Saddam Tewas Digantung
MOMEN TERAKHIR, Rekaman video yang diambil dari TV al-Iraqiya menunjukkan saat-saat terakhir Saddam Hussein menghadapi ajal di tiang gantungan, kemarin. Saddam tetap tenang saat algojo melilitkan tali ke lehernya. Dia juga menolak mengenakan penutup kepala sebelum digantung.
BAGHDAD (SINDO) – Tepat pukul 06.10 pagi waktu setempat atau pukul 10.10 WIB kemarin, presiden terguling Irak Saddam Hussein men g e m b u s k a n napas terakhir di tiang gantungan.
Mantan penguasa Irak berusia 69 tahun ini menjalani hukuman mati di tiang gantungan dengan tenang.Saddam divonis hukuman mati oleh Pengadilan Irak setelah dinyatakan bersalah dalam kasus pembunuhan 148 warga Desa Dujail pada 1982 silam.Karena permohonan bandingnya ditolak, Saddam harus segera dieksekusi.
Sami al-Askari, penasihat politik Perdana Menteri Nuri al-Maliki, mengatakan bahwa Saddam sempat menolak saat hendak dibawa keluar dari ruang tahanan militer Amerika Serikat (AS) di Baghdad. Meski demikian, pria berjenggot lebat itu akhirnya bersedia mengikuti perintah. Tidak seperti tahanan lainnya yang mengenakan seragam tahanan, pagi itu Saddam berpakaian serbagelap.
Dia mengenakan jaket, kopiah, kemeja putih, celana panjang, dan sepatu hitam. Saddam hanya membawa sebuah Alquran saat digiring meninggalkan ruang tahanan. Eksekusi dilakukan di pinggiran distrik Khadimiya, utara Baghdad yang dikenal sebagai kamp keadilan. Sebelum dieksekusi, al-Askari sempat menawarkan Saddam untuk mengucapkan permintaan atau kata-kata terakhir. Entah mengapa, Saddam menolaknya.
”Tidak. Saya tidak ingin mengatakan apa pun,”kata Saddam ditirukan al-Askari. Sejurus kemudian,dituntun seorang ulama Sunni,Saddam membaca doa terakhirnya secara khidmat. Menurut al-Askari, Saddam menghadapi setiap detik prosesi eksekusi itu dengan tenang. Raut mukanya tak menyiratkan kegamangan sedikit pun. Kepada petugas, Saddam meminta agar Alquran yang dibawanya diberikan kepada seseorang bernama Bander.
Dengan tegar dan tanpa emosi, Saddam melangkah ke tiang gantungan didampingi empat algojo bertopeng.Saddam menolak ketika kepalanya akan ditutup kain hitam. Saddam berteriak lantang, beberapa detik sebelum petugas bertopeng melilitkan tali gantungan di lehernya.” Allahu akbar.Irak akan menang dan Palestina adalah bagian dari Arab,” teriaknya. Dalam hitungan detik, seorang petugas lantas menarik tuas di dekat tiang gantungan yang menghubungkan balok kayu yang dipijak Saddam.Tubuh tua Saddam pun sontak mengejang sebelum akhirnya diam sama sekali.
Menurut al-Askari, tubuh Saddam tidak mengejang hebat layaknya kebanyakan orang yang dihukum gantung. Detik-detik akhir menjelang eksekusi Saddam direkam dan disiarkan televisi nasional Irak. Beberapa jam setelah kabar kematian Saddam tersiar,dua ledakan bom terjadi secara terpisah. Ledakan pertama berupa serangan bom mobil mengguncang pasar ikan di pusat Kota Kufa yang menewaskan sedikitnya 31 orang dan melukai puluhan lainnya. Tak berselang lama, serangan tiga bom mobil terjadi di area padat penduduk di utara Baghdad. Serangan ini menewaskan sedikitnya 26 orang.Kekhawatiran kematian Saddam akan meningkatkan eskalasi perang sipil di Irak semakin kentara.
Dikubur di Irak
Mariam al-Rayis, seorang petugas di Kementerian Luar Negeri Irak yang hadir dalam eksekusi itu menyatakan, selain Saddam,eksekusi juga dilaksanakan terhadap dua mantan pejabat tinggi Irak, yakni Barzan Hassan al-Tikriti, saudara tiri Saddam yang juga mantan kepala intelijen Irak dan Awad Ahmed al- Bandar,mantan hakim revolusi. Ketiga mantan petinggi Irak itu digantung secara bergantian mulai pukul 05.30 hingga 06.30 waktu setempat.
”Saddam dieksekusi pertama kali disusul Barzan dan Bandar. Eksekusi berjalan lancar,” jelas Mariam. Namun, pernyataan Mariam ini dibantah tiga petugas Kementerian Luar Negeri Irak yang juga menghadiri eksekusi tersebut. Mereka mengatakan, pagi itu hanya Saddam yang dieksekusi. Sedang dua mantan pejabat Irak lainnya akan dieksekusi segera setelah Idul Adha.
Seperti yang sudah direncanakan, jenazah Saddam langsung dibawa keluar Irak untuk dikuburkan sementara sebelum diserahkan kepada pihak keluarga. Pemerintah Irak melarang siapa pun di negeri itu untuk membangun monumen bagi Saddam. Sebuah sumber menyebut jenazah Saddam dibawa dengan helikopter menuju Yaman, tempat dia akan dikuburkan. Keterangan berbeda disampaikan seorang pejabat senior di pemerintahan Irak.
Sumber yang enggan disebutkan namanya mengatakan, jenazah Saddam tetap akan berada di Irak dan akan dikubur di Irak. Meski demikian, dia tidak mau memerinci di mana Saddam akan dikebumikan. ”Kami akan segera mengubur jenazahnya di Irak,”katanya. Sebagian besar rakyat Irak, terutama dari golongan Syiah dan Kurdi merayakan kematian Saddam dengan turun ke jalan. Sembari menari dan menyanyi, mereka tak henti-hentinya mensyukuri kematian Saddam.
Hampir di semua sudut kota Negeri 1001 Malam itu penuh sesak oleh warga yang tengah berpesta. Suara tembakan pun sempat terdengar sebagai tanda sukacita. Tidak hanya di dalam negeri, warga Irak yang di luar negeri pun menyambut gembira kematian Saddam. Sekelompok warga Irak di Detroit, AS, langsung berkumpul dan bersukacita bersama.
Mereka menari dan menyanyi sembari mengucapkan sumpah serapah terhadap Saddam. ”Ini seperti memotong kepala ular. Saddam adalah pembunuh kejam.Hukum telah ditegakkan. Bukan hanya untuk warga Irak, melainkan juga seluruh dunia,” teriak Mohamed Alhumainy, 21, yang mengaku lahir di AS tapi sering berkunjung ke rumah saudaranya di Baghdad.
Keluarga Berduka
Jika penduduk Irak anti- Saddam begitu bergembira,tidak dengan warga minoritas Sunni di negeri itu. Mereka mengecam keras eksekusi yang ditunggangi pemerintah AS tersebut. ”Ini adalah sebuah kesewenangwenangan. Pengadilan Saddam sarat muatan politik AS,” ujar Hasyim al-Katiri,warga Kirkuk. Kesedihan sudah pasti dirasakan anggota keluarga Saddam yang saat ini tinggal di Yordania dan Qatar.
Dua putri Saddam, yakni Raghad Hussein dan Rana Hussein, menyambut berita kematian Saddam dengan dukacita. Rana bahkan sempat histeris saat mendengar kematian ayahnya. Bersama sembilan anaknya, kedua wanita itu mengungsi ke Yordania pada 30 Juli 2003 atau empat bulan setelah AS menginvasi Irak. Sajida––istri Saddam, dan putrinya, Hala, yang kini tinggal di Doha, Qatar juga mendengar berita itu dengan linangan air mata.
Mereka mengaku telah kehilangan sosok suami dan ayah yang tegar dan pemberani. Raghad dan Rana Hussein yang mengikuti detik-detik kematian ayahnya lewat televisi dari Yordania mengaku bangga melihat ketegaran Saddam menghadapi hukuman gantung. Juru bicara Rana dan Raghad, Rasha Oudeh, mengatakan bahwa dua putri Saddam bangga melihat ayahnya menghadapi tiang gantungan dengan keberanian dan kepala tegak.
”Mereka berdoa agar arwah Saddam diterima di sisi-Nya,” ujar Oudeh. Kedukaan kedua wanita itu lengkap sudah karena dua putra Saddam, yakni Uday dan Qusay, lebih dulu tewas dibombardir tentara AS pada Juli 2003 silam. Guna mengurangi ketegangan, Perdana Menteri Nuri al-Maliki buru-buru mengimbau warganya untuk segera bersatu. Menurutnya, era baru telah datang. Karena itu, keadaan saat ini harus disikapi dengan proporsional dan bukan dengan emosi.