Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
Seperti dua buah warna yg sangat nampak berbedaanya. Putih & hitam, atau antar terangnya siang & gelapnya malam. Ada perintah berbuat baik & larangan berbuat jahat.
Untuk mensyahkan perintah berbuat baik & larangan berbuat jahat mesti ada sebuah jiwa yg menghasratkan kejahatan.
Menghendaki keberadaan jiwa semacam itu sama dengan menghendaki kejahatan. Seperti seseorang yg harap mengajar, kemudian mensyaratkan murid-muridnya tidak tahu apa-apa saat berada di dalam kelasnya. Sebab, todak mungkin mengajar kalau murid tidak tahu apa-apa.
Mengharapkan sesuatu berarti mengharapkan yg sesuai dengannya. Seperti seprang guru yg tidak suka kalau muridnya tetap tidak tahu apa-apa. Tentu saja kalau guru harap murid-miridnya tidak tahu, guru tersebut pasti tidak akan mengajar.
Seperti halnya dokter, tidak akan membuka praktik ketika tidak ada yg sakit, atau yg akan sakit. Agar dokter tersebut tetap membuka praktik harus ada yg sakit, hingga dapat mengerjakan perawatan.
Meski begitu dokter tidak akan bahagia kalau orang tetap sakit. Jika ia bahagia dalam keadaan itu tentu saja ia tidak akan mengobatinya.
Atau seorang juru masak pasti mengharapkan orang-orang merasa lapar supaya masakannya ada yg menyantap & menikmati. Kendati begitu ia tidak harap mereka tetap lapar. Ia menciptakan roti supaya orang-orang tidak lapar lagi.
Dari tiga contoh sederhana tersebut, tidak ada bodoh, sakit, & lapar permanen. Demikian juga tidak ada pintar, sehat, & kenyang permanen.
Lantas bagaimana halnya dengan hadirnya sebuah keburukan?
Seperti halnya sebuah jalan yg terbentang. Jalan tersebut berbelok ke kanan & ke kiri, naik & turun, kadang mulus kadang berlobang.
Bayangkan aja ketika sepanjang perjalan kita berada pada jalan yg licin lurus & tak ada gangguan. Maka kemudi dapat ditinggalkan. Tak perlu ada sopir, tak perlu ada rem & klakson penanda suara untuk peringatan.
Dalam keadaan apa pun posisi kemudi tetap jadi peran penting untuk menentukan arah mana yg akan dilewati.
Demikian pula keburukan hadir dalam diri seseorang sebagai pembanding bahwa ada kebaikan, lawan dari sebuah keburukan. Demikian juga mengapa ada sebuatan kaya bagi orang yg memiliki harta berlimpah? Hanya sebagai penanda bahwa ada orang yg hartanya tidak berlimpah & mereka disebut miskin.
Dalam kondisi mengatakan & miskin, kita coba setarakan dengan kebaikan & keburukuan. Walau esensi materi & konteksnya tidaklah sama. Hanya dalam kuantitas penyandangnya. Orang kaya lebih sedikit dari orang miskin. Demikian juga perbutan baik lebih sedikit dari perbuatan buruk.
Untuk mencapai perbuatan baik diperlukan beberapa tahapan & tanggung jawab sebelum mengerjakan. Yang perdana untuk berbuat baik, yg bersangkutan mengetahui bahwa yg dilakukan adalah perbuatan baik.
Kalau ada yg berkata, "Berbuat baik tak perlu ilmu. Nyatanya ada orang berbuat baik dilakukan tak sengaja."
Benarkah? Dari mana dia tau apa yg dilakukan baik & buruk? Akibat dari perbuatan tak sengaja itulah yg meninggalkan evaluasi pada hasil perbuatannya. Jika mengakibatkan manfaat tanpa.meberika ekses yg bertentangan dengan norma yg ada maka akan disebut perbuatan baik.
Pada saat perbuatan tersebut berpotensi merugikan diri sendiri & orang disekitarnya atau orang lain maka perbuatan tersebut jadi perbuatan buruk.
Bagaimana pun, dengan dalih apa pun, perbuatan buruk akan melahirkan kejahatan. Dan penafsiran atas kejahatan yg dilakukan akibat perbuatan buruk tetap merupakan perbuatan buruk. Dengan nama apapun seseoarang meberi label pada perbuatan tersebut.
Kecenderungan antara kebaikan & keburukan dalam diri manusia bersifat sebanding. Lantas bagaimana ada di antaranya yg cuma bergelimang keburukan dalam hidupnya, atau sebaliknya. Ternyata datangnya keburukan & kebaikan jadi perbuatan kita tidak berdiri sendiri.
Banyak faktor penentu yg mempengaruhi. Dimulai dari lingkungan, pembelajaran, pengaruh, & kecenderungan dalam diri. Seperti seorang ibu yg tidak mau menghukum anaknya karena menganggapnya sudah mengerjakan kejahatan parsial. Semantara ayah akan menghukum anakanya karena sudah menganggap anaknya mengerjakan kejahatan universal.
Terlepas dari semua logika yg ada, bahwa keburukan akan melahirkan kejahatan. Sementara adanya kebaikan di samping keburukan jadi indikator keburukan & tingkatan keburukan yg ada.
Jadi bagaimana pun, ketika kita menganggap bahwa keburukan dalam bentuk seekor binantang dengan segala label & keisitimewaan yg disematkan kepadanya.
Seekor binatang di tempat megah tetap saja seekor binatang. Bagi para "penyayang binatang" ini tempat tersebut adalah tempat terindah & di tempat itulah ia harap menghabiskan sisa hidupnya.