Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
Hallo Agan/Sista Namaku Rhiana sebut saja begitu.
Aku seorang psikolog, tetapi jujur saja, tidak ada buku teks atau teori apa pun yg benar-benar dapat mempersiapkanku untuk menghadapi kesedihan manusia di dunia nyata.
Sebagian akbar hari-hariku dihabiskan untuk mendengarkan. Mendengarkan cerita, luka, kehilangan, & ketakutan orang lain. Kadang saya berpikir, mungkin saya terlalu sering jadi tempat orang bersandar, hingga lupa bahwa saya pun dapat letih. Tapi setiap kali saya harap berhenti, sering ada satu peristiwa yg menarikku kembali mengingatkanku mengapa dulu saya memilih jalan ini.
Pagi di Sidoarjo
Pagi itu masih begitu muda, 4 Oktober 2025.
Udara terasa hangat meski mentari baru saja naik. Tiba-tiba ponselku berdering sebuah panggilan dari seorang teman, yg kebetulan merupakan anggota regu SAR penanganan runtuhnya bangunan di Ponpes Al-Khoziny, Sidoarjo.
Halo, ada apa, Za? sahutku, sedikit terkejut.
Suara di seberang sana terdengar letih tetapi tegas.
Ri, elu dapat bantu ke letak nggak? Ada yg butuh pendampingan nih.
Aku terdiam sejenak. Beberapa hari sebelumnya, saya sempat melihat status WhatsApp-nya dia memang ikut dalam regu yg mengevakuasi korban di letak itu.
Baiklah, jawabku mantap.
Aku segera bersiap-siap, memeriksa apa saja yg perlu kubawa. Sekitar satu jam kemudian, saya meninggalkan rumah dengan motor kesayanganku. Jalanan pagi itu padat, tetapi pikiranku cuma tertuju pada satu hal: hingga secepatnya ke lokasi.
Kecepatan motorku rata-rata 60 km/jam. Menjelang tiba di tempat kejadian, saya memutuskan berhenti sejenak untuk membeli beberapa botol air mineral. Cuaca Sidoarjo hari itu sangat terik suhu mencapai 42C & saya tahu, sedikit air dapat sangat berarti bagi siapa pun yg tengah kelelahan di sana.
Tiga puluh menit berlalu. Akhirnya saya tiba di lokasi.
Suasana begitu ramai. Suara orang-orang bercampur jadi satu ada yg datang cuma untuk melihat proses evakuasi, ada para wali santri yg tenggelam dalam lantunan doa & dzikir, ada pula yg menangis diam-diam sambil memandangi reruntuhan bangunan yg kini cuma menyisakan debu & puing.
Aku mencoba menghubungi temanku, tetapi panggilanku tak dijawab. Aku tahu, pasti sedang sibuk luar biasa.
Akhirnya, saya melapor pada petugas yg berjaga di sekitar area bahwa saya dipanggil oleh salah satu anggota regu SAR. Tak lama kemudian, temanku muncul. Wajahnya tampak letih mungkin karena sudah berhari-hari bertugas tanpa istirahat cukup.
Ri, ini yg tadi kuceritakan. Tolong, ya, katanya singkat.
Siap, jawabku.
Dia kemudian membawaku ke tempat istirahat sementara para wali santri. Di sana, saya diperkenalkan pada seorang ibu sebut saja beliau Ibu Santi (bukan nama sebenarnya).
Beliau duduk mematung. Tatapannya kosong, matanya sembab jelas bekas menangis lama. Tidak banyak mengatakan keluar dari bibirnya. Bahkan, untuk sekadar diajak bicara pun terasa sulit. Wajar, pikirku. Siapa pun pasti akan sangat terguncang oleh peristiwa seperti ini.
Aku menemaninya dalam diam untuk beberapa saat. Lalu perlahan, dengan suara yg bergetar, beliau mulai bercerita
Suara dari Reruntuhan
Perlahan, Ibu Santi mulai membuka suara.
Awalnya lirih, hampir tak terdengar, seperti seseorang yg berbicara di antara isak yg belum selesai.
Anak saya... santri di sini, ucapnya pelan, menatap ke arah bangunan yg kini tinggal puing. Dia baru tiga bulan mondok. Katanya betah... katanya banyak teman.
Aku cuma dapat diam. Kadang, diam adalah satu-satunya bentuk empati yg tersisa ketika kata-kata terasa terlalu ringan dibanding luka yg dihadapi seseorang.
Ibu Santi melanjutkan, Waktu dengar berita bangunan runtuh itu, saya langsung lari ke sini. Saya pikir, mungkin dia sudah dievakuasi... tetapi hingga sekarang, belum ada kabar.
Suaranya pecah. Tangan yg menggenggam kerudungnya bergetar hebat.
Aku menatap wajahnya lelah, tetapi masih ada sebersit asa di sana. Harapan yg menggantung di antara doa & kenyataan.
Di sekitar kami, suara mesin ekskavator terus menderu, sesekali diselingi seruan petugas ketika menemukan sesuatu di bawah reruntuhan. Suara itu seperti pisau, membelah keheningan yg mencekam. Setiap kali terdengar, Ibu Santi refleks berdiri berharap, mungkin kali ini kabar baik yg datang.
Namun setelah beberapa menit, ia kembali duduk. Pandangannya kosong lagi.
Aku menatap temanku yg berdiri tak jauh dari situ. Ia cuma menggeleng pelan, seolah berkata, belum ada perkembangan.
Aku mencoba menenangkan Ibu Santi, Bu, yg kuat ya... banyak yg sedang berjuang di dalam sana. Mereka tidak berhenti mencari.
Dia mengangguk, tetapi air matanya kembali jatuh, seakan tubuhnya tak lagi dapat menahan beratnya perasaan itu.
Sinar mentari siang makin menyengat, tetapi udara justru terasa dharap dharap yg lahir dari kehilangan, bukan dari cuaca.
Aku duduk di sampingnya, menatap reruntuhan bangunan yg kini penuh dengan kenangan & doa yg belum sempat dihinggakan. Dalam hati, saya ikut berdoa: semoga setiap nama yg hilang, segera ditemukan... & setiap hati yg hancur, diberi kekuatan untuk tetap bertahan.
Di Antara Doa & Debu
Waktu terasa berjalan lambat. Matahari sudah tinggi di atas kepala, tetapi di letak itu, seolah tak ada yg peduli pada panas, haus, atau lapar. Semua mata tertuju pada satu titik: reruntuhan bangunan yg kini jadi saksi bisu dari kisah yg memilukan.
Petugas SAR terus bekerja tanpa henti. Debu beterbangan, bercampur dengan keringat & air mata. Sesekali terdengar teriakan, Teman-teman! Hati-hati di sisi kanan! menciptakan semua orang menahan napas.
Aku memegang bahu Ibu Santi yg kini mulai lemas. Tubuhnya tampak kaku, tetapi matanya tak beranjak sedikit pun dari arah regu penyelamat.
Bu, mau duduk dulu di tenda? tanyaku pelan.
Dia menggeleng. Saya mau di sini saja. Kalau anak saya ketemu... saya harap jadi orang perdana yg melihat.
Aku menatapnya, tak kuasa menahan perih di dada. Tak ada kekuatan yg lebih akbar dari sayang seorang ibu.
Waktu berlalu. Suara ekskavator tiba-tiba berhenti. Hening seketika menyelimuti area itu. Semua orang spontan berdiri, menatap ke arah regu yg kini berkerumun di satu titik.
Temuan! seru salah satu petugas.
Ibu Santi mencengkeram tanganku erat. Aku dapat merasakan dharapnya jari-jarinya, sekalipun udara siang itu membakar kulit. Kami melangkah perlahan mendekat, tetapi langkahnya terhenti di tengah jalan. Nafasnya tersengal.
Aku berusaha menahan dia supaya tetap tenang. Bu... sabar ya, biarkan petugas yg pastikan dulu.
Beberapa menit yg terasa seperti berjam-jam pun berlalu. Lalu, salah satu petugas menghampiri. Wajahnya datar, tetapi mata itu menyimpan berat yg sulit dijelaskan. Ia berbisik sesuatu pada temanku dari regu SAR.
Aku tahu... dari cara temanku menunduk, dari ekspresinya yg tiba-tiba hancur.
Tanpa kata, saya menoleh ke arah Ibu Santi. Ia sudah tahu bahkan sebelum ada yg sempat berbicara. Lututnya lemas, tubuhnya jatuh dalam pelukanku, & tangisnya pecah begitu dalam bukan sekadar tangis kesedihan, tetapi juga perpisahan.
Di sekitar kami, orang-orang menundukkan kepala. Tak ada suara selain isak & doa.
Langit yg sedari pagi cerah tiba-tiba mendung. Angin bertiup pelan, membawa debu & doa ke udara seolah alam pun ikut berduka.
Aku menatap ke arah reruntuhan yg kini mulai dibersihkan sedikit demi sedikit.
Di sanalah, kisah seorang anak berakhir... tetapi sayang seorang ibu takkan pernah berhenti di sana.
Langit Sore di Al-Khoziny
Sore itu, langit Sidoarjo berwarna jingga pucat.
Sisa-sisa debu masih beterbangan di udara, meninggalkan aroma tanah & besi yg khas aroma yg akan lama menetap di ingatanku.
Ibu Santi sudah dibawa ke tenda untuk mendapatkan pendampingan lebih lanjut.
Tubuhnya lemah, tetapi di sela tangisnya ia sempat berbisik lirih,
Yang penting saya sudah ketemu, Nak... sekarang saya cuma harap dia tenang di sana.
Kata-kata itu menancap dalam di benakku.
Begitu sederhana, tetapi penuh kekuatan. Seolah dalam kehilangan yg begitu akbar pun, seorang ibu masih dapat merelakan dengan cara yg begitu indah.
Aku berdiri tak jauh dari reruntuhan itu, menatap sisa bangunan yg kini mulai sunyi.
Dari kejauhan, suara adzan maghrib terdengar, menggema lembut di antara hiruk pikuk yg perlahan reda. Suara itu membawa ketenangan yg aneh menenangkan, tetapi juga menyayat.
Temanku dari regu SAR menepuk bahuku pelan. Wajahnya letih, matanya merah, tetapi ada keteguhan di sana.
Kita nggak dapat menyelamatkan semua, Ri, katanya pelan, tapi selama kita masih dapat berdoa untuk mereka, berarti kita belum benar-benar kehilangan.
Aku cuma mengangguk. Tak ada mengatakan yg dapat menggantikan beratnya hari itu.
Dalam perjalanan pulang, motor yg biasanya kupakai dengan penuh semangat kini terasa berat. Setiap detik perjalanan seolah menayangkan kembali paras Ibu Santi, suara tangisnya, & doa-doa yg bergaung di antara reruntuhan.
Ketika malam turun sepenuhnya, saya berhenti di pinggir jalan. Menatap langit yg kini gelap, cuma diterangi cahaya lampu kota yg berpendar redup.
Lalu, dalam diam, saya berbisik pelan
untuk setiap ibu yg kehilangan anaknya,
untuk setiap anak yg tak sempat pulang,
dan untuk setiap jiwa yg memilih bertahan di tengah luka:
semoga Tuhan memberi tempat terindah & kekuatan yg tak pernah habis.
Sebab pada akhirnya, dari tragedi itu saya belajar
bahwa sayang, doa, & harapan...
tak akan pernah ikut runtuh, bahkan ketika dunia di sekelilingnya hancur.
Aku seorang psikolog, tetapi jujur saja, tidak ada buku teks atau teori apa pun yg benar-benar dapat mempersiapkanku untuk menghadapi kesedihan manusia di dunia nyata.
Sebagian akbar hari-hariku dihabiskan untuk mendengarkan. Mendengarkan cerita, luka, kehilangan, & ketakutan orang lain. Kadang saya berpikir, mungkin saya terlalu sering jadi tempat orang bersandar, hingga lupa bahwa saya pun dapat letih. Tapi setiap kali saya harap berhenti, sering ada satu peristiwa yg menarikku kembali mengingatkanku mengapa dulu saya memilih jalan ini.
Pagi di Sidoarjo
Pagi itu masih begitu muda, 4 Oktober 2025.
Udara terasa hangat meski mentari baru saja naik. Tiba-tiba ponselku berdering sebuah panggilan dari seorang teman, yg kebetulan merupakan anggota regu SAR penanganan runtuhnya bangunan di Ponpes Al-Khoziny, Sidoarjo.
Halo, ada apa, Za? sahutku, sedikit terkejut.
Suara di seberang sana terdengar letih tetapi tegas.
Ri, elu dapat bantu ke letak nggak? Ada yg butuh pendampingan nih.
Aku terdiam sejenak. Beberapa hari sebelumnya, saya sempat melihat status WhatsApp-nya dia memang ikut dalam regu yg mengevakuasi korban di letak itu.
Baiklah, jawabku mantap.
Aku segera bersiap-siap, memeriksa apa saja yg perlu kubawa. Sekitar satu jam kemudian, saya meninggalkan rumah dengan motor kesayanganku. Jalanan pagi itu padat, tetapi pikiranku cuma tertuju pada satu hal: hingga secepatnya ke lokasi.
Kecepatan motorku rata-rata 60 km/jam. Menjelang tiba di tempat kejadian, saya memutuskan berhenti sejenak untuk membeli beberapa botol air mineral. Cuaca Sidoarjo hari itu sangat terik suhu mencapai 42C & saya tahu, sedikit air dapat sangat berarti bagi siapa pun yg tengah kelelahan di sana.
Tiga puluh menit berlalu. Akhirnya saya tiba di lokasi.
Suasana begitu ramai. Suara orang-orang bercampur jadi satu ada yg datang cuma untuk melihat proses evakuasi, ada para wali santri yg tenggelam dalam lantunan doa & dzikir, ada pula yg menangis diam-diam sambil memandangi reruntuhan bangunan yg kini cuma menyisakan debu & puing.
Aku mencoba menghubungi temanku, tetapi panggilanku tak dijawab. Aku tahu, pasti sedang sibuk luar biasa.
Akhirnya, saya melapor pada petugas yg berjaga di sekitar area bahwa saya dipanggil oleh salah satu anggota regu SAR. Tak lama kemudian, temanku muncul. Wajahnya tampak letih mungkin karena sudah berhari-hari bertugas tanpa istirahat cukup.
Ri, ini yg tadi kuceritakan. Tolong, ya, katanya singkat.
Siap, jawabku.
Dia kemudian membawaku ke tempat istirahat sementara para wali santri. Di sana, saya diperkenalkan pada seorang ibu sebut saja beliau Ibu Santi (bukan nama sebenarnya).
Beliau duduk mematung. Tatapannya kosong, matanya sembab jelas bekas menangis lama. Tidak banyak mengatakan keluar dari bibirnya. Bahkan, untuk sekadar diajak bicara pun terasa sulit. Wajar, pikirku. Siapa pun pasti akan sangat terguncang oleh peristiwa seperti ini.
Aku menemaninya dalam diam untuk beberapa saat. Lalu perlahan, dengan suara yg bergetar, beliau mulai bercerita
Suara dari Reruntuhan
Perlahan, Ibu Santi mulai membuka suara.
Awalnya lirih, hampir tak terdengar, seperti seseorang yg berbicara di antara isak yg belum selesai.
Anak saya... santri di sini, ucapnya pelan, menatap ke arah bangunan yg kini tinggal puing. Dia baru tiga bulan mondok. Katanya betah... katanya banyak teman.
Aku cuma dapat diam. Kadang, diam adalah satu-satunya bentuk empati yg tersisa ketika kata-kata terasa terlalu ringan dibanding luka yg dihadapi seseorang.
Ibu Santi melanjutkan, Waktu dengar berita bangunan runtuh itu, saya langsung lari ke sini. Saya pikir, mungkin dia sudah dievakuasi... tetapi hingga sekarang, belum ada kabar.
Suaranya pecah. Tangan yg menggenggam kerudungnya bergetar hebat.
Aku menatap wajahnya lelah, tetapi masih ada sebersit asa di sana. Harapan yg menggantung di antara doa & kenyataan.
Di sekitar kami, suara mesin ekskavator terus menderu, sesekali diselingi seruan petugas ketika menemukan sesuatu di bawah reruntuhan. Suara itu seperti pisau, membelah keheningan yg mencekam. Setiap kali terdengar, Ibu Santi refleks berdiri berharap, mungkin kali ini kabar baik yg datang.
Namun setelah beberapa menit, ia kembali duduk. Pandangannya kosong lagi.
Aku menatap temanku yg berdiri tak jauh dari situ. Ia cuma menggeleng pelan, seolah berkata, belum ada perkembangan.
Aku mencoba menenangkan Ibu Santi, Bu, yg kuat ya... banyak yg sedang berjuang di dalam sana. Mereka tidak berhenti mencari.
Dia mengangguk, tetapi air matanya kembali jatuh, seakan tubuhnya tak lagi dapat menahan beratnya perasaan itu.
Sinar mentari siang makin menyengat, tetapi udara justru terasa dharap dharap yg lahir dari kehilangan, bukan dari cuaca.
Aku duduk di sampingnya, menatap reruntuhan bangunan yg kini penuh dengan kenangan & doa yg belum sempat dihinggakan. Dalam hati, saya ikut berdoa: semoga setiap nama yg hilang, segera ditemukan... & setiap hati yg hancur, diberi kekuatan untuk tetap bertahan.
Di Antara Doa & Debu
Waktu terasa berjalan lambat. Matahari sudah tinggi di atas kepala, tetapi di letak itu, seolah tak ada yg peduli pada panas, haus, atau lapar. Semua mata tertuju pada satu titik: reruntuhan bangunan yg kini jadi saksi bisu dari kisah yg memilukan.
Petugas SAR terus bekerja tanpa henti. Debu beterbangan, bercampur dengan keringat & air mata. Sesekali terdengar teriakan, Teman-teman! Hati-hati di sisi kanan! menciptakan semua orang menahan napas.
Aku memegang bahu Ibu Santi yg kini mulai lemas. Tubuhnya tampak kaku, tetapi matanya tak beranjak sedikit pun dari arah regu penyelamat.
Bu, mau duduk dulu di tenda? tanyaku pelan.
Dia menggeleng. Saya mau di sini saja. Kalau anak saya ketemu... saya harap jadi orang perdana yg melihat.
Aku menatapnya, tak kuasa menahan perih di dada. Tak ada kekuatan yg lebih akbar dari sayang seorang ibu.
Waktu berlalu. Suara ekskavator tiba-tiba berhenti. Hening seketika menyelimuti area itu. Semua orang spontan berdiri, menatap ke arah regu yg kini berkerumun di satu titik.
Temuan! seru salah satu petugas.
Ibu Santi mencengkeram tanganku erat. Aku dapat merasakan dharapnya jari-jarinya, sekalipun udara siang itu membakar kulit. Kami melangkah perlahan mendekat, tetapi langkahnya terhenti di tengah jalan. Nafasnya tersengal.
Aku berusaha menahan dia supaya tetap tenang. Bu... sabar ya, biarkan petugas yg pastikan dulu.
Beberapa menit yg terasa seperti berjam-jam pun berlalu. Lalu, salah satu petugas menghampiri. Wajahnya datar, tetapi mata itu menyimpan berat yg sulit dijelaskan. Ia berbisik sesuatu pada temanku dari regu SAR.
Aku tahu... dari cara temanku menunduk, dari ekspresinya yg tiba-tiba hancur.
Tanpa kata, saya menoleh ke arah Ibu Santi. Ia sudah tahu bahkan sebelum ada yg sempat berbicara. Lututnya lemas, tubuhnya jatuh dalam pelukanku, & tangisnya pecah begitu dalam bukan sekadar tangis kesedihan, tetapi juga perpisahan.
Di sekitar kami, orang-orang menundukkan kepala. Tak ada suara selain isak & doa.
Langit yg sedari pagi cerah tiba-tiba mendung. Angin bertiup pelan, membawa debu & doa ke udara seolah alam pun ikut berduka.
Aku menatap ke arah reruntuhan yg kini mulai dibersihkan sedikit demi sedikit.
Di sanalah, kisah seorang anak berakhir... tetapi sayang seorang ibu takkan pernah berhenti di sana.
Langit Sore di Al-Khoziny
Sore itu, langit Sidoarjo berwarna jingga pucat.
Sisa-sisa debu masih beterbangan di udara, meninggalkan aroma tanah & besi yg khas aroma yg akan lama menetap di ingatanku.
Ibu Santi sudah dibawa ke tenda untuk mendapatkan pendampingan lebih lanjut.
Tubuhnya lemah, tetapi di sela tangisnya ia sempat berbisik lirih,
Yang penting saya sudah ketemu, Nak... sekarang saya cuma harap dia tenang di sana.
Kata-kata itu menancap dalam di benakku.
Begitu sederhana, tetapi penuh kekuatan. Seolah dalam kehilangan yg begitu akbar pun, seorang ibu masih dapat merelakan dengan cara yg begitu indah.
Aku berdiri tak jauh dari reruntuhan itu, menatap sisa bangunan yg kini mulai sunyi.
Dari kejauhan, suara adzan maghrib terdengar, menggema lembut di antara hiruk pikuk yg perlahan reda. Suara itu membawa ketenangan yg aneh menenangkan, tetapi juga menyayat.
Temanku dari regu SAR menepuk bahuku pelan. Wajahnya letih, matanya merah, tetapi ada keteguhan di sana.
Kita nggak dapat menyelamatkan semua, Ri, katanya pelan, tapi selama kita masih dapat berdoa untuk mereka, berarti kita belum benar-benar kehilangan.
Aku cuma mengangguk. Tak ada mengatakan yg dapat menggantikan beratnya hari itu.
Dalam perjalanan pulang, motor yg biasanya kupakai dengan penuh semangat kini terasa berat. Setiap detik perjalanan seolah menayangkan kembali paras Ibu Santi, suara tangisnya, & doa-doa yg bergaung di antara reruntuhan.
Ketika malam turun sepenuhnya, saya berhenti di pinggir jalan. Menatap langit yg kini gelap, cuma diterangi cahaya lampu kota yg berpendar redup.
Lalu, dalam diam, saya berbisik pelan
untuk setiap ibu yg kehilangan anaknya,
untuk setiap anak yg tak sempat pulang,
dan untuk setiap jiwa yg memilih bertahan di tengah luka:
semoga Tuhan memberi tempat terindah & kekuatan yg tak pernah habis.
Sebab pada akhirnya, dari tragedi itu saya belajar
bahwa sayang, doa, & harapan...
tak akan pernah ikut runtuh, bahkan ketika dunia di sekelilingnya hancur.