Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
11-8-1988, Presiden Soeharto Resmikan 100 Pabrik Barang Jadi & 124 Sentra Industri Rotan
- 11 Agustus 2022
Presiden Soeharto di Asean Summit -Foto:soehartolibrary.id
KAMIS, 11 AGUSTUS 1988 Sepanjang pagi hingga siang, Presiden Soeharto mengerjakan kunjungan kerja ke Jawa Timur. Setiba di desa Driyorejo, Gresik, Kepala Negara meresmikan proyek-proyek industri rotan, yaitu 100 pabrik barang jadi & 124 sentra industri kecil barang jadi rotan yg tersebar di berbagai provinsi.
Pabrik barang jadi rotan tersebut berlokasi di Sumatera Utara sebanyak lima pabrik, empat di Sumatera Barat, dua di Sumatera Selatan, sembilan di DKI Jakarta, 37 di Jawa Barat, 13 di Jawa Timur, 25 di Kalimantan Selatan, dua Sulawesi Selatan, & masing-masing sebuah di Lampung, Jawa Tengah, Kalimantan Barat, & Kalimantan Tengah.
Keseluruhan pabrik tersebut berorientasi kepada ekspor dengan perolehan devisa diharapkan mencapai US$250 juta per tahun. Pabrik-pabrik tersebut mempunyai kapasitas sebesar 95.000 ton & dapat menyerap tenaga kerja sebanyak 35.900 orang.
Sedangkan sentra industri kecil dari rotan sebanyak 4.125 unit usaha juga sudah memasuki program ekspor dengan nilai US$6,2 juta & menyerap 20.351 orang.
Investasi yg ditanam sebesar Rp1,2 miliar & akan menghasilkan nilai produksi sebesar Rp23,38 miliar.
Pada kesempatan ini Presiden juga meninjau pameran berbagai hasil industri dari rotan & akhimya mengadakan dialog dengan para petani pengumpul, pengrajin, produsen & eksportir yg bergerak dalam bidang rotan.
Memberikan sambutannya, Kepala Negara antara lain mengatakan bahwa peresmian ini merupakan babak baru dari industri rotan kita. Sebab, sebelum ini kita cuma mengekspor rotan mentah, belum diolah sama sekali atau masih merupakan barang setengah jadi.
Dengan mengolah rotan mentah jadi barang jadi, maka nilai tambahnya sangat besar. Ini berarti bahwa mengekspor barang jadi rotan akan menambah devisa negara yg sangat kita perlukan untuk memelihara gerak pembangunan.
Dalam rangka itulah, begitu Presiden, mengapa beberapa tahun yg lalu kita tidak lagi mengekspor kayu gelondongan. Yang kita ekspor adalah kekayaan hutan yg sudah kita olah jadi kayo lapis, barang perabotan rumah tangga, pulp, kertas, rayon, & sebagainya. Demikian juga kita mengolah hasil-hasil pertanian & perkebunan kita jadi ban-ban mobil, sepatu, sarung tangan karet, bahan kimia, sabun, & lain-lain.
Kembali ditegaskan oleh Kepala Negara bahwa untuk mendorong industri rotan, beberapa waktu yg lalu pemerintah sudah melarang ekspor rotan mentah. Selanjutnya ia meminta perhatian semua pihak untuk meningkatkan penghasilan & kesejahteraan petani pengumpul rotan, para pekerja & pengrajin.
Sementara itu, dalam dialog dengan para pengrajin rotan di Kabupaten Gresik, Presiden Soeharto menegaskan bahwa pemerintah tidak mempunyai niat untuk mendirikan BUMN di bidang rotan. Ditegaskannya bahwa keterlibatan pemerintah dalam industri rotan cukup dengan menentukan kebijaksanaan & peraturan saja.
Hari ini 19:06
- 11 Agustus 2022
Presiden Soeharto di Asean Summit -Foto:soehartolibrary.id
KAMIS, 11 AGUSTUS 1988 Sepanjang pagi hingga siang, Presiden Soeharto mengerjakan kunjungan kerja ke Jawa Timur. Setiba di desa Driyorejo, Gresik, Kepala Negara meresmikan proyek-proyek industri rotan, yaitu 100 pabrik barang jadi & 124 sentra industri kecil barang jadi rotan yg tersebar di berbagai provinsi.
Pabrik barang jadi rotan tersebut berlokasi di Sumatera Utara sebanyak lima pabrik, empat di Sumatera Barat, dua di Sumatera Selatan, sembilan di DKI Jakarta, 37 di Jawa Barat, 13 di Jawa Timur, 25 di Kalimantan Selatan, dua Sulawesi Selatan, & masing-masing sebuah di Lampung, Jawa Tengah, Kalimantan Barat, & Kalimantan Tengah.
Keseluruhan pabrik tersebut berorientasi kepada ekspor dengan perolehan devisa diharapkan mencapai US$250 juta per tahun. Pabrik-pabrik tersebut mempunyai kapasitas sebesar 95.000 ton & dapat menyerap tenaga kerja sebanyak 35.900 orang.
Sedangkan sentra industri kecil dari rotan sebanyak 4.125 unit usaha juga sudah memasuki program ekspor dengan nilai US$6,2 juta & menyerap 20.351 orang.
Investasi yg ditanam sebesar Rp1,2 miliar & akan menghasilkan nilai produksi sebesar Rp23,38 miliar.
Pada kesempatan ini Presiden juga meninjau pameran berbagai hasil industri dari rotan & akhimya mengadakan dialog dengan para petani pengumpul, pengrajin, produsen & eksportir yg bergerak dalam bidang rotan.
Memberikan sambutannya, Kepala Negara antara lain mengatakan bahwa peresmian ini merupakan babak baru dari industri rotan kita. Sebab, sebelum ini kita cuma mengekspor rotan mentah, belum diolah sama sekali atau masih merupakan barang setengah jadi.
Dengan mengolah rotan mentah jadi barang jadi, maka nilai tambahnya sangat besar. Ini berarti bahwa mengekspor barang jadi rotan akan menambah devisa negara yg sangat kita perlukan untuk memelihara gerak pembangunan.
Dalam rangka itulah, begitu Presiden, mengapa beberapa tahun yg lalu kita tidak lagi mengekspor kayu gelondongan. Yang kita ekspor adalah kekayaan hutan yg sudah kita olah jadi kayo lapis, barang perabotan rumah tangga, pulp, kertas, rayon, & sebagainya. Demikian juga kita mengolah hasil-hasil pertanian & perkebunan kita jadi ban-ban mobil, sepatu, sarung tangan karet, bahan kimia, sabun, & lain-lain.
Kembali ditegaskan oleh Kepala Negara bahwa untuk mendorong industri rotan, beberapa waktu yg lalu pemerintah sudah melarang ekspor rotan mentah. Selanjutnya ia meminta perhatian semua pihak untuk meningkatkan penghasilan & kesejahteraan petani pengumpul rotan, para pekerja & pengrajin.
Sementara itu, dalam dialog dengan para pengrajin rotan di Kabupaten Gresik, Presiden Soeharto menegaskan bahwa pemerintah tidak mempunyai niat untuk mendirikan BUMN di bidang rotan. Ditegaskannya bahwa keterlibatan pemerintah dalam industri rotan cukup dengan menentukan kebijaksanaan & peraturan saja.
Hari ini 19:06