pinnacullata
IndoForum Activist C
- No. Urut
- 24506
- Sejak
- 24 Okt 2007
- Pesan
- 13.034
- Nilai reaksi
- 224
- Poin
- 63
Bagi mereka yang terbiasa menggunakan bus sebagai transportasi utama sehari-hari di ibu kota, kehadiran pengemis, pengamen, atau penjaja aneka barang pasti sudah menjadi pandangan biasa. Itulah cara para penghuni ibu kota mencari nafkah. Dalam sebuah perjalanan di bus P67 jurusan Blok M-Senen, Selasa (16/12) pagi, seorang ibu tua, dengan pakaian kumal, duduk di sebelah saya.
Di depan, seorang wanita muda berkaus kuning dan berjas warna merah tengah berkeluh kesah. "Saya sudah dua hari tidak makan. Saya ditelantarkan orang yang membawa saya dari Bandung. Sampai sekarang, saya belum bertemu dia. Mohon bantuan bapak-ibu. Berapa pun akan saya terima, untuk makan dan ongkos kembali ke Bandung," kata wanita berkulit hitam itu dengan berurai air mata.
Kisahnya ternyata menggugah para penumpang bus. Tak ada receh yang mampir ke tangannya. Uang lembaran seribu rupiah diterimanya. Jika dihitung-hitung, lebih dari 10 orang yang memberikannya.
Tak lama, setelah sang wanita muda turun di halte Jalan Diponegoro, ibu tua berpakaian kumal itu pun bersuara. Keluh kesah, atau apapun namanya, ia berujar, "Zaman seperti sekarang, Nak, banyak cara orang cari uang. Tapi saya heran, orang yang masih muda gitu kok minta-minta, masih segar bugar. Kalau orang yang cacat enggak apa-apa. Lebih baik kan tangan di atas, daripada tangan di bawah. Kalau dia mau usaha, masih bisa mulung, kan? Dijual, dikilo, dapet uang walaupun enggak seberapa," kata ibu bertubuh kurus itu.
Di pundak ibu tua itu tersampir kain jarik panjang yang mengikat sebuah tas dari karung beras. Tas karung itu berisi beberapa botol air mineral. Dengan dua tangan yang tak lepas dari kursi di depannya sebagai pegangan, ia melanjutkan ceritanya, "Harusnya kalau minta-minta gitu jangan di bus. Kita yang naik bus kan juga bukan orang senang semua. Minta ke mereka yang naik mobil itu," katanya sembari menunjuk ke luar kaca jendela bus, sebuah mobil sedan baru saja melintas.
Saat ditanya apa pekerjaannya, ibu yang tak mau menyebut namanya itu mengatakan, ia seorang pemulung. Seluruh pelosok ibu kota dijelajahinya. Hasil barang pulungan itu dijualnya secara kiloan di sebuah agen di kawasan Kramat Sentiong, dan beberapa botol air mineral itu akan dijualnya pagi ini.
Cerita itu berakhir saat bis tiba di kawasan Kramat. Genggaman tangan yang memegang kursi pun dilepaskan ibu itu. Tangan kirinya tampak bergetar. "Bisa tolong pegang saya, Nak? Saya kena stroke ringan," kata dia menjelaskan saat akan bangkit dari bangku yang didudukinya.
Saat berjalan, kakinya melangkah dengan terpincang-pincang, "Pelan-pelan Bang, orang cacat yang turun," pintanya pada sang kernet. Dari kejauhan, terlihat si ibu yang tak bugar itu berjalan tertatih-tatih, menuju Kramat Sentiong, menjual barang yang berhasil dipulungnya...
================
kompas
Di depan, seorang wanita muda berkaus kuning dan berjas warna merah tengah berkeluh kesah. "Saya sudah dua hari tidak makan. Saya ditelantarkan orang yang membawa saya dari Bandung. Sampai sekarang, saya belum bertemu dia. Mohon bantuan bapak-ibu. Berapa pun akan saya terima, untuk makan dan ongkos kembali ke Bandung," kata wanita berkulit hitam itu dengan berurai air mata.
Kisahnya ternyata menggugah para penumpang bus. Tak ada receh yang mampir ke tangannya. Uang lembaran seribu rupiah diterimanya. Jika dihitung-hitung, lebih dari 10 orang yang memberikannya.
Tak lama, setelah sang wanita muda turun di halte Jalan Diponegoro, ibu tua berpakaian kumal itu pun bersuara. Keluh kesah, atau apapun namanya, ia berujar, "Zaman seperti sekarang, Nak, banyak cara orang cari uang. Tapi saya heran, orang yang masih muda gitu kok minta-minta, masih segar bugar. Kalau orang yang cacat enggak apa-apa. Lebih baik kan tangan di atas, daripada tangan di bawah. Kalau dia mau usaha, masih bisa mulung, kan? Dijual, dikilo, dapet uang walaupun enggak seberapa," kata ibu bertubuh kurus itu.
Di pundak ibu tua itu tersampir kain jarik panjang yang mengikat sebuah tas dari karung beras. Tas karung itu berisi beberapa botol air mineral. Dengan dua tangan yang tak lepas dari kursi di depannya sebagai pegangan, ia melanjutkan ceritanya, "Harusnya kalau minta-minta gitu jangan di bus. Kita yang naik bus kan juga bukan orang senang semua. Minta ke mereka yang naik mobil itu," katanya sembari menunjuk ke luar kaca jendela bus, sebuah mobil sedan baru saja melintas.
Saat ditanya apa pekerjaannya, ibu yang tak mau menyebut namanya itu mengatakan, ia seorang pemulung. Seluruh pelosok ibu kota dijelajahinya. Hasil barang pulungan itu dijualnya secara kiloan di sebuah agen di kawasan Kramat Sentiong, dan beberapa botol air mineral itu akan dijualnya pagi ini.
Cerita itu berakhir saat bis tiba di kawasan Kramat. Genggaman tangan yang memegang kursi pun dilepaskan ibu itu. Tangan kirinya tampak bergetar. "Bisa tolong pegang saya, Nak? Saya kena stroke ringan," kata dia menjelaskan saat akan bangkit dari bangku yang didudukinya.
Saat berjalan, kakinya melangkah dengan terpincang-pincang, "Pelan-pelan Bang, orang cacat yang turun," pintanya pada sang kernet. Dari kejauhan, terlihat si ibu yang tak bugar itu berjalan tertatih-tatih, menuju Kramat Sentiong, menjual barang yang berhasil dipulungnya...
================
kompas


...ane dah tiap hari dengeri kalimat kaya gitu tetap aja susah