AD) datang untuk menemui Soekarno. Ada yang mengatakan mereka datang mengendarai jeep yang dikemudikan oleh Brigjen Muhammad Jusuf yang waktu itu menjabat sebagai Menteri Perindustrian. Dua jenderal lainnya, yaitu Mayjen Basuki Rachmat (Menteri Veteran dan Demobilisasi) dan Brigjen Amir Mahmud (Panglima Kodam Jaya).

Soekarno sedang istirahat saat trio jenderal datang. Hari itu memang bukan hari yang menggembirakan bagi Soekarno. Tidak seperti biasanya, dia datang ke Istana Bogor lebih awal. Soekarno pergi meninggalkan rapat kabinet di Jakarta menuju Bogor dengan tergesa-gesa. Brigjen Saboer, pengawal dan ajudan kepercayaan Soekarno, melaporkan adanya kericuhan dan pasukan liar mendekati istana. Padahal sebelumnya, Amir Mahmud yang dipercaya untuk mengamankan rapat, melaporkan situasi dalam kondisi aman.

Kejadian tersebut yang memunculkan inisiatif dari Basuki Rachmat dan Jusuf untuk menemui Soekarno di Bogor. Meskipun kedua menteri ini hadir dalam rapat kabinet di Istana Merdeka, tapi mereka tidak tahu menahu mengenai laporan berbeda hingga memunculkan ketegangan antara Saboer dan Amir Mahmud. Sebelum berangkat ke Bogor, trio jenderal sempat menemui Soeharto di Jalan Haji Agus Salim. Waktu itu Soeharto yang telah diangkat Soekarno sebagai Panglima Pemulihan Keamanan dan Ketertiban, sedang dalam kondisi sakit. Soeharto kemudian mengizinkan ketiganya untuk menemui Soekarno dan menitipkan pesan, Saya bersedia memikul tanggungjawab apabila kewenangan untuk itu diberikan kepada saya untuk melaksanakan stabilitas keamanan dan politik berdasarkan Tritura.

Di balik kedatangan tiga jenderal itu ternyata ada maksud lain. Mereka meminta Soekarno agar memberikan kewenangan penuh kepada Soeharto untuk mengamankan kondisi negara. Berdasarkan pengakuan Lettu Sukardjo, pengawal presiden yang berjaga waktu itu, suasana nampak tegang. Antara tiga jenderal dan Soekarno terlibat adu argumen tentang isi surat kewenangan yang akan diberikan kepada Soeharto. Bahkan Sukardjo mengatakan sempat terjadi todong-todongan senjata antara dirinya dan trio jenderal.

Karena berbagai desakan yang muncul, akhirnya Soekarno menandatangani surat kewenangan untuk Soeharto. Surat itu yang kemudian dikenal dengan nama Surat Perintah 11 Maret (Supersemar) 1966. Berbekal SP 11 Maret, Soeharto setapak melangkah lebih depan menuju kekuasaan. Dia tampil sebagai pahlawan kesaktian Pancasila yang telah membasmi bahaya komunis dari Tanah Air. Maka setahun pasca keluarnya Supersemar, Soeharto mengubah Indonesia dari era Orde Lama menuju era Orde Baru. Tepat pada tanggal 22 Februari 1967, Soekarno menyerahkan nakhoda pemerintahan Indonesia kepada Soeharto.

Setelah runtuhnya kekuasaan Soeharto, banyak yang mengungkap mengenai kisah di balik munculnya Supersemar. Butir-butir di dalam Supersemar ternyata disalahtafsirkan Soeharto sebagai penyerahan wewenang pimpinan pemerintahan. Ada pula yang meragukan mengenai keaslian dari Supersemar yang dipegang Soeharto dengan yang diberikan oleh Soekarno. Salah satu dari trio jenderal itu diduga menyimpan naskah asli Supersemar. Sayangnya, ketiga jenderal tersebut sudah mangkat dan Supersemar yang asli masih menjadi misteri.

Di balik itu semua, Istana Bogor telah menjadi saksi berbagai sejarah yang akan terekam di dinding-dinding bangunan megah itu sepanjang masa. Istana yang seharusnya menjadi pengingat bagi setiap orang yang singgah atau sekadar melihat rusa-rusa cantik di sana. Istana yang dibangun bukan hanya sebagai penghias kota Bogor. Tapi ia sebuah bangunan yang harusnya menyadarkan kita agar jangan pernah melupakan sejarah. Istana Bogor, sebuah istana yang kini dipilih oleh Presiden Jokowi sebagai tempat utama untuk mengatur pemerintahan Indonesia.

x1IzF.jpg
Istana Bogor banyak dihiasi patung telanjang

Tercatat ada sekitar 360 patung di Istana Bogor, Jawa Barat. Sebagian besar dari patung tersebut merupakan patung telanjang.

Untuk orang yang tidak memiliki naluri seni, tentu akan risih ketika berkunjung ke Istana Bogor. Sebab di sana banyak sekali patung-patung yang dibuat dalam kondisi tanpa busana alias telanjang. Saat ada acara tertentu, patung-patung telanjang tersebut ditutupi kain agar tamu-tamu yang datang tidak risih melihatnya. Namun bagi yang mengerti seni, patung-patung tersebut ternyata merupakan karya bernilai tinggi.

Ada sekitar 360 patung yang menghiasi Istana Bogor. Patung-patung tersebut dibuat oleh para seniman ternama baik dari dalam maupun luar negeri. Sebagian termasuk karya yang langka dari maestro dunia. Salah satunya adalah patung Little Mermaid karya seniman Edward Eriksen. Patung putri duyung bertelanjang dada tersebut tengah duduk di atas batu menghadap kolam ikan. Letaknya tak jauh di depan Istana Bogor.
1OYdl.jpg
Menurut keterangan salah satu staf Istana Bogor, Sabtu (21/2) patung Little Mermaid hanya ada tiga buah di dunia. Satu buah berada di Kota Kopenhagen yang dibuat menghadap langsung ke arah laut. Satu buah lagi berada di Denmark yang dibuat pada tahun 1913 dan menjadi ikon negara tersebut. Kemudian satu lagi adalah di Istana Bogor yang bisa dilihat dari Kebun Raya Bogor. Konon, patung yang diadaptasi dari kisah The Little Mermaid karya Hans Christian Anderson ini menjadi patung paling banyak difoto wisatawan di Denmark. Ada lebih dari 5 juta foto tiap tahunnya di sana.

Selain Little Mermaid masih banyak lagi patung-patung wanita telanjang lainnya di Istana Bogor. Bahkan begitu memasuki gedung utama, sudah disambut oleh patung tanpa busana yang menggambarkan kemolekan tubuh seorang wanita. Di halaman utama ada patung wanita yang katanya dikirim langsung dari Beograd, Yugoslavia, sebagai sumbangan Presiden Josep Bross Tito untuk Soekarno. Masih di sekitaran halaman istana, terlihat pula patung wanita dengan sepasang payudara yang menonjol sedang menyisir rambut. Patung tersebut diberi nama Patung Menyisir Rambut karya Struble dari Hongaria.
ULOdS.jpg
Yang tak kalah menarik adalah Patung Denok yang terletak di belakang istana. Patung batu tanpa busana ini merupakan karya seniman lokal dari Solo bernama Trubus. Patung yang terinspirasi dari lukisan Ernest Dezentje ini mengambil wajah cantik anak pegawai istana. Soekarno sangat menyukai wanita tersebut hingga dibuatlah patung dalam bentuk wanita sedang jongkok sambil menoleh ke kanan.

Selain patung wanita, adapula berbagai patung laki-laki juga tanpa busana. Misalnya patung karya Patzay Pal dari Budapest. Patung lelaki telanjang yang terletak di belakang istana ini digambarkan sebagai seorang lelaki pemberani yang sedang melawan ular. Ada pula patung Hercules yang dibuat oleh seniman dari Polandia. Patung yang digambarkan sedang memegang busur panah tersebut juga terpampang tanpa baju dan celana.
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.