• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

Sejarah Narkotika di Indonesia #Chapter2

  • Pembuat thread awal. Pembuat thread awal. Angela
  • Tanggal Mulai Tanggal Mulai

Angela

IndoForum Pro E
No. Urut
88
Sejak
25 Mar 2006
Pesan
45.487
Nilai reaksi
35
Poin
0
#Chapter2
Candu sebagai sebuah Gaya Hidup
PADA masa itu (era 1885an), mengisap opium jadi ciri biasa & gaya hidup kehidupan kota & desa. Opium dijual & dipasarkan hingga ke tengah masyarakat di wilayah pedesaan yg tergolong berasal dari kalangan ekonomi miskin. Perayaan keberhasilan panen perkebunan atau hasil alam, misalnya, umumnya dibarengi dengan suguhan candu. Dalam acara-acara selametan atau seremoni tertentu seperti pernikahan, Candu akan jadi suguhan dari tuan rumah untuk tamu-tamu yg diketahui sudah biasa menghisap candu/madat, tidak ketinggalan para pemimpin atau tokoh desa pun dijamu dengan cara ini.

Candu sudah merasuk ke kehidupan masyarakat di Pulau Jawa tanpa melihat latar belakang, pangkat & kelas ekonomi. Candu dijajakan dari rumah ke rumah. Hampir di setiap pelosok dapat ditemukan rumah candu. Orang-orang di wilayah pulau Jawa membeli candu dari hasil keringatnya sebagai pekerja kasar / buruh / petani atau kuli perkebunan yg tentunya tidak sebanding dengan penghasilannya sebagai seorang buruh pada saat itu yg rata-rata cuma 20 sen per hari.

 Sejarah Narkotika di Indonesia #Chapter2

Sementara itu, uang yg dihabiskan untuk menghisap candu rata-rata masyarakat kala itu mencapai lebih dari 5 sen setiap hari Tapi, ada juga yg membelanjakan hingga 20 sen per hari cuma untuk opium. Karena itu, tidaklah mengherankan bila banyak yg jatuh miskin penggunaan candu. Artinya, sekitar seperempat atau bahkan seluruh penghasilannya dijajankan untuk candu. Ditengarai, 1 dari 20 orang pria di pulau jawa saat itu menghisap candu dalam tahap rekreasional & belum hingga tahap ketergantungan, namun mengingat minimnya pemahaman mengenai akibat buruk candu saat itu, maka patut diragukan bilamana penghisap candu kala itu belum hingga tahap ketergantungan. Selayaknya sebuah rokok, posisi candu pada masa itu sudah menghiasi etalase-etalase pengusaha candu.


Pada masyarakat tionghoa masa itu, menghisap candu malah dapat dikatakan sudah jadi kebiasaan yg membudaya. Warga yg tinggal di kota besar, kota kecil atau pedesaan, & para saudagar tionghoa pun turut menikmati candu di rumah mereka, atau di rumah-rumah candu yg mewah & eksklusif. Sedangkan cina dari kalangan menengah ke bawah mengisap opium di pondok-pondok opium umum, bersama penduduk setempat.
Sebuah jurnal harian seorang inspektur urusan opium belanda bernama Charles Temechelen menyebut, di Jawa era tahun 1885, para kuli perkebunan menerima upah 20-25 sen perhari dapat menghabiskan 10 sen atau lebih cuma untuk candu. Sebutir racikan candu yg biasa disebuttikedari kualitas murah seharga 5 sen di tahun 1889 sudah mengandung 15 miligram morfin.

 Sejarah Narkotika di Indonesia #Chapter2

Pria tua itu berbaring di atas bale-bale yg terbuat dari bambu. Badannya kurus bagai tulang berbungkus kulit sahaja, ia miringkanbadannya ke satu sisi. Ia lepaskan ikat kepalanya, lalu rambutnya yg panjang tergerai di atas bantal kotor. Seorang wanita muda, dengan kerlip mata yg menggoda, menghampirinya. Wanita pelayan ini membawa hidangan yg ada dalam sebuah kotak kecil berisikan opium, alias candu.[sup][1][/sup]

Ia sendokkan benda mirip dodol itu dari kotak, & meramunya dengan tembakau yg sudah dirajang halus. Jemari terampil wanita muda itu membentuk campuran tadi jadi berbentuk bola-bola kecil, seukuran biji kacang. Bola-bola candu ini lalu dimasukkan ke dalam wadah berupa mangkuk pipa penghisap candu, lalu dibakar dengan nyala api lampu minyak.[sup][2][/sup]

Dengan telaten, wanita itu melayani tamunya. Sang pemadat menghisap asap candu dari ujung pipa, yg biasa disebutbedutan. Usai menghisap candu, lelaki tua itu lalu meninggalkan pondok tempat mengisap opium..

Rumah candu ini terdiri dari sekat-sekat kecil yg merupakan ruang (kamar) untuk menghisap candu, dilengkapi dengan perlengkapan alat hisap & pramusajinya. Rumah candu hampir tak pernah sepi konsumen, pengunjung datang silih berganti, semata-mata untuk menghisap candu & membeli kenikmatan sesaat. Keberadaannya legal dan Rumah-rumah candu semacam ini banyak ditemukan tersebar hampir di seluruh pelosok Jawa, pada era 1800 hingga 1900an.

Di kalangan para elite & saudagar, candu sudah memberikan warna tertentu pada gaya hidup yg sedang berkembang kala itu. Candu sudah jadi simbol keramah-tamahan dalam kehidupan bersosial & bermasyarakat. Pada perjamuan atau pesta-pesta para elite atau saudagar, sudah sangat biasa kalau para tamu undangan pria disuguhi candu. Bahkan, tidak cuma hingga pada kalangan elite atau saudagar seja, menurut sebuah laporan yg dilansir, para prajurit Pangeran Diponegoro, selama Perang Jawa berlangsung, banyak yg jatuh sakit ketika pasokan candu terganggu. Dampak buruk bagi kondisi kesehatan yg ditimbulkan candu sejak dulu menimbulkan pro kontra. Para pembela tentu punya alibi & justifikasi tersendiri untuk tetap mempertahankan keberadaan candu. Sebuah karya sastra Jawa zaman 19 yg berjudulSuluk Gatoloco[sup][3][/sup]menyebutkan selain menciptakan mabuk, candu diyakini dapat meningkatkan gairah & vitalitas pria. Namun berbanding terbalik dengan suluk gatholoco, dalamWulang Reh, Pakubuana IV penguasa Surakarta mengutuk keras para penghisap candu (pemadat).[sup][4][/sup]


Sebuah Kesaksian dari Batavia
 Sejarah Narkotika di Indonesia #Chapter2
Pabrik Opium Batavia
[sup][5][/sup]Batavia dulu adalah surga bagi para pesayang candu. Terdapat sebuah pabrik candu besar, yg hasil produksinya hingga dikirim ke daerah jajahan Belanda lainnya. Rumah-rumah candu atau yg umumnya disebut madat pun bertebaran di Batavia kala itu. Para pemadat itu ternyata banyak orang tua yg sudah sakit-sakitan yg menganggap dengan menghisapcandu sebagai upaya menyembuhkan penyakitnya supaya berumur panjang.

Pabrik candu Batavia itu dahulu pusatnya di kawasan kampus Kedokteran UI Salemba Raya. Hasil produksinya dikirim ke wilayah Glodok & sekitar Jakarta hingga keluar ke Jawa. Pabrik mulai beroperasi mulai jam 7 pagi hingga 5 sore setiap harinya. Pada jam 07.00 cerobong pabrik candu dibunyikan. pertanda pabrik mulai beroperasi,kata Abdillah Gani, Pria yg lahir di Kwitang, Jakarta Pusat, pada tahun 1936.[sup][6][/sup]

Dalam sehari suara itu dibunyikan tiga kali. Pagi, siang, & sore. Pada pagi hari saat jam masuk kerja, saat istirahat atau makan siang, & sore untuk menandai jam kerja selesai. Masa kecil Abdillah Gani sang penutur dihabiskan di rumah kakeknya sekitaran daerah Salemba, tepatnya Jalan Kenari yg kita kenal saat ini.

Bentuk pabriknya akbar dengan atap seng yg memanjang. Dibalut dengan tembok-tembok,katanya..pabrik tersebut berlokasi tepat di belakang fakultas kedokteran UI Salemba. Dari depan kampus sekarang memanjang ke Belakang. Di bagian belakang terdapat mess karyawannya, .

 Sejarah Narkotika di Indonesia #Chapter2
Suasana Pabrik Candu Batavia
Sekitar wilayah pabrik terdapat lapangan, yg biasa dipakai untuk bermain anak kecil yg tinggal di wilayah sekitar. Meski pabrik candu itu termasuk sangat akbar namun keadaan di sekitarnya sangatlah sepi.Kalau udah siang suasana pabrik sepi. Suram, kayak di kuburan apalagi ketika hujan atau mendung. Ga ada anak kecil yg berani main dekat situ,tuturnya.

Hampir tidak ditemukan penjagaan yg ketat pada area bangunan pabrik, sehingga anak-anak dapat bermain bebas di lapangan dekat pabrik. Abdillah Gani & teman sepermainannya juga leluasa melihat gedungnya dari luar karena pekarangannya cuma dibatasi pagar kawat saja.Karyawannya sangat banyak dimana mayoritas didatangkan dari pelosok Jawa,tuturnya, hal ini disebabkan masyarakat sekitar jalan kenari, tidak berkenan untuk bekerja di pabrik tersebut.

Daerah ini dihuni oleh warga asli Betawi yg beberapa akbar berprofesi sebagai kusirDi sini orang-orangnya anti penjajah. Maka tidak heran kalau orang-orang di sini dianggap komuni,tuturnya. Pabrik yg beroperasi awal tahun 1900 itu data menghasilkan ribuan bahkan puluhan ribu butir candu. Dan pabrik ini diketahui sebagai salah satu pabrik akbar & jadi pusat produksi candu & pemasok bukan saja untuk wilayah Batavia tetapi untuk daerah jajahan Belanda lainnya. Di wilayah Batavia, candu didistribusikan ke Glodok terlebih dahulu, sebagai pusat distributor sebelum didistribusikan ke daerah luar batavia.Di sana siapa saja boleh beli. Di sana juga disediakan rumah-rumah tempat ngisep candu. Di Glodok, namanya daerah Petak Sembilan,imbuhnnya.

Berlokasi sebelum gedung Arsip Nasional kini terdapat satu gang kecil yg bernama Keselamatan. Kala itu, orang biasa menyebutnya Gang Madat Besar. Pergantian nama jalan jadi gang Keselamatan diubah oleh Pemerintah pada tahun 1950-an yg merubah nama jalan di daerah kota jadi gang dengan nama seperti: gang kejayaan, gang kesejahteraan, gang keselamatan, gang kerajinan, & lainnya. Muntoha, salah satu tokoh & warga asli yg lahir tahun 1938 ingat betul pada era tahun 1930, rumah-rumah warga sekitar umumnya berukuran kecil. Jumlahnya masih sedikit. Dihuni oleh mayoritas orang betawi setempat, lalu pendatang-pendatang yg berasal dari Arab & Cina. Ada juga orang-orang dari Jawa yg dating & bekerja di Batavia.Di situ ada rumah madat ,kata Muntoha Mereka yg menghisap candu atau candu seingatnya cuma orang-orang Cina saja. Warga betawi tak berani mengikuti empek-empek itu. Orang-orang wilayah sini takut untuk ikut-ikutan menghisap karena tidak mau tertular penyakit berbahaya[sup][7][/sup]


Sekitar tahun 1948, ia melihat pemandangan yg menakutkanSaya melihat mereka mengangkat orang yg sudah wafattuturnya. Rupanya beberapa orang yg madat itu mati.Saya tidak tahu siapa namanya. Yang saya tahu orang yg wafat itu diangkat keluar dari rumah madat.Sejak itu rumah bertambah sepi. Zaman mulai berubah. Para pemadat dianggap meresahkan lingkungan & mengakibatkan ligkungan yg tidak sehat. Mereka dijauhkan dari warga.Warga sudah tidak mau tahu.tuturnya.[sup][color=var( --e-global-color-20f6c96 )][8][/sup]

Seorang penulis dari University of Pittsburgh yag bernama Siddarth Chandra menuliskan bahwa tahun 1928 merupakan masa kejayaan & kesuksesan VOC atau Pemerintah kolonial Belanda karena berhasil memperoleh keuntungan dari candu sebesar 34.6 juta gulden, & menghasilkan pemasukan bagi VOC dari pajak penjualan candu sebesar lebih dari 800 juta gulden.Satu papernya berjudulEconomic Histories of the Candu Trademengungkapkan pada pertengahan tahun 1928 adalah titik tertinggi dari penjualan candu di Hindia Belanda, yaitu sebesar 60.000 kilogram. Setahun kemudian hingga tahun 1936 adalah dimulainya periode kejatuhan candu & bergugurannya penjualan candu di Hindia Belanda. Periode ini disebut sebagai periode Great Depression.[sup][9][/sup][/color]

Ashefa Griya Pusaka

[/i][/b][/size][/font][/color] Hari ini 17:44
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.