Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
Putus sayang mengubah Mat Peci jadi legenda begal di Bandung & Garut pada 1970-an. Bertemu lagi dengan mantan kekasihnya di kawasan pelacuran di Bandung.
Mat Peci licin bak belut. Bandit nomor wahid asal Garut, Jawa Barat, ini pandai menyembunyikan dirinya. Ia tak pernah tinggal di satu tempat. Tapi tempat favoritnya yg dianggap kondusif adalah lokalisasi di Cicadas, Bandung. Sejak 1970-an terjun ke dunia hitam, pria yg dijuluki si jangok tembak itu sering datang ke rumah bordil.
Pria bernama asli Mamat kelahiran Leuwigoong (dulu masih masuk wilayah Kecamatan Leles) pada 1943 ini tak memiliki istri. Sejak putus sayang dengan gadis pujaannya, Euis, Mat Peci tak tertarik mensayangi perempuan lain. Mat Peci tak pernah lagi berjumpa dengan Euis sejak orang tuanya tak merestui hubungan mereka.
Sejak kabur dari Lembaga Pemasyarakatan Cirebon & membunuh polisi di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, Mat Peci sering bersembunyi di tempat pelacuran. Setelah mengerjakan perampokan & pembunuhan kepada karyawan yg baru mengambil uang di bunk Karya Pembangunan, Jalan Naripan, Kota Bandung, 10 Desember 1977, ia biasa menghambur-hamburkan uang jarahannya di tempat itu.
Mat Peci & kawanannya bersenang-senang di rumah bordil di Cicadas. Mereka memilih perempuan muda & cantik masuk ke bilik kamar sayang. Mat Peci mendengar informasi dari muncikari bahwa ada gadis baru di tempat itu. Dahinya mengkerut ketika si muncikari menyebut nama perempuan baru itu Euis.
Mat Peci langsung memburu ke kamar di lantai dua rumah bordil tersebut tempat perempuan itu tinggal. Benar saja, begitu pintu dibuka, alangkah terkejutnya Mat Peci, ternyata perempuan itu Euis, kekasihnya yg lama ditinggalkannya. Euis menangis menyesali dirinya terjerembap ke lembah hitam sebagai pelacur.
Pertemuan Mat Peci & Euis dalam film 'Mat Peci' pada 1978 - Foto: YouTube
Walau jadi bandit sadis, hati Mat Peci luluh melihat kenyataan nasib yg menimpa mantan kekasihnya itu. Euis sepeninggal dirinya dijodohkan & dinikahkan dengan pemuda opsi orang tuanya. Tapi pria itu kecewa ternyata Euis sudah tak suci lagi & diceraikan. Ia pun diusir keluarganya, karena dianggap menciptakan malu keluarga.
Quote:
Untuk dapat meninggalkan tempat terkutuk ini, Akang berjanji akan memberi uang, ucap Mat Peci kepada Euis seperti tergambar dalam cuplikan adegan film 'Mat Peci' pada 1978. Film itu diangkat dari kisah nyata Mat Peci.
Cinta Mat Peci kepada Euis kembali bersemi kembali di rumah bordil itu. Mat Peci bersama komplotannya giat mengerjakan pembegalan di sejumlah tempat. Mat Peci harap mengumpulkan uang supaya dapat membawa Euis keluar dari rumah bordil. Ia terus mengerjakan pembegalan di beberapa tempat.
Dua kasus terbesar adalah kasus penembakan kepada nasabah bunk bin di Jalan Ir Juanda, Dago, Bandung, akhir Desember 1977. Beberapa pekan kemudian, ia menembak mati pasangan suami-istri yg baru mengambil uang dari bunk di rumahnya di Jalan Pasir Kaliki No 54, Bandung, pada 14 Januari 1978.
Saat itu polisi reserse yg dipimpin langsung Komandan Kesatuan Serse Kota Besar Kepolisian Bandung Mayor Toni Sugiarto menciptakan regu spesifik memburunya. Beberapa anak buah Mat Peci ditangkap di kawasan Cicadas & pinggiran Kota Bandung. Sejak itu, Mat Peci malah kesulitan berjumpa dengan Euis.
Mat Peci kabur ke kampung halaman orang tuanya di Leuwigoong, Garut. Ia tewas saat akan ditangkap anggota kepolisian Polsek Leuwigoong, Sersan Bana & Banpol (Bantuan Polisi) Entik. Mat Peci tewas diberondong senjata Carl Gustav milik Entik di Stasiun Leuwigoong pada 4 Februari 1978 saat umurnya genap 35 tahun. Euis bersedih untuk kedua kalinya ditinggal sang kekasih yg dia sayangi.
Kisah Mat Peci & Euis ini memunculkan mitos baru di Garut. Kedua pasangan kekasih ini dianggap pernah melanggar larangan untuk tidak naik lalayaran (rakit) di Situ (Danau) Cangkuang. Akibat berani berpacaran, hubungan mereka putus.
Rakit lalayaran di Situ Cangkuang, Garut - Foto: Kurnia/detiktravel
Padahal mitos sebenarnya adalah soal larangan berpacaran saat berkunjung atau berziarah ke makam Embah Dalem Arif Muhammad, yg berada di dekat Candi Cangkuang.
Quote:
Tapi alasan yg paling logis adalah tidak direstui oleh orang tua perempuan, mengatakan sejarawan asal Garut, Warjita.
Sejarawan Garut, Warjita - Foto: dok. pribadi
Mat Peci tak disukai orang tua Euis karena dianggap sebagai anak nakal. Padahal sebenarnya Mat Peci berasal keluarga berada di Leuwigoong, Garut. Ibunya menikah dengan orang Bandung. Sebenarnya Mat Peci dibesarkan di Bandung bersama kedua orang tuanya. Mat Peci dari garis keturunan ibunya merupakan cucu seorang kiai atau ajengan di Leuwigoong.
Quote:
Kakeknya kiai, cuma memang katanya agak bandel. Bandel, nakal, dalam artian nakal anak kecil. Ada sisi baiknya juga, dia suka menolong sesama, terang Warjita.
sumber
Hari ini 11:14