Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
Ketika hari raya tiba maka otomatis warga perantauan di nusantara berbondong-bondong untuk mudik, sowan ke kerabat yg ada di kampung halaman. Melepas rindu, bahkan ada juga yg harap menunjukkan jati dirinya yg sudah sukses merantau di kota besar.
Terkesan pamer, tetapi itu lumrah untuk pemicu warga kampung yg hidupnya ngepas untuk ikut mengerjakan hal yg sama yaitu merantau. Walau tak semua orang sukses dalam perantauan namun mereka yg memiliki paguyuban di kota-kota akbar cenderung lebih sukses nasibnya.
Seperti paguyuban warteg, paguyuban tukang sayur atau paguyuban daerahnya di tempat rantauan. Biasanya di kalangan orang perantauan paguyuban inilah yg menciptakan tepa selira, gotong royong, saling welas asih masih tetap terjaga di tanah rantau.
Nah biasanya "Pulang Bersama" juga jadi agenda tahunan, walau sejarah mudik ini tak jelas asal usulnya darimana. Tapi yg pasti banyak hikmah didalamnya.
Namun disaat pandemi seperti ini, ketika mudik dilarang oleh pemerintah banyak orang nekat tetap harap mudik. Ada yg berdalih karena mereka tak ada lagi pekerjaan di tanah rantau! Berarti mereka pulang ke rumah. Namun ternyata ada juga yg tidak demikian, niat mereka benar cuma harap "Mudik" berjumpa sanak saudara, juga orang tua di kampung halaman & ini yg dilarang karena seperti kita tahu wabah sedang menggema diseluruh dunia.
Sepertinya masyarakat Indonesia sejenis tipe manusia pemberontak, "aturan dibuat cuma untuk dilanggar, semakin dilarang maka akan semakin banyak trik untuk melanggarnya". Bukan rahasia tipu-tipu licik supaya dapat mudik jadi sarapan berita pagi di televisi & juga media.
Ada yg nekat ngumpet di dalam truk, ada yg nekat mengambil jalur alternatif yg bukan jalan umum, ada yg nekat naik truk derek. Dan yg mirisnya lagi surat catatan bebas corona diperjual belikan karena ada demand yg tinggi. Pemerintah nampaknya sudah angkat tangan memgurusi masyarakatnya yg seperti ini, karena kita tahu di tubuh mereka sendiri oknum-oknum pemberontak yg tak taat aturan juga banyak.
Jadi seperti sedang bercermin ketika di masyarakat banyak tipe manusia yg ngeyel, arogan, hingga sulit untuk dinasihati apalagi dikasih pengertian. Seperti larangan "Korupsi" tetap saja banyak yg mengerjakannya. Tak perduli efeknya di masa depan kalau ketahuan pun tinggal cengegesan, senyam senyum macam orang cacingan.
Setipe dengan masyarakat yg memaksakan mudik di tengah pandemi, selama masyarakat masih berjiwa pemberontak jangan harap Indonesia dapat setara dengan negara tetangga Singapura. Alam yg kaya, tanah yg subur, surga yg jatuh ke bumi semua akan rusak kalau masyarakatnya tak taat aturan dari permainan kehidupan. Manusia hidup di dunia ada aturan agama, manusia tinggal di dalam sebuah negara juga diatur oleh peraturan negara.
Kalau sudah tak mau diatur, dapatlah kembali ke alam yaitu tinggal dihutan sendirian, bukannya begitu my bro..
"Nikmati Membaca Dengan Santuy"
--------------------------------------
Tulisan : c4punk@2020
referensi : klik, klik
Pic : google
GIF