• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

Saham Murah dan Saham Mahal

yan raditya

IndoForum Addict E
No. Urut
163658
Sejak
31 Jan 2012
Pesan
24.461
Nilai reaksi
72
Poin
48
Beberapa waktu lalu saya telah menulis artikel yang kurang lebih serupa, yakni perihal perusahaan yang berkembang dan perusahaan yang harga sahamnya dinilai murah.

Namun di artikel tersebut saya tidak membahas bagaimana penilaian secara perhitungan seperti apa sebuah saham dinilai murah dan mahal.

Ada banyak metode dan versi dalam menilai sebuah saham murah atau mahal. Apakah murah atau murahan juga sebuah pertimbangan khusus yang harus kita perhatikan.

Yang umum diketahui adalah bahwa harga saham paling murah di Indonesia yaitu Rp 50 atau gocap.

Banyak pemula mengira saham gocap ini adalah harga saham paling murah dan bila dibeli akan menguntungkan. Bayangkan, naik menjadi Rp 55 saja untungnya sudah 10 persen.

Namun jangan salah, selain di pasar reguler kita bisa saja membeli saham di luar harga yang tertera.

Harga saham gocap pada pasar negosiasi bisa saja dihargai jauh di bawah Rp 20.
Saham gocap bukan selalu saham murah, namun bisa saja saham tersebut akan sangat murah dibawah gocap sehingga disebut saham murahan.

Hati-hati dalam menyikapi harga saham dalam kondisi seperti itu. Lalu, bagaimana dengan saham yang murah sebenarnya?

Bagi golongan analis teknikal atau grafik, maka harga saham yang telah mencapai harga rata-rata pergerakan 200 hari bursa dalam keadaan pasar terkoreksi bisa menjadi sebuah anggapan bahwa harga sahamnya telah menjadi murah.

Alasan sederhananya adalah karena telah sama dengan rata-rata pergerakan 1 tahun pergerakan harga (200 hari bursa).

Namun bagi mereka yang membaca laporan keuangan, parameternya tentu adalah angka-angka pada laporan keuangan.

Salah satu kebiasaan orang dalam membaca saham mahal dan murah adalah dari analisa yang dikenal sebagai PER atau price earning ratio.

Apakah itu price earning ratio? PER adalah membandingkan harga (price) saat ini dengan keuntungan (earning) yang dapat diraih perusahaan pada sebuah kondisi.

Bila membagi nilai keuntungan dengan harga menghasilkan nilai yang semakin kecil, maka ia bisa bermakna keuntungannya mampu lebih cepat membuat pemilik sahamnya balik modal setelah menginvestasikan uangnya.

Sederhananya seperti ini, bila keuntungan perusahaan Rp 500 per saham dan harga saham pada saat ini adalah Rp 1.000 per lembar, artinya hanya perlu 2 periode (tahun) untuk bisa mengembalikan investasi (Rp 1.000) berdasarkan keuntungannya.

Membandingkan kondisi keuntungan Rp 500 per saham dengan harga Rp 2.000 per saham, maka nilai rasionya 4. Maka PER 2 dengan nilai PER 4 akan jauh lebih menarik atau murah PER 2.

Namun PER kecil saja tidak selalu bermakna perusahaan memiliki kondisi harga saham yang murah, misalnya PER negatif atau 0.

Bila PER negatif justru bermakna bahwa perusahaan sedang dalam kondisi rugi, dan rugi bukan salah satu berita menggembirakan bukan?

Lalu berapakah PER yang baik? Banyak versi dan pendapat nilai PER yang murah ditentukan pada rasio angka berapa, namun nilai PER 10 s.d. 15 pada umumnya merupakan sebuah rentang bahwa harganya masih tidak terlalu mahal.

Catatan lain dalam melihat perusahaan murah dan mahal tetap kembali pada 3 kriteria utama: perusahaan memiliki pendapatan yang meningkat, laba yang meningkat, dan hutang yang terkendali. Baru setelah itu analisa PER dapat digunakan.

Ingat, investasi adalah bagaimana membeli nilai perusahaan, bukan hanya pandai dalam menawar harga saham saja.

Salam investasi untuk Indonesia
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.