Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
Cangkeman.net -Orang masa kini lebih menyadari bagaimana hidup tidak cuma sehat secara fisik tetapi juga sehat secara mental. Hal ini mungkin karena dipengaruhi oleh derasnya aliran informasi & mudahnya mengakses berbagai literatur yg berkaitan dengan kesehatan mental. Tidak jarang industri hiburan mengangkat isu ini sehingga menciptakan orang semakin tumbuh pencerahan & kepedulian tidak cuma ditujukan kepada diri sendiri, tetapi juga kondisi mental orang lain. Hanya saja, menurut saya, ada sekelompok orang yg cukup lebay dalam menanggapi maraknya isu kesehatan mental.
Untuk memudahkan pemahaman, saya berikan ilustrasi sederhana. Di era pandemi sangat mungkin pikiran paranoid muncul. Misalkan, tiba-tiba terkena batuk atau pilek, langsung berpikir; Jangan-jangan terkena Covid-19, nih. Pun begitu dengan kesehatan mental. Stres sedikit langsung berpikir terkena depresi. Terkena cemas berkesimpulan mengalami serangan panik. Atau yg parah, akibat terlalu banyak membaca berbagai gangguan mental yg biasanya sulit disembuhkan, timbul keharapan menghabisi nyawa sendiri; malu merasa mengalami gangguan mental yg sulit disembuhkan.
Makanya di masa kini, ada anggapan orang-orang zaman sekarang terlalu banyak mengeluh, mudah menyerah, & fokusnya pada kondisi yg tidak enak bukannya mencari solusi. Tak jarang juga ada yg mengpakai kondisi mentalnya sebagai senjata untuk mencari perhatian. Dampaknya, tidak sedikit orang-orang jadi apatis dengan kondisi orang lain. Tentu yg dirugikan adalah mereka yg betul-betul mengalami gangguan mental.
Orang yg benar-benar mengalami gangguan mental, yg mereka alami tidak cuma berdasarkan hasil diagnosis oleh kaum profesional di bidang kejiwaan saja, tetapi juga sudah diberikan berbagai macam terapi. Mereka lah yg sebetulnya harus memiliki support system yg baik. Tentunya juga bantuan dari sosial-masyarakat secara luas. Lah, kalau banyak yg apatis, bagaimana nasib mereka? Sudah banyak studi literatur yg menyatakan; mereka yg mengalami gangguan mental & tidak punya support system yg baik, tidak diterima oleh masyarakat, yg terjadi, gangguan mental mereka sering kumat pasca rehabilitasi. Akhirnya yg kondisi mereka semakin memburuk.
Karena tidak semua orang betul-betul paham akan kesehatan mental berikut berbagai macam gangguan jiwa yg ada. Membaca saja belumlah cukup. Malah dari sekedar membaca, ada saja yg menyimpulkan aneh-aneh menyangkut kondisi mental sendiri maupun orang lain. Atau yg parah mengerjakan self diagnosis yang hasilnya adalah gangguan jiwa berat. Pertanyaannya, apakah betul mengalami itu? Atau berharap harap mengalaminya? Atau self diagnosis dijadikan pembenaran demi tujuan tertentu?
Padahal, butuh pemahaman, berlatih, & praktik langsung yg terkait dengan suatu gangguan mental. Proses ini dapat membutuhkan waktu yg tidak sebentar. Apalagi hingga betul-betul menguasai bagaimana mengerjakan diagnosis hingga treatment untuk seluruh gangguan mental yg ada. Silakan tanyakan kepada mereka yg verkecimpung di dunia kejiwaan. Perjuangan mereka tidaklah mudah, sama seperti orang lain yg harap pakar di bidangnya masing-masing.
Saya tidak mengatakn kalau terindikasi mental terganggu harus langsung mencari bantuan dari pihak profesional, seperti; Psikiater, Psikolog, Psikoterapis, Konselor, atau yg lainnya. Sama seperti penyakit biologis, gangguan mental memiliki bobotnya masing-masing; dari ringan hingga berat. Sama seperti penyakit biologis, kalau sekadar terkena flu, dapat sembuh dengan obat warung ditambah istirahat. Pastinya treatment nya akan berbeda kalau mengalami Covid-19, misalkan. Pun begitu dengan gangguan mental. Jika mengalami gangguan yg ringan, dapat kembali waras dengan treatment sederhana. Pastinya semakin berat gangguannya, treatment yg diberikan akan lebih kompleks.
Anehnya, ada saja orang-orang yg mengaku mengalami gangguan mental namun apabila ditanya lebih lanjut, jawaban yg diberikan tidak terlalu kuat. Entah cuma berdasarkan hasil self diagnosis yg padahal tidak memiliki latar belakang pendidikan kejiwaan, atau malah cuma berdasarkan dari apa yg mereka pernah baca. Jangan tanya soal treatment. Besar kemungkinan tidak ada. Kemudian kalau disarankan supaya mereka segera menolong diri mereka sendiri atau disarankan untuk meminta pertolongan dengan kaum profesional di bidang kejiwaan, sering ada saja alasannya untuk tidak dilakukan. Lah, sebetulnya mau sembuh atau tidak? Atau jangan-jangan
Namanya menjalani hidup, pasti ada pasang-surutnya. Kadang mudah, kadang susah, yg semua itu dialami oleh orang lain juga. Hanya saja bentuknya berbeda namun intinya tetap sama; tentang mudah & sulitnya hidup. Jangan hingga apabila dalam kondisi yg tersulit lalu membaca berbagai macam gangguan mental, lantas menyatakan mengalami suatu gangguan mental. Lalu mengatakannya kepada orang lain. Buat saya, ini semacam perilaku mengasihani diri sendiri, yg nantinya dipakai sebagai senjata untuk mencari simpati kepada orang lain.
Terkadang malah ada yg sebetulnya tidak mengalami gangguan mental, namun mengatakan sebaliknya kepada orang lain. Mereka mengerjakan hal itu demi tujuan tertentu. Kesadaran akan kesehatan mental dapat dikatakan sebuah fenomena yg sedang populer. Artinya, ketika seseorang membicarakan hal ini, atau mengaku bahwa dirinya mengalami gangguan mental, tentunya akan mendapatkan perhatian. Mereka harap diperhatikan. Bagaimana pun caranya. Kalau merasa kurang diperhatikan, mbok ya pakai cara yg benar, gitu loh.
Belum lagi ada yg memaksakan supaya orang lain mengerti akan kondisi dirinya terlepas yg bersangkutan terkena gangguan mental atau tidak. Misalkan, mengharapkan orang lain supaya mendapat perlakuan yg mereka harapkan. Tapi terkadang mereka tidak mendapatkannya. Sehingga akan berkata; Ah, elu, sih, nggak tau apa yg gw rasakan! Atau barangkali respon yg didapatkan dianggap buruk, & akhirnya mengatakan Elu tau nggak, yg elu perbuat itu ngebuat mental gw breakdown!
Lha, memang betul. Orang lain mana tahu yg sebenar-benarnya tentang diri kita. Toh, pada kenyataannya, orang lain bukanlah kita. Orang lain tidak punya masalah yg kita punya, orang lain tidak punya bagaimana cara kita berpikir, merasa & bertindak. Kita sendiri yg punya akan hal itu. Hanya diri kita yg betul-betul tahu kondisi yg sedang dialami, bukan orang lain. Sedih, kecewa, putus asa, marah, & berbagai emosi negatif lainnya boleh-boleh saja dirasakan. Malah, itu sebagai pertanda bahwa kita masih punya perasaan. Hanya saja, tidak perlu merasa begitu sedang mengalami gangguan mental berdasarkan asumsi.
Setiap orang punya orang-orang yg peduli dengannya, meskipun pengetahuan kesehatan mentalnya terbatas. Apa yg mereka bantu barangkali tidak sesuai dengan ekspektasi, seperti sekedar berucap; yang sabar, ya, yang tabah, ya, & berbagai jawaban normatif lainnya. Jika mereka memberikan respon tersebut jangan lantas dilabeli toxic positivity. Lagipula, mana ada hal positif mengandung racun. Jika ada yg berpikir demikian, berarti ada yg salah dalam proses berpikir. Salah satunya, memandang buruk dari hal baik. Ini yg kadang menciptakan saya bingung; hal baik dapat terlihat buruk, yg buruk dapat terlihat baik.
Terdapat sebuah solusi yg lumayan simpel untuk orang yg betul-betul mengalami gangguan mental. Jika orang-orang sekitarnya tidak sanggup menolong & yg bersangkutan sadar bahwa dirinya membutuhkan pertolongan; karena tidak sanggup menanganinya seorang diri, segera verifikasi gangguan mental yg mungkin dialami kepada pihak profesional. Karena semakin cepat ditangani dengan benar, semakin cepat pula untuk segera waras. Harapannya, kalau sudah ditangani pihak profesional, orang-orang di sekitar dapat lebih baik lagi dalam bersikap kepada yg bersangkutan. Karena di zaman sekarang, orang semakin sulit percaya tanpa adanya bukti. Pun begitu bila kita mengetahui terdapat orang yg mengalami gangguan mental, & kita tidak sanggup untuk menolongnya, sarankan kepada yg bersangkutan untuk meminta pertolongan kepada pihak yg lebih profesional.
Dari derasnya informasi isu fenomena kesehatan mental memiliki dua dampak; pertama, orang-orang jadi sadar akan pentingnya sehat tidak cuma secara biologis tetapi juga sehat secara mental. Kedua, ada orang-orang yg lebay dalam menanggapi isu ini. Respon lebay tersebut dapat melahirkan akibat buruk lainnya, yaitu; orang jadi apatis tentang kesehatan mental & berbagai macam gangguannya. Kalau sudah begini, yg terjadi bukan semakin banyak orang yg sehat mentalnya, tetapi orang yg tidak waras kian bertambah.
Tulisan ini ditulis oleh Angga pada tanggal 12 Februari 2022 di Cangkeman
Hari ini 15:19