• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

Santri Double Privilege

  • Pembuat thread awal. Pembuat thread awal. Angela
  • Tanggal Mulai Tanggal Mulai

Angela

IndoForum Pro E
No. Urut
88
Sejak
25 Mar 2006
Pesan
45.487
Nilai reaksi
35
Poin
0
Santri Double Privilege


Cangkeman.net -Secara bahasa mengatakan privilege memiliki arti hak istimewa,hak khusus, keunggulan. Kata ini berasal dari bahasa Inggris yg secara istilah arti privilege adalah hak istimewa yg biasanya didapatkan sejak lahir oleh anak-anak orang kaya. Hak istimewa tidak cuma uang secara harfiah,tapi juga channel, kesempatan, pengalaman & sejenisnya. Privilage yg akan saya uraikan bukanlah siapa kita & oleh siapa kita dilahirkan tetapi bagaimana kita mencari hak istimewa itu dengan jalan yg sudah jadi jalan kita. Afdolnya kita sebagai santri Nusantara.

Santri adalah anak-anak didik yg sedang mencari ilmu, khususnya ilmu agama. Di mana tidak banyak dari seluruh anak muda di Indonesia yg mendalami ilmu agama. Dari sepersekian pemuda Indonesia jadi santri adalah sebuah privilege .Bagaimana tidak, santri itu manusia opsi yg memiliki akses untuk mengerjakan banyak hal. Dengan berpegang agama semua akan berjalan sesuai syariat & kaidah sosial masyarakat. Sedang kita tahu semua agama mengajarkan kebaikan & kita berada pada agama yg sempurna, kompleks rahmatalil'alamin.

Di mana letak rahmatalil'alaminnya? Mudah, lihat Presiden ke 4 Indonesia, Gus Dur. Beliau dijuluki sebagai Bapak Pluralisme, karena keberpihakannya pada kelompok kaum minoritas, dalam kalangan muslim & kedekatannya dengan kalangan umat non-muslim seperti umat Kristen, Katolik & etnis Tionghoa. Lihat juga Bapak KH. Henry Sutopo. Dalam bukunya berjudul "Catatan Seorang Santri". Buku yg diterbitkan oleh Istana Agency & terbit tahun 2018 ini dari bab-babnya sudah terlihat bahwa hal-hal yg akan dibahas dalam buku itu bersifat universal, seperti "Hukum Terasi", "Pak Kyai Nombok", "Tahlilan Pancasila", "Tetanggaku Preman Beneran", "Menjual Tanah Wakaf",dan "Air susu dibalas Air Tuba." Sayang,buku ini cuma tersedia offline,harus beli. Tidak ada di perpustakaan online apalagi wattpad. Tapi anda mungkin jadi pemuda keren yg men-tasaruf-kan uangmu untuk belajar. Sebenarnya jajan awet ini cukup terjangkau,yah seharga beberapa porsi martabak.

Dari Gus Dur & Bapak Kyai Henry Sutopo kita belajar jadi santri memiliki peran penting dalam menyikapi berbagai macam keadaan & menengahi perbedaan. Mereka adalah tokoh agama dengan jalur nyantri yg tentunya menyelesaikan persoalan-persoalan masyarakat berdasarkan agama & pengalaman dengan memegang teguh perdamaian. Santri bukanlah orang yg dididik,diberikan kesempatan untuk merengek-rengek meminta diantarkan baju ke pondok lantaran bajunya belum dicuci. Bagaimanapun keadaannya, santri dilatih untuk menangani sebuah masalah. Diajarkan bertanya pada diri sendiri tentang bagaimana langkah yg harus diambil. Itu yg menjadikan santri berpengalaman menangani masalah.

Hal itu mungkin disebabkan santri sudah mengalami culture shock sejak dini. Culture shock ialah perasaan gelisah, cemas, bingung. Rasa cemas yg dialami oleh seseorang yg baru menempati suatu daerah baru dalam waktu yg cenderung lama/bukan cuma sekedar untuk liburan. Kaget akan lingkungan baru menciptakan seseorang memaksa dapat membuka pintu pikirannya & dituntut untuk melayani segala hal asing dengan penuh kebijaksanaan.B isa karena biasa, right?

Wajar kalau santri baru kaget akan tata cara hidup ala pesantren. Mandi saja mengantri. Nah, mengalami culture shock di pesantren itu salah satu privilege-nya. Karena kita dipaksa survive (bertahan hidup) dalam kondisi lapar, sedih, kangen, lelah, kekurangan finansial & banyaklah. Sering kali nyantri jadi momok para anak milenial karena repot & bayang-bayang nyantri itu serem. Belum lagi beredar berita si A, si B nyantri malah blabla.... Memang benar ada yg nyantri justru tambah suram. Tapi apakah pesantren yg dipilih memiliki sanad yg jelas? Apakah ada yg salah dari didikan keluarganya? Atau ada problem lain? Anaknya dipondokkan, sebagai orang tuanya ya mari juga ikut memperbaiki iman, ketaqwaan kepada Allah & ikut mengindahkan aturan-aturan pondok. Bagaimana seorang santri belajar sesuai yg diajarkan guru kalau orang tuanya tidak sepenuhnya percaya pada pesantren? Atau malah menentangnya?

Untuk anak milenial nyantri jadi big opportunity (kesempatan besar) dalam mempersiapkan masa depan. Tenaga sedang kuat-kuatnya, pikiran juga masih kinyis-kinyis untuk belajar. Apalagi milenial yg takut mondok, nyantri patut dicoba. Jika ia mondok, satu langkah ia menundukkan ketakutannya, ke dua ia sudah berada pada bibir pintu kemuliaan, ke tiga ia akan bangga dapat melewati step by step semua ketakutannya. Dan itu Kerennn! Dari sini kita dapat menarik benangnya, culture shock jadi dasar mendapatkan privilege karena culture shock ialah suatu bentuk dari kesempatan tumbuh & berkembang.

Setidaknya semua hal di atas adalah privilege saya. Dengan jalan nyantri saya lebih peka kepada lingkungan. Ternyata bermasyarakat itu penuh dinamika nan ruwet. Mengahadapi sesama manusia tidak dapat dipukul rata dengan cara yg sama. Di sini pula saya dapat berjumpa guru-guru yg amat sabar juga dermawan, santri lulusan Kairo, keturunan Syarifah, berjumpa orang-orang yg hafal Al-Qur'an. Saya yg bukan dari keluarga pesantren, berjumpa tokoh-tokoh itu tidaklah mungkin ketika saya bukan seorang santri.


Tulisan ini ditulis oleh Sayidah Chovivah di Cangkeman pada tanggal 11 Juli 2022. Hari ini 15:06
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.