Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
Membaca thread ini pemikiran jangan sempit, jangan juga menghina orang yg beragama karena tujuan thread ini cuma untuk memberikan fakta yg sering kita temui di dunia yg fana ini.
Ketika pendidikan itu penting maka belajar hal-hal yg merupakan ilmu dari Agama pun dapat dibilang sangat penting. Terlebih keyakinan yg dianut manusia ini banyak sekali ilmu yg dapat dipelajari, hingga jadi seorang pakar tentu dibutuhkan belajar.
Namun ketika pendidikan agama yg sudah dipelajari di sekolah biasa baik dari SD hingga SMA, khususnya untuk agama mayoritas di Indonesia yg mendapatkan porsi tambahan dalam dunia pendidikan. Apakah dapat mengubah bangsa ini lebih mensayangi agamanya?
Sekolah-sekolah berbasis agama di Indonesia memang banyak, bahkan masalah kedisiplinan mereka lebih baik daripada sekolah biasa yg ada di Indonesia.
Basis Sekolah Tinggi yg berlandaskan agama pun juga banyak beredar di nusantara tersayang ini contohnya, Universitas Kristen seperti Petra, Cipta Wacana, Immanuel & lainya. Kemudian ada Universitas Katolik seperti Atmajaya, Tarumanegara, Parahyangan, & lainnya lalu ada juga Sekolah Tinggi Buddha seperti Raden Wijaya, Sriwijaya, Nalanda & lainnya tak ketinggalan ada juga Universitas Hindu seperti Gusti Bagus Sugriwa, Gde Pudja, Tampung Penyang & lainnya. Yang paling banyak adalah Universitas Islam seperti Syarif Hidayatullah, Gunung Djati, Sunan Ampel, Sultan Syarif Kasim, Maulana Malik Ibrahim & lainnya.
Universitas berbasis agama ini tentu mempunyai jurusan atau fakultas yg sama dengan universitas biasa lainnya, cuma saja pendidikan agama lebih dikedepankan untuk siswanya.
Tentu tujuan Universitas berbasis agama ini supaya masyarakat Indonesia, khususnya mereka yg lulus sebagai mahasiswa & masuk ke dalam banyaknya profesi pekerjaan di dunia supaya sering ingat kepada Tuhan, jadi manusia lebih beradab, & lebih terbuka wawasannya hingga takut untuk bertindak menyalahi hukum, seperti korupsi, kriminal, tipu menipu & banyak hal dapat saja terjadi kalau iman mereka lemah.
Kalau di atas adalah Universitas berbasis agama lantas bagaimana dengan Sarjana Agama? Ingat Sarjana Agama ini dapat dari pendidikan Agama Islam, Kristen Buddha & Hindu atau yg lainnya. Di zaman serba kapitalis ini, lulusan Sarjana Agama akan bekerja dimana? Apakah semua harus jadi misionaris atau pendakwah? Atau semua jadi guru atau dosen, bahkan masuk di pemerintahan lewat Departemen Agama.
Atau lulusan Sarjana Agama sangat sulit mendapatkan pekerjaan seperti video diatas?
Lantas kita berfikir kritis dengan kenyataan yg ada saat ini, bagaimana sekarang tentu semakin banyak para pakar Agama karena lulus dari sekolah tinggi ternyata tidak menciptakan perubahan pada sistem yg ada di Indonesia, tidak menciptakan masyarakat jadi takut dengan Tuhan.
Terlebih banyak Sarjana Agama yg sulit bertarung dalam dunia kerja, persaingan yg begitu bebas & terbuka memang jadi salah satu faktor banyak Sarjana pada umumnya menganggur.
Umumnya Sarjana Agama banyak mempelajari tentang kajian kepustakaan, baik berupa teori, sejarah, bahasa, & sastra. Bisa dibilang cuma sekedar teori & normatif, kemampuan mereka ini kita sebut saja softskill sedikit sekali tentang Hardskill karena pada dasarnya teori & di lapangan jelas berbeda.
Pemikiran-pemikiran kontemporer juga banyak di cekoki di dalam kampus, seperti Apakah Tuhan ada? Jika Tuhan ada, lalu di mana Tuhan?pertanyaan yg sering memberikan diskusi yg menarik, hingga debat tak berujung namun kesimpulannya cuma sepakat atau tidak sepakat.
Lalu kajian-kajian yg bersifat filsafat seperti Ontologi, epistemologi, aksiologi,bahkan ada juga yg dicekoki ilmu cocoklogi.
Namun tidak hingga disitu saja, perdebatan teoritis sering dipikirkan hingga akhirnya mulai memasuki tahap yg kritis pemikiran para orientalis & pemikiran kiri bersifat kontroversial mulai dilahap juga. Tak jarang pemikiran ini membawa lulusan Sarjana Agama ketingkat skeptis.
Ujungnya akan ada pemikiran agama yg bercabang & menciptakan cara beragama sendiri, seperti pemikiran meninggalkan Shalat dalam agama Islam karena inti Shalat mengingat Tuhan, jadi kalau mereka khusuk mengingat Tuhan tanpa Shalat itu dianggap tidak apa-apa.
Contoh nyatanya adalah,
Quote:
Salah satu kandidat Doktor bernama Abdul Aziz dengan hasil disertasinya tiba-tiba menghentak masyarakat Indonesia.
Mahasiswa program doktor Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ini viral & ramai dibicarakan menyusul hasil disertasinya yg berjudul Konsep Milk al- Yamin Muhammad Syahrur Sebagai Keabsahan Hubungan Seks Non-Marital.
Salah satu penguji disertasi Abdul Aziz, Prof Euis Nurlaila mengatakan disertasi itu merupakan kajian ilmiah atas pemikiran Syahrur. Abdul Aziz memahami bahwa konsep "Milk Al-Yamin" hubungan seksual di luar perkawinan diperbolehkan dalam Islam.
Dalam disertasinya, Abdul menekankan bahwa Syahrur mengembangkan konsep ini untuk diterapkan di masa sekarang dalam beberapa bentuk perkawinan atau tepatnya hubungan seksual seperti nikah misyar, nikah pertemanan atau lainnya.
"Tujuan Syahrur dalam pemahaman penulis (Abdul Aziz) adalah untuk melindungi institusi perkimpoian yg diagungkan Syariat Islam untuk jadi keluarga yg sakinah, bahagia, & damai," mengatakan dia.
Sementara itu, Alimatul Qibtiyah, penguji disertasi Abdul Aziz lainnya, menilai pemikiran Syahrur mengakui konsep "Milk Al-Yamin" problematis khususnya kalau dilihat dari perspektif kesetaraan gender.
Promotor disertasi Abdul Aziz, Prof Khoirudin Nasution menjelaskan dalam disertasi yg ditulis Abdul Aziz, konsep Milk Al Yamin yg dicetuskan oleh Muhammad Syahrul mencoba mengontekstualisasikan dalam kehidupan kontemporer sekarang dengan beberapa perkimpoian yg bertujuan memenuhi kebutuhan biologis yakni nikah al-mut'ah, nikah al-muhallil, nikah al-'irfi, nikah al-misfar, nikah friend, serta nikah al-musakanah.
Nikah-nikah sejenis itu, menurut dia, biasa dilakukan orang-orang Eropa, termasuk Rusia, di mana Syahrur hidup lama. Secara hermeneutika konteks inilah yg menginspirasi pandangan Syahrur.
Dll.....
sumber kutipan
Silahkan baca lebih lengkap di sumber kutipan.
Kalau orang awam akan menganggap pandangan ini sesat & tidak masuk akal tetapi kita lihat dulu track recordAbdul Azis yg merupakan seorang lulusan S-2 IAIN Semarang & S-1 IAIN Alauddin Makassar, terlebih lagi dia adalah seorang dosen, tentu kita dapat memahami bahwa ia bukanlah orang yg tidak paham agama.
Terlebih pemikiran ini bukan pemikiran baru namun konsep ini dibuat oleh pemikiran Muhammad Syahrur yg memang terkenal sebagai pemikir islam kontemporer & kontroversial, mengpakai pendekatan hermeneutika.
Itu salah satu contoh lulusan Sarjana Agama yg kita berfikir akan mendekati prilaku yg baik namun kok malah terkesan aneh.
Padahal di dalam kampus hal seperti itu sudah biasa, banyak firqah sudah jadi hal yg jamak.
Jadi pada dasarnya apakah Sarjana Agama masih penting di Indonesia? Karena pemikiran lulusan Sarjana Agama ini dapat saja out of the box walau tidak semuanya.
Atau memang penting karena dapat jadi calon menantu idaman karena ada embel-embel Sarjana Agama pasti orang baik, & takut kepada Tuhan! Apalagi bila pintar berdakwah maka profesi itu dapat mendatangkan kemakmuran dari segi keuangan, karena berdakwah di zaman sekarang mendapatkan bayaran bahkan ada beberapa pendakwah yg memakai management tentu derajatnya sama seperti selebritis yg banyak penggemarnya, tak heran ada yg jadi bintang iklan.
Apa pendapatmu tentang hal ini gan?
Terima kasih yg sudah membaca thread ini hingga akhir, bila ada kritik silahkan dihinggakan & semoga thread ini bermanfaat, tetap sehat & merdeka. See u next thread.
"Nikmati Membaca Dengan Santuy"
--------------------------------------
Tulisan : c4punk@2021
referensi : klik, klik, klik
Pic : google