hendladi
IndoForum Beginner D
- No. Urut
- 113568
- Sejak
- 15 Jan 2011
- Pesan
- 685
- Nilai reaksi
- 2
- Poin
- 18
JAKARTA, KOMPAS.com - Belum pukul 12.00 WIB, namun pabrik tahu milik Maman Ismail (59) telah bersih. Sejumlah tahu sudah diletakkan di dalam papan dan masih ada satu wajan besar yang digunakan untuk merebus tahu di dalam air perasan kunyit.
Jumlah papan berisi tahu pun tidak begitu banyak, ada tujuh papan penuh berisi tahu yang diletakkan berjejer di sebuah kursi panjang, di sudut lain ada lima papan. Namun, masih ada puluhan papan kosong yang tertata rapi.
"Biasanya kami baru selesai produksi tahu jam delapan malam. Setelah harga kedelai naik, jam segini kami sudah selesai," kata Maman saat ditemui Kompas.com di pabrik tahu miliknya di Kelurahan Semanan, Kecamatan Kalideres, Jakarta Barat, Rabu (9/2/2011).
Maman sengaja mengurangi produksi tahunya, dari semula bisa menghabiskan 1,5 kuintal kedelai dalam sehari turun menjadi 50 kg. Hal ini karena permintaan tahu turun drastis setelah harga kacang kedelai impor naik menjadi Rp 6.600 per kilogramnya.
"Yang biasanya ngambil (membeli) 500 potong, sekarang ngambilnya 200, terus yang biasa ngambil 200 hingga 250 potong, sekarang cuma 50," kata maman menuturkan efek kenaikan harga bahan baku utama tahu dan tempe tersebut.
Selain menurunkan jumlah produksi, Maman pun menaikkan harga tahu. Harga tahu yang semula Rp 300 per potong naik menjadi Rp 350 per potong. "Ya terpaksa dinaikkan, itu pun bisa dibilang saya enggak dapat untung, cuma cukup untuk menutupi produksi saja. Sekarang mah berharapnya sama ampas tahu, sekarungnya saya jual Rp 7.000," kata Maman.
Maman lebih memilih menaikkan harga tahu daripada menipiskan ketebalan tahu. Menurutnya menipiskan ketebalan tahu sama saja dengan membuat tahu tidak laku.
"Bakal enggak ada yang mau beli," ujar Maman.
