AzV
IndoForum Activist A
- No. Urut
- 58206
- Sejak
- 30 Nov 2008
- Pesan
- 21.205
- Nilai reaksi
- 306
- Poin
- 83
Keadaan serba kotor yang dijumpai dalam pembuatan sabun bertentangan sekali dengan penggunaanya sebagai pembersih yang tiada bandingnya untuk hampir segala hal setidaknya sejak dua ribu tahun terakhir. Pembuatannya tak pernah sulit, bahan-bahan dasarnya murah dan mudah didapat, yaitu lemak dan abu kayu. Kadang-kadang, orang juga menggunakan kapur.
Kita dapat membuatnya dengan cara seperti yang dilakukan oleh orang-orang Romawi: Batu kapur dipanaskan untuk menghasilkan kapur. Kapur yang dibasahkan ditaburkan keatas abu kayu yang masih panas kemudian diaduk sampai rata. Selanjutnya, dengan sebuah sekop, orang menyedok bubur kelabu yang dihasilkan kedalam sebuah bejana berisi air panas dan mendidihkannya dengan tambahan beberapa potong lemak domba selama beberapa jam. Ketika lapisan buih berwarna cokelat kotor yang tebal terbentuk di permukaannya, dan menjadi keras setelah dingin, mereka memotong-motong lapisan keras tadi. itulah sabun kita.
Atau, barangkali kita lebih suka pergi ketoko kemudian membeli sabun komersial masa kini yang sudah sangat dimurnikan. Selain sabun, yang sebetulnya sebutan untuk sebuah senyawa kimia tertentu, orang menambahkan bahan pengisi, pewarna, parfum, deodoran, agen anti bakteri, bermacam-macam krim dan lotion, selanjutnya diiklankan dengan gencar. Kadang-kadang kadar iklan sebuah produk komersial lebih besar daripada kadar sabunnya sendiri.
Setiap sabun dibuat melalui reaksi antara lemak dengan bahan yang disebut "alkali"-basa yang sangat kuat (Basa adalah lawan dari asam). Sebagai ganti lemak kambing, Sabun masa kini terbuat dari bermacam-macam lemak, termasuk lemak daging sapi dan anak domba, juga minyak kelapa, minyak biji kapas, dan minyak zaitun. Alkali yang digunakan dalam pembuatan sabun sekarang biasanya adalah bahan yang disebut "iye"(Soda api atau natrium hidroksida). Kapur juga alkali yang mudah didapat, sedangkan abu kayu kadang-kadang masih dipakai meski hanya sedikit karena bahan ini mengandung kalium karbonat yang bersifat basa.(FL)
Kita dapat membuatnya dengan cara seperti yang dilakukan oleh orang-orang Romawi: Batu kapur dipanaskan untuk menghasilkan kapur. Kapur yang dibasahkan ditaburkan keatas abu kayu yang masih panas kemudian diaduk sampai rata. Selanjutnya, dengan sebuah sekop, orang menyedok bubur kelabu yang dihasilkan kedalam sebuah bejana berisi air panas dan mendidihkannya dengan tambahan beberapa potong lemak domba selama beberapa jam. Ketika lapisan buih berwarna cokelat kotor yang tebal terbentuk di permukaannya, dan menjadi keras setelah dingin, mereka memotong-motong lapisan keras tadi. itulah sabun kita.
Atau, barangkali kita lebih suka pergi ketoko kemudian membeli sabun komersial masa kini yang sudah sangat dimurnikan. Selain sabun, yang sebetulnya sebutan untuk sebuah senyawa kimia tertentu, orang menambahkan bahan pengisi, pewarna, parfum, deodoran, agen anti bakteri, bermacam-macam krim dan lotion, selanjutnya diiklankan dengan gencar. Kadang-kadang kadar iklan sebuah produk komersial lebih besar daripada kadar sabunnya sendiri.
Setiap sabun dibuat melalui reaksi antara lemak dengan bahan yang disebut "alkali"-basa yang sangat kuat (Basa adalah lawan dari asam). Sebagai ganti lemak kambing, Sabun masa kini terbuat dari bermacam-macam lemak, termasuk lemak daging sapi dan anak domba, juga minyak kelapa, minyak biji kapas, dan minyak zaitun. Alkali yang digunakan dalam pembuatan sabun sekarang biasanya adalah bahan yang disebut "iye"(Soda api atau natrium hidroksida). Kapur juga alkali yang mudah didapat, sedangkan abu kayu kadang-kadang masih dipakai meski hanya sedikit karena bahan ini mengandung kalium karbonat yang bersifat basa.(FL)





