sat3o
IndoForum Beginner A
- No. Urut
- 38643
- Sejak
- 2 Apr 2008
- Pesan
- 1.482
- Nilai reaksi
- 62
- Poin
- 48
Ini hanyalah tulisan dari orang yang merasa dirinya sedang berada di titik terendah hidupnya. Saat ia merasa sendiri. Tidak berarti. Dan tidak tahu apa yang harus diperbuat. Maka hanya satu hal yang selalu dilakukannya. Ia menulis. Ia percaya bahwa Tuhan itu ada. Ia percaya bahwa Tuhan Maha Besar. Ia percaya bahwa Tuhan Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Dan ia tahu bahwa Tuhan Maha Mendengar. Oleh karena itulah ia menulis semua kesedihan dan kepedihan yang dirasa. Menulis dan berharap semoga Tuhan tetap memberi kekuatan pada dirinya untuk tetap menjalani hidup ini. Menulis karena ia hanyalah manusia yang dengan segala kekurangannya tidak bisa mengerti Kebesaran Tuhan. Sering melupakan kasih sayang yang telah diberikan oleh-Nya.
Ia hanyalah manusia biasa. Ia tidak memiliki kelebihan apapun. Ia menjalani kehidupan ini dengan biasa saja. Ia mempunyai keluarga yang menyayanginya. Teman, walaupun hanya beberapa. Disukai oleh lawan jenisnya, walau hanya seorang. Terkadang hari-hari masih dapat dijalani dengan tersenyum. Terkadang ia merasa Tuhan sudah memberi yang terbaik untuk dirinya. Namun seiring dengan berjalannya waktu. Ia bertambah usia. Lebih sering ia merasa hidup ini begitu sepi. Sepi sendiri hingga ia merasa.. tanpa ia ada pun, takkan ada yang merasa kehilangan.
Sekali rasa itu datang. Ia merasa sedih. Tak mengerti mengapa walau ia berada di tengah keramaian ia merasa sendiri. Kali kedua rasa itu datang ia memilih untuk tidak mempedulikannya. Ketika rasa itu tetap datang, ia mencoba untuk melarikan diri. Saat rasa itu tetap ada. Ia sadar bahwa rasa itu memang bagian dari dirinya. Maka ia memutuskan untuk menerima. Memendam rasa itu dalam diri. Kemudian rasa itu hilang. Pergi dari hidupnya. Kehidupan kembali berjalan normal. Ia mulai melupakan rasa itu.
Namun entah kenapa. Saat ia mulai melupakan. Rasa itu kembali hadir. Mengisi hidupnya dengan kesepian, kesendirian, serta kepedihan. Rasa itu datang sekejap. Membuat hidupnya serasa tidak berarti. Kemudian hilang. Hidup berjalan kembali. Lalu di saat-saat terapuh. Rasa itu kembali hadir. Ia mulai lelah memendam rasa itu. Ia ingin berbagi. Namun, betapa ironisnya, ia tidak tahu dengan siapa ia dapat membagi rasa itu. Ia tidak ingin terlihat lemah. Ia tidak ingin dianggap sebagai seorang pecundang. Sudah cukup menyedihkan mengakui diri sendiri lemah. Sudah cukup menyesakkan mengetahui bahwa ia adalah seorang pencundang. Dan cukuplah dirinya sendiri yang tahu itu.
Maka disinilah ia memutuskan untuk menulis. Menulis tanpa takut yang membaca mengetahui siapa dirinya. Bahkan, jika tiada yang membaca tulisannya pun tak mengapa. Ia hanya mencoba menulis untuk melepas sedikit beban yang dirasa. Menulis karena hanya itulah yang ia bisa lakukan. Menulis dan berharap rasa itu akan berkurang atau bahkan menghilang.
Ia hanyalah manusia biasa. Ia tidak memiliki kelebihan apapun. Ia menjalani kehidupan ini dengan biasa saja. Ia mempunyai keluarga yang menyayanginya. Teman, walaupun hanya beberapa. Disukai oleh lawan jenisnya, walau hanya seorang. Terkadang hari-hari masih dapat dijalani dengan tersenyum. Terkadang ia merasa Tuhan sudah memberi yang terbaik untuk dirinya. Namun seiring dengan berjalannya waktu. Ia bertambah usia. Lebih sering ia merasa hidup ini begitu sepi. Sepi sendiri hingga ia merasa.. tanpa ia ada pun, takkan ada yang merasa kehilangan.
Sekali rasa itu datang. Ia merasa sedih. Tak mengerti mengapa walau ia berada di tengah keramaian ia merasa sendiri. Kali kedua rasa itu datang ia memilih untuk tidak mempedulikannya. Ketika rasa itu tetap datang, ia mencoba untuk melarikan diri. Saat rasa itu tetap ada. Ia sadar bahwa rasa itu memang bagian dari dirinya. Maka ia memutuskan untuk menerima. Memendam rasa itu dalam diri. Kemudian rasa itu hilang. Pergi dari hidupnya. Kehidupan kembali berjalan normal. Ia mulai melupakan rasa itu.
Namun entah kenapa. Saat ia mulai melupakan. Rasa itu kembali hadir. Mengisi hidupnya dengan kesepian, kesendirian, serta kepedihan. Rasa itu datang sekejap. Membuat hidupnya serasa tidak berarti. Kemudian hilang. Hidup berjalan kembali. Lalu di saat-saat terapuh. Rasa itu kembali hadir. Ia mulai lelah memendam rasa itu. Ia ingin berbagi. Namun, betapa ironisnya, ia tidak tahu dengan siapa ia dapat membagi rasa itu. Ia tidak ingin terlihat lemah. Ia tidak ingin dianggap sebagai seorang pecundang. Sudah cukup menyedihkan mengakui diri sendiri lemah. Sudah cukup menyesakkan mengetahui bahwa ia adalah seorang pencundang. Dan cukuplah dirinya sendiri yang tahu itu.
Maka disinilah ia memutuskan untuk menulis. Menulis tanpa takut yang membaca mengetahui siapa dirinya. Bahkan, jika tiada yang membaca tulisannya pun tak mengapa. Ia hanya mencoba menulis untuk melepas sedikit beban yang dirasa. Menulis karena hanya itulah yang ia bisa lakukan. Menulis dan berharap rasa itu akan berkurang atau bahkan menghilang.
