XiaoYanZi
IndoForum Beginner A
- No. Urut
- 144616
- Sejak
- 14 Jul 2011
- Pesan
- 1.118
- Nilai reaksi
- 38
- Poin
- 48
TRIBUNNEWS.COM - Tidak ada yang tahu pasti alasan Pipit (17), pengantin baru itu mengakhiri hidupnya dengan cara gantung diri. Ia mengikatkan tali plastik di leher yang diikatkan di kayu belandar rumahnya, sehari setelah pernikahannya di Dusun Sahar, Desa Wateswinangun, Kecamatan Sambeng, Lamongan.
Pipit baru sehari menikah dengan seorang pemuda bernama Sutadji (28), warga desa setempat pada Jumat (5/8/2011) siang. Namun entah mengapa Sabtu (6/8) petang, Pipit memilih mengakhiri hidup.
Sore itu, sekitar pukul 16.00 WIB, keluarga korban berangkat takziah ke rumah salah satu warga di desa tetangga. Pipit dan suaminya tidak ikut dan memilih berdiam di rumah. Tak ada yang menyangka keengganan Pipit ikut takziah keluarganya ternyata mempunyai rencana lain, mengakhiri hidupnya. Ketika suaminya, Sutadji, saat itu juga mengajaknya bermain ke rumah tetangga di depan rumah, Pipit juga menolak. ”Saya ke rumah tetangga bersama Sigit, sepupu Pipit. Saat itu Pipit menolak dan memilih berdiam di rumah,” aku Sutadji.
Sutadji, Sigit dan semua keluarga korban tidak punya firasat apapun jika Pipit akan meninggalkannya dengan tragis. Sekitar pukul 17. 20 WIB, saat Sigit (20) meninggalkan Sutadji dari rumah tetangga dan bertandang ke rumah Pipit, ia terperangah bukan kepalang ketika menyaksikan sepupunya itu menggantung sembari menggelepar-gelepar. Seutas tali melilit leher dan diikatkan ke belandar rumahnya. ”Saya berteriak keras minta tolong,” tutur Sigit.
Teriakan Sigit terdengar oleh tetangga kanan – kiri rumah korban, termasuk Sutadji yang sedang main di rumah tetangga depan rumah. Sebelum Sutadji dan warga datang, Sigit berusaha menolong Pipit dengan cara membopong tubuhnya. Saat itu Pipit terlihat masih bernafas. Sutadji bersama tetangga kemudian memutus tali yang mengikat leher Pipit.
Tali di leher Pipit berhasil diputus, dan ia masih bernafas. Sutadji dan Sigit memutuskan untuk membawa Pipit ke rumah sakit. Untuk sementara tubuhnya dibaringkan di ranjang. Namun, selang beberapa menit menjelang keberangkatannya menuju rumah sakit, Pipit mengembuskan nafas terakhir.
Karuan saja, tangis penghuni seisi rumah pecah. Hingga kejadian itu, kedua orang tua dan adik korban yang ikut takziah belum juga datang. Beberapa menit kemudian kedua orang tuanya datang dan memutuskan untuk langsung memakamkan jenazah Pipit.
Menurut sejumlah tetangga, Pipit sebelum menikah dengan Sutadji masih memiliki pacar dengan pemuda desa tetangga. Entah alasan apa hingga keluarganya menjodohkan Pipit dengan Sutadji yang masih sekampung. ”Korban tampaknya belum bisa menerima pernikahannya dengan Sutadji, karena dia itu masih sayang dengan pacarnya,” ujar tetangga Pipit.
Kejadian petang itu juga dilaporkan oleh perangkat desa ke polisi. Kapolsek Sambeng, AKP H Saifudin bersama tiga anggotanya, Kanit Reskrim Aiptu Sarno, Brigadir Yahya dan Briptu Ahmad Zaini mendatangi lokasi dan melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP). Polisi kemudian memastikan bahwa korban meninggal karena bunuh diri bukan karena penganiayaan orang lain. ”Soal apa motifnya bunuh diri, polisi tidak berani menyimpulkan. Karena keluarganya tertutup memberikan penjelasan termasuk suaminya,” kata Saifudin.
Namun dari hasil pembicaraan dengan sejumlah tetangga dan teman korban, motifnya diduga korban memiliki pacar saat dinikahkan dengan Sutadji. ”Tapi terus terang polisi tidak berani menyimpulkannya,” tambah Saifudin.
Pipit baru sehari menikah dengan seorang pemuda bernama Sutadji (28), warga desa setempat pada Jumat (5/8/2011) siang. Namun entah mengapa Sabtu (6/8) petang, Pipit memilih mengakhiri hidup.
Sore itu, sekitar pukul 16.00 WIB, keluarga korban berangkat takziah ke rumah salah satu warga di desa tetangga. Pipit dan suaminya tidak ikut dan memilih berdiam di rumah. Tak ada yang menyangka keengganan Pipit ikut takziah keluarganya ternyata mempunyai rencana lain, mengakhiri hidupnya. Ketika suaminya, Sutadji, saat itu juga mengajaknya bermain ke rumah tetangga di depan rumah, Pipit juga menolak. ”Saya ke rumah tetangga bersama Sigit, sepupu Pipit. Saat itu Pipit menolak dan memilih berdiam di rumah,” aku Sutadji.
Sutadji, Sigit dan semua keluarga korban tidak punya firasat apapun jika Pipit akan meninggalkannya dengan tragis. Sekitar pukul 17. 20 WIB, saat Sigit (20) meninggalkan Sutadji dari rumah tetangga dan bertandang ke rumah Pipit, ia terperangah bukan kepalang ketika menyaksikan sepupunya itu menggantung sembari menggelepar-gelepar. Seutas tali melilit leher dan diikatkan ke belandar rumahnya. ”Saya berteriak keras minta tolong,” tutur Sigit.
Teriakan Sigit terdengar oleh tetangga kanan – kiri rumah korban, termasuk Sutadji yang sedang main di rumah tetangga depan rumah. Sebelum Sutadji dan warga datang, Sigit berusaha menolong Pipit dengan cara membopong tubuhnya. Saat itu Pipit terlihat masih bernafas. Sutadji bersama tetangga kemudian memutus tali yang mengikat leher Pipit.
Tali di leher Pipit berhasil diputus, dan ia masih bernafas. Sutadji dan Sigit memutuskan untuk membawa Pipit ke rumah sakit. Untuk sementara tubuhnya dibaringkan di ranjang. Namun, selang beberapa menit menjelang keberangkatannya menuju rumah sakit, Pipit mengembuskan nafas terakhir.
Karuan saja, tangis penghuni seisi rumah pecah. Hingga kejadian itu, kedua orang tua dan adik korban yang ikut takziah belum juga datang. Beberapa menit kemudian kedua orang tuanya datang dan memutuskan untuk langsung memakamkan jenazah Pipit.
Menurut sejumlah tetangga, Pipit sebelum menikah dengan Sutadji masih memiliki pacar dengan pemuda desa tetangga. Entah alasan apa hingga keluarganya menjodohkan Pipit dengan Sutadji yang masih sekampung. ”Korban tampaknya belum bisa menerima pernikahannya dengan Sutadji, karena dia itu masih sayang dengan pacarnya,” ujar tetangga Pipit.
Kejadian petang itu juga dilaporkan oleh perangkat desa ke polisi. Kapolsek Sambeng, AKP H Saifudin bersama tiga anggotanya, Kanit Reskrim Aiptu Sarno, Brigadir Yahya dan Briptu Ahmad Zaini mendatangi lokasi dan melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP). Polisi kemudian memastikan bahwa korban meninggal karena bunuh diri bukan karena penganiayaan orang lain. ”Soal apa motifnya bunuh diri, polisi tidak berani menyimpulkan. Karena keluarganya tertutup memberikan penjelasan termasuk suaminya,” kata Saifudin.
Namun dari hasil pembicaraan dengan sejumlah tetangga dan teman korban, motifnya diduga korban memiliki pacar saat dinikahkan dengan Sutadji. ”Tapi terus terang polisi tidak berani menyimpulkannya,” tambah Saifudin.



