Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
Siapa yg hidupnya pernah jadi pengamen jalanan, mencari recehan dari pinggir jalan, cuma untuk menjalani sebuah kehidupan? Sebuah kehidupan yg akan ada batasnya di dunia, karena manusia tak akan selamanya abadi.
Cerita-cerita pinggir jalan & kemiskinan, memang kurang laku untuk dibahas, karena inspirator dunia pasti akan mengulas orang-orang hebat yg tentunya kisah sukses mereka banyak di ulas, bahkan dengan embel-embel dari bawah! Hmmm, selama yg saya tahu kisah sukses orang akbar banyak dari keluarga sanggup bukan dari fakir miskin. Bahkan Pak Jokowi pun dapat sekolah hingga sarjana menunjukkan beliau cukup sanggup ekonominya, cuma orang yg hidup berkecukupan yg dapat menikmati pendidikan setinggi itu. Bagaimana dengan kisah dari tabiat fakir miskin? Jarang sekali kisah mereka dibahas, karena itu sekarang saatnya kita bahas tentang mereka.
Zaman dulu dimana feodal masih kental, karya sastra terpecah namun kita bahas sastra pada masa itu, ada tragedi & komedi, biar jelas akan ane kutip perbedaannya.
Quote:
Tragedi adalah genre drama dalam sastra yg khususnya ditandai dengan akhir yg sedih & menyedihkan.
Komedi, berbeda dengan tragedi, adalah genre drama dalam sastra yg ditandai dengan akhir yg bahagia & bersemangat. Selain menciptakan penonton senang, sebuah komedi yg agak penting bermaksud untuk membangkitkan humor & hiburan di antara penonton melalui tawa yg luas.
Sumber kutipan https://id.sawakinome.com/articles/l...tragedy-2.html
Disinilah terjadi pemisahan genre sastra dimana Tragedi untuk golongan raja, bangsawan, atau orang kaya sedangkan komedi untuk fakir miskin. Sebab orang miskin tidak terikat protokol, mereka bebas menampilkan ekspresinya.
Dan ekspresi seperti ini masih terbawa hingga sekarang. Contoh, tepuk tangan rakyat jelata ketika ada sesuatu yg heboh atau di hormati, berbeda dengan tepuk tangan dengan para pejabat atau orang kaya, yg terlihat lebih elegant.
Nah, ketika sastra dipadukan dengan musik hal ini juga berkembang namun ke dua arah yg berbeda. Sastra & musik yg berhubungan dengan tragedi berkembang ke arah musik yg rumit, mewah & mahal hingga mempunyai seni tingkat tinggi, seperti musik klasik, seriosa, biasanya disajikan di dalam sebuah opera.
Sedangkan sebaliknya musik untuk kalangan orang bawah cukup sederhana, mudah untuk di ikuti, liriknya pun tidak ribet cara bernyanyinya juga simple.
Semakin liriknya simple, semakin musiknya lebih mudah dimainkan & dimengerti, maka yg banyak suka adalah golongan rakyat fakir miskin, maksudnya diluar golongan bangsawan.
Namun dari sini terlahir juga musik-musik kemarahan, baik kepada pemerintah, kepada kehidupan & sebagainya ini yg disebut dengan musik cadas. Maka cara bernyanyinya, liriknya, bahkan suara musiknya semuanya serba keras, hingga sakit telinga mendengarnya.
Sedangkan pengamen yg lahir di zaman pertengahan eropa lebih memilih tipe musik yg merakyat, mudah, & simple untuk dinyanyikan.
Bagaimana dapat ada pengamen? Jadi begini zaman dahulu, radio & televisi cukup terbatas, musik memang sudah ada tetapi banyak orang yg jarang mendengarnya. Disinilah pengamen itu hadir untuk memainkan musik untuk masyarakat umum. Profesi pengamen saat itu sangat dibutuhkan & disenangi masyarakat.
Maka saat itu banyak pengamen yg dipesan untuk menyanyikan lagu-lagu yg tenar di zamannya.
Namun semakin berkembangnya zaman pengamen juga mulai bermetamorfosis jadi lebih elegant dengan alat musik yg biasa dipakai oleh bangsawan, seperti piano, biola & lain sebagainya.
Namun profesi itu kini dianggap rendah di Indonesia, karena dulu dipesan lalu dikasih uang, sekarang dikasih uang biar cepet pergi karena berisik hehehe...
Jadi pengamen tidak dibutuhkan lagi saat ini, tidak seperti masa lalu. Namun walau begitu dengan pengamen yg kreatif masih dapat bertahan di tengah gempuran zaman.
Terima kasih yg sudah membaca thread ini hingga akhir, bila ada kritik silahkan dihinggakan & semoga thread ini bermanfaat, tetap sehat & merdeka. See u next thread.
"Nikmati Membaca Dengan Santuy"
--------------------------------------
Tulisan : c4punk@2022
referensi : klik, klik, klik
Pic : google