roughtorer
IndoForum Senior A
- No. Urut
- 44416
- Sejak
- 24 Mei 2008
- Pesan
- 6.755
- Nilai reaksi
- 175
- Poin
- 63
Dalam setiap tawa ada tangis yang menunggu.
Dalam setiap tangis ada keraguan akan datangnya matahari.
Senja yang semakin larut, melarutkan malam, meentaskan keraguan akanmu.
Menghilang mungkin membantu, walau sedikit polesan puitis mungkin akan mengasikkan cengkrama kita. Adakah kau bertanya mengenai aku.
Aku bohong bila berkata tak mengharapkannya.
Bertubi-tubi palu godam menghancurkan tembok bata.
Tanganku melepuh.
Menggali tanah untuk kubur sendiri.
Tapi setidaknya aku ingin kau peduli.
Akan rasa, akan kebodohan, akan pengorbanan yang kuagungkan dalam cinta.
Sosokmu semakin samar.
Senja mungkin melarutkan malam.
Popok-popok tak kubutuhkan.
Serambi pinggir sudut meruncing.
Kapan aku bertanya?
Kapan bisa kau jawab dengan menatap mata?
Dosakah bilah melamun pada senja yang larut?
Bodohkah untuk menyoraki kematian hati?
Lincah
Jari-jari menekan tuts yang berisi perlambang dari segala cukilan jiwa.
Cukilan mata, cukilan daging tumbuh, yang kadang mengembang walau kebanyakan mengerut sekarang.
Dan mungkin akan ada tangis-tangis lagi.
Mungkin akan ada bendera putih lagi.
Mungkin ada sesuatu yang bisa kuraih.
Mungkin ada sesuatu yang kau tinggalkan untukku.
Semakin dalam kurenungi.
Hanya keberanian yang tak kupunya.
Yang membedakan kemungkinan dan nyata?
Jelas itu adalah ‘mungkin’.
Bila keberanian ada, tak akan ada lagi mungkin.
Jika sudah merasa yakin, keberanian pasti datang.
Sedikit nekad sedikit bodoh.
Sedikit perhitungan.
Kali kali kasar dalam kondisi ikat pinggang yang semakin menyempit.
Kaor-koar sang gagak masih terasa.
Mematuk, mematuk, mengais-ngais kotoran mayat belatung celaka.
Akukah sang gagak? Bila kau adalah
badan halus yang kuragukan?
Semoga saja… yah semoga saja
Dalam setiap tangis ada keraguan akan datangnya matahari.
Senja yang semakin larut, melarutkan malam, meentaskan keraguan akanmu.
Menghilang mungkin membantu, walau sedikit polesan puitis mungkin akan mengasikkan cengkrama kita. Adakah kau bertanya mengenai aku.
Aku bohong bila berkata tak mengharapkannya.
Bertubi-tubi palu godam menghancurkan tembok bata.
Tanganku melepuh.
Menggali tanah untuk kubur sendiri.
Tapi setidaknya aku ingin kau peduli.
Akan rasa, akan kebodohan, akan pengorbanan yang kuagungkan dalam cinta.
Sosokmu semakin samar.
Senja mungkin melarutkan malam.
Popok-popok tak kubutuhkan.
Serambi pinggir sudut meruncing.
Kapan aku bertanya?
Kapan bisa kau jawab dengan menatap mata?
Dosakah bilah melamun pada senja yang larut?
Bodohkah untuk menyoraki kematian hati?
Lincah
Jari-jari menekan tuts yang berisi perlambang dari segala cukilan jiwa.
Cukilan mata, cukilan daging tumbuh, yang kadang mengembang walau kebanyakan mengerut sekarang.
Dan mungkin akan ada tangis-tangis lagi.
Mungkin akan ada bendera putih lagi.
Mungkin ada sesuatu yang bisa kuraih.
Mungkin ada sesuatu yang kau tinggalkan untukku.
Semakin dalam kurenungi.
Hanya keberanian yang tak kupunya.
Yang membedakan kemungkinan dan nyata?
Jelas itu adalah ‘mungkin’.
Bila keberanian ada, tak akan ada lagi mungkin.
Jika sudah merasa yakin, keberanian pasti datang.
Sedikit nekad sedikit bodoh.
Sedikit perhitungan.
Kali kali kasar dalam kondisi ikat pinggang yang semakin menyempit.
Kaor-koar sang gagak masih terasa.
Mematuk, mematuk, mengais-ngais kotoran mayat belatung celaka.
Akukah sang gagak? Bila kau adalah
badan halus yang kuragukan?
Semoga saja… yah semoga saja