• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

Say No To WhatsApp, Ah yg Bener Gan?

  • Pembuat thread awal. Pembuat thread awal. Angela
  • Tanggal Mulai Tanggal Mulai

Angela

IndoForum Pro E
No. Urut
88
Sejak
25 Mar 2006
Pesan
45.487
Nilai reaksi
35
Poin
0
Hari-hari ini publik dihebohkan dengan pembaharuan kebijakan WhatssApp. Pembaharuan kebijakan tersebut berkaitan dengan share atau pengiriman informasi pribadi data pengguna ke induk perusahaan, yakni Facebook.
Say No To WhatsApp, Ah yg Bener Gan?


Aplikasi yg Paling Banyak Diunduh di Seluruh Dunia Tahun 2019 (Sumber: kompas.com)​


Pihak WhatsApp semacam memaksa pengguna untuk menyetujui kebijakan yg mereka tawarkan. Jika tidak maka akun pengguna akan ditangguhkan mulai 8 Februari 2020.

Say No To WhatsApp, Ah yg Bener Gan?


Pengguna Perpesanan Mobile Oktober 2020 (Sumber: kontan.co.id)​


Dengan adanya kebijakan baru tersebut para pengguna WhatsApp pun bereaksi. Salah satu yg sangat frontal adalah apa yg diserukan oleh orang terkaya nomor dua dunia saat ini, Elon Musk, yg menyerukan kepada para pengikutnya untuk beralih ke aplikasi semacamnya yakni Signal.

Say No To WhatsApp, Ah yg Bener Gan?


Platform Media Sosial Paling Aktif di Indonesia Januari 2019 (Sumber: detik.com)​


Dengan adanya seruan dari Elon Musk tersebut pihak Signal pun mengumumkan mengalami peningkatan. Dilansir suara.com, 10 Januari 2020, lewat Twitter Signal mengumumkan bahwa terjadi peningkatan begitu banyak pengguna baru yg mencoba bergabung dengan Signal saat ini.

Uninstall WhatsApp & menginstall penggantinya semacam Signal, Telegram, Line, WeChat & yg lainnnya bukan lah perkara sulit. Tinggal acses playstore klik uninstall. Kemudian cari penggantinya & klik install. Secara teknis beres sudah. Yang jadi pertanyaan selanjutnya, setelah pengganti WhatsApp terinstall, apa yg selanjutnya kita lakukan?

Yang perlu diketahui WhatsApp saat ini adalah perpesanan yg menguasai pasar di dunia. Dilansir Kontan.co.id, 29 Desember 2020, WhatsApp dalam penelitian terbaru Stastisa menguasai pasar dengan pengguna aktif setiap bulannya mencapai sekitar 2.000.000.000 pengguna pada Oktober 2020. Jumlah itu hampir dua kalinya dari aplikasi pengiriman pesan di peringkat kedua yakni Facebook Mesenger. Sayangnya bagi para pengguna yg mau beralih, Facebook adalah perusahaan induk dari Whats App.

Pengguna WhatsApp yg terbanyak adalah negara-negara yg mempunyai populasi besar. Di Amerika & di China memang WhatsApp masih kalah dengan Facebook Messenger & WeChat. Tetapi di negara berpenduduk akbar lainnya seperti India, Brazil & Indonesia mereka merajainya.

Khusus di Indonesia kekuatan WhatsApp memang begitu perkasa. Dilansir Liputan6.com, 18 November 2018, sekitar 83 persen pengguna internet di Indonesia memakai aplikasi WhatsApp. Bisa dibayangkan bagaimana mengguritanya WhatsApp pada para pengguna di Indonesia.

Berdasarkan pengalaman pribadi penulis sendiri hampir semua aktifitas perpesanan secara mobile mengpakai Whats App. Aplikasi yg berinduk pada perusahaan milik Mark Zuckerberg ini dipakai oleh orang-orang di sekitar penulis baik untuk keperluan formal maupun informal. Baik untuk urusan kantor maupun pertemanan.

Kemudahan WhatsApp dalam perpesanan, group-group yg memudahkan komunikasi, adanya pesan gambar, foto, voice note, video, melampirkan file, striker, panggilan suara hingga pada panggilan video & semuanya itu dapat diperoleh dengan gratis rasanya memang menciptakan WhatsApp memang sebuah aplikasi perpesanan yg tiada banding dari segi fitur. Maka tidak heran kalau banyak masyarakat kita yg menjadikan WhatsApp sebagai pilihan.

Sampai pada titik ini dengan begitu banyak kemudahan & lazim dipakai pada kehidupan sehari-hari baik pada urusan kantor maupun guyonan, WhatsApp menjadikan bagian dari budaya per pesanan kita. Apalagi dalam masa pandemi yg membutuhkan informasi secara daring lebih banyak.

Rasanya saat ini tidak dapat dibayangkan bagaimana kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia yg terbiasa berkomunikasi dengan smartphone untuk tidak mengpakai WhatsApp yg secara biasa sudah begitu melekat. Menguninstall & mengganti dengan aplikasi lain perkara mudah, tetapi membentuk semua masyarakat on line yg sudah 83 persen memakai WhatsApp bukanlah perkara gampang. Gerakan migrasi dengan jumlah sebesar itu secara bersamaan bukanlah sesuatu hal semudah membalikkan telapak tangan. Apalagi banyak ajakan untuk tidak memakai WhatsApp tetapi disebarkan dengan media WhatsApp, ironis.

Bukannya hal itu tidak mungkin dilakukan, tetapi butuh waktu & mungkin ke samaan bahasa. Lebih efektif lagi kalau pemerintah ikut di dalamnya. Misalnya negara kita meluncurkan perpesanan produk kita sendiri yg kompatibel & bagus, lalu semua diharuskan memakai. Tetapi sekali lagi itu semua butuh proses, waktu, & kerja keras.

Jadi, Say No To WhatsApp? Rasanya sih agak ragu itu dapat terjadi di Indonesia dalam waktu sekarang....I]




Referensi:

1.https://insight.kontan.co.id/news/inilah-aplikasi-pengirim-pesan-mobile-paling-populer-di-dunia

2.https://www.suara.com/tekno/2021/01/10/200347/whatsapp-umumkan-pembaruan-kebijakan-signal-alami-peningkatan-pengguna

3.https://www.liputan6.com/tekno/read/4113678/83-persen-pengguna-internet-indonesia-pakai-whatsapp Hari ini 06:38
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.