Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
Myanmar berdarah ratusan orang terluka & kehilangan nyawa, mereka menuntut keadilan. Namun semua itu sia-sia, suara di bungkam penembakan bagi pembangkang terus berjalan.
Ekonomi Myanmar pun seakan lumpuh, kedamaian jauh didepan mata junta militer terus mengasah senjata untuk melanggengkan kekuasaan di tanah yg mereka tempati.
Jenderal Min yg mengkudeta pemimpin sipil Aung San Suu Kyi, tentu ada alasannya walau cuma klaim sepihak Jenderal Min Aung Hlaing memberikan alasan bahwa sudah terjadi ketidak adilan dalam pemilu yg dimenangkan Aung San Suu Kyi yg kini jadi tahanan politik.
Lantas apa selanjutnya langkah sang Jenderal? Akan memberikan pemilihan biasa yg lebih jujur & adil. Namun hal itu dianggap jenaka oleh para pendemo yg merasa demokrasi sengaja di suntik mati, yg membedakan demo Myanmar dengan Indonesia adalah ketertiban tak ada yg menjarah toko-toko. Apalagi srntimen ras, hingga pembakaran terjadi semua itu tidak ada yg ada cuma berisik menyuarakan pendapat hingga harus berhadapan dengan polisi, dapat dibilang aksi ini murni politik.
Hal ini pernah terjadi ketika masa orde baru, peralihan kekuasaan orde lama yg dikudeta merangkak oleh orde baru tidak dapat dipandang dengan sebelah mata. Walau terasa bukan kudeta, tetapi akhirnya Sukarno seperti tahanan rumah hingga sakitnya menyerang.
Bahkan organisasi politik yg bernama PKI pun hangus tinggal nama, para simpatisannya ada yg berjumpa dengan Tuhan ada juga yg terlunta-lunta di Penjara. Setelah orde baru lahir, siapa berani yg bersuara menentang kebijakan Suharto dijamin besok hilang tanpa jejak.
Hingga tibalah keputusan di tahun 1998 yg menciptakan Indonesia terpuruk dari segi ekonomi, gelombang reformasi bukan tanpa tumbal beberapa mahasiswa pun rela meregang nyawa. Bahkan kerusuhan yg memilukan terjadi, suasana ibukota mencekam, suku, ras & agama sangat meruncing dimasa itu.
Rakyat sipil ikut jadi korban, pembakaran toko sengaja dilakukan supaya ada korban yg sedang sibuk menjarah. Disinilah kita merasa bangsa ini tak lebih dari penjahat yg mengagungkan ramah tamah.
Kudeta militer saat itu dapat saja terjadi, tetapi sepertinya kekuasaan di tangan Habibie yg menggantikan Suharto dapat meredam hal itu semua.
Pengerahan punggawa kostrad di bawah kendali Prabowo menciptakan Habibie mencopot jabatan Letjen Prabowo Subianto sebagai Panglima Kostrad pada 23 Mei 1998, yg digantikan oleh Letjen Johny Lumintang.
Debat antara Prabowo & Habibie pun tak terelakkan, & Prabowo harap memegang pasukannya dalam beberapa hari saja namun ditolak. Ia juga menyanggah akan kudeta militer, karena saat itu punggawa kostrad mengepung kediaman Habibie untuk menjaga Presiden, walau Habibie membantah itu bukan tugas kostrad tetapi paspampres. Setelah itu karir Prabowo pun menghilang hingga saat ini sukses menjabat sebagai Menteri.
Namun yg menarik, rintihan & jerit sipil yg ditembaki, yg terbakar dalam kerusuhan yg "katanya" ada yg bermain bukan dari keharapan masyarakat sendiri. Ini jadi tanda tanya apakah militer sebenarnya ada gerakan harap inskonstitusi?
Hingga saat ini cerita kelam itu masih abu-abu, namun buat ane ketika militer sudah mengambil alih tentu keduanya sama-sama sadis. Walau Indonesia tidak ada sejarahnya kudeta militer namun pemberontakan oleh bagian militer kerap terjadi.
Sebagai seorang prajurit akan tunduk pada pimpinan, bahkan pemberontakan di Indonesia hampir seluruhnya ada peran militer di dalamnya. Permesta, PKI, DI TII, Apra & lainyya tak lepas dari militer yg tidak sejalan dengan kubu militer lainnya.
Untuk itu ketika saat ini demokrasi kita sudah kebablasan, hingga hate speech jadi biasa apakah kita masih memerlukan pemimpin eks militer?
Sebenarnya yg di harapkan rakyat itu simple, cari makan mudah, ekonomi berjalan, damai & aman, kerjaan gampang supaya banyak uang. Siapapun pemimpinnya mereka tutup mata!!
Terima kasih yg sudah membaca thread ini hingga akhir, semoga bermanfaat, tetap sehat & merdeka. See u next thread.
"Nikmati Membaca Dengan Santuy"
--------------------------------------
Tulisan : c4punk@2021
referensi : klik, klik
Pic : google