yophi
IndoForum Beginner E
- No. Urut
- 45381
- Sejak
- 5 Jun 2008
- Pesan
- 512
- Nilai reaksi
- 15
- Poin
- 18
Rupanya musim pemilu kali ini tidak hanya pengusaha konveksi atau kelompok pengerah massa saja yang kebanjiran order. Pengelola Rumah Sakit Jiwa (RSJ) di sejumlah tempat juga kini menyiapkan diri untuk kebanjiran pasien. Pasien diperkirakan akan berasal dari kalangan politisi yang gagal merengkuh impian menjadi anggota dewan.
Miris memang. Tapi, boleh jadi itu bisa menjadi fenomena yang mewabah usai pesta demokrasi digelar. Sebab, untuk menjadi caleg, para politisi itu menghabiskan uang yang tidak terbilang sedikit. Hampir semua caleg, pastinya sudah menghabiskan dana jutaan rupiah.
"Apalagi sekarang ini caleg yang meraih suara terbanyak berhak terpilih menjadi anggota legislatif, baik pusat, provinsi maupun kabupaten/kota. Sedangkan jika tidak terpilih, kemungkinan mengalami stres terutama caleg yang kurang matang kesiapan mentalnya," prediksi Hadi.
Dirinya menduga dengan banyaknya caleg dan sulitnya cara memilih maka dikhawatirkan angka suara tidak sah akan membengkak. Alhasil banyak pula caleg tidak meraih suara sebanyak yang diinginkan. Padahal, di satu sisi, para caleg terus berlomba-lomba mengampanyekan diri sendiri.
Hasil survei kesehatan mental rumah tangga (SKMRT) pada 1995 menunjukkan gejala gangguan kesehatan jiwa pada penduduk rumah tangga dewasa di Indonesia, yakni 185 kasus per seribu penduduk. Selain itu, gangguan mental emosional pada usia 15 tahun ke atas mencapai 140 kasus per seribu penduduk. Sementara pada rentang usia 5-14 tahun mencapai 104 kasus per seribu penduduk.
Psikolog Tika Bisono menjelaskan kesehatan jiwa seseorang sangat menyangkut pada masalah well-being atau intensitas seseorang sebagai manusia. Sehat jiwa mencakup perilaku, pikiran, perasaan sehat, dan bahagia serta mampu menghadapi tantangan hidup. Artinya, orang yang sehat jiwa akan dapat mempercayai orang lain dan senang menjadi bagian dari suatu kelompok.
Taraf gangguan jiwa pun beragam. Mulai dari yang sangat ringan, tidak memerlukan perawatan khusus seperti kecemasan dan depresi. Kemudian bertahap ke tingkat ketagihan Napza, alkhol dan rokok, dan kepikunan pada orangtua. Tahap paling berat adalah skizofrenia dimana penderita tak mampu lagi membedakan antara kenyataan dengan khayalannya sendiri.
Dan bukan tidak mungkin, menurut staf pengajar Fakultas Kedokteran UI Ari Fahrial Syam, para caleg yang gagal terpilih itu akan menderita gangguan fisik. Sebab, keseimbangan saraf otonom, sistem hormon, organ dan pertahanan tubuh terganggu. "Stres merupakan faktor utama terjadinya gangguan jiwa yang berdampak pada gangguan fisik atau psikosomatik," kata Ari.
Fenomena ini tentu tidak bisa disepelekan. Apabila kondisi ini benar terjadi maka yang paling pertama yang disalahkan adalah parpol. Karena, ini adalah kegagalan parpol dalam menciptakan kader yang tidak hanya siap menang tetapi juga matang secara politik yang tentu saja dapat menerima kekalahan.
Sudah sepatutnya, para penggiat parpol mewaspadai masalah ini. Karena bisa-bisa, bukan satu dua saja caleg yang masuk perawatan, tetapi puluhan bahkan ratusan caleg gagal. Mumpung belum terjadi, selayaknya para pengurus parpol bergegas mengantisipasi.
Miris memang. Tapi, boleh jadi itu bisa menjadi fenomena yang mewabah usai pesta demokrasi digelar. Sebab, untuk menjadi caleg, para politisi itu menghabiskan uang yang tidak terbilang sedikit. Hampir semua caleg, pastinya sudah menghabiskan dana jutaan rupiah.
"Apalagi sekarang ini caleg yang meraih suara terbanyak berhak terpilih menjadi anggota legislatif, baik pusat, provinsi maupun kabupaten/kota. Sedangkan jika tidak terpilih, kemungkinan mengalami stres terutama caleg yang kurang matang kesiapan mentalnya," prediksi Hadi.
Dirinya menduga dengan banyaknya caleg dan sulitnya cara memilih maka dikhawatirkan angka suara tidak sah akan membengkak. Alhasil banyak pula caleg tidak meraih suara sebanyak yang diinginkan. Padahal, di satu sisi, para caleg terus berlomba-lomba mengampanyekan diri sendiri.
Hasil survei kesehatan mental rumah tangga (SKMRT) pada 1995 menunjukkan gejala gangguan kesehatan jiwa pada penduduk rumah tangga dewasa di Indonesia, yakni 185 kasus per seribu penduduk. Selain itu, gangguan mental emosional pada usia 15 tahun ke atas mencapai 140 kasus per seribu penduduk. Sementara pada rentang usia 5-14 tahun mencapai 104 kasus per seribu penduduk.
Psikolog Tika Bisono menjelaskan kesehatan jiwa seseorang sangat menyangkut pada masalah well-being atau intensitas seseorang sebagai manusia. Sehat jiwa mencakup perilaku, pikiran, perasaan sehat, dan bahagia serta mampu menghadapi tantangan hidup. Artinya, orang yang sehat jiwa akan dapat mempercayai orang lain dan senang menjadi bagian dari suatu kelompok.
Taraf gangguan jiwa pun beragam. Mulai dari yang sangat ringan, tidak memerlukan perawatan khusus seperti kecemasan dan depresi. Kemudian bertahap ke tingkat ketagihan Napza, alkhol dan rokok, dan kepikunan pada orangtua. Tahap paling berat adalah skizofrenia dimana penderita tak mampu lagi membedakan antara kenyataan dengan khayalannya sendiri.
Dan bukan tidak mungkin, menurut staf pengajar Fakultas Kedokteran UI Ari Fahrial Syam, para caleg yang gagal terpilih itu akan menderita gangguan fisik. Sebab, keseimbangan saraf otonom, sistem hormon, organ dan pertahanan tubuh terganggu. "Stres merupakan faktor utama terjadinya gangguan jiwa yang berdampak pada gangguan fisik atau psikosomatik," kata Ari.
Fenomena ini tentu tidak bisa disepelekan. Apabila kondisi ini benar terjadi maka yang paling pertama yang disalahkan adalah parpol. Karena, ini adalah kegagalan parpol dalam menciptakan kader yang tidak hanya siap menang tetapi juga matang secara politik yang tentu saja dapat menerima kekalahan.
Sudah sepatutnya, para penggiat parpol mewaspadai masalah ini. Karena bisa-bisa, bukan satu dua saja caleg yang masuk perawatan, tetapi puluhan bahkan ratusan caleg gagal. Mumpung belum terjadi, selayaknya para pengurus parpol bergegas mengantisipasi.