• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

Berita Saat Polisi Berjuang Melawan Kegemukan

yan raditya

IndoForum Addict E
No. Urut
163658
Sejak
31 Jan 2012
Pesan
24.461
Nilai reaksi
72
Poin
48
fxNmJ.jpg

Sebanyak 299 anggota Kepolisian Resor Kota Besar Surabaya belakangan ini rajin berlatih fisik di aula kantor kepolisian tersebut. Mereka menguras keringat agar tubuh tak kegemukan. Latihan dilakukan sejak Januari lalu hingga kini.

Salah satunya adalah Brigadir Satu Bagus Hariadi (27), anggota Satuan Sabhara Polrestabes Surabaya. Tubuhnya dinilai kurang ideal untuk anggota Polri yang seharusnya 65 kilogram. Dengan tinggi badan 171 sentimeter, bobot tubuhnya sebelum mengikuti program pengendalian berat badan adalah 107 kilogram. Tentu dengan bobot tubuh seperti itu, Bagus dikhawatirkan sulit mengejar penjahat yang mengusik masyarakat.

Untuk mencegah bobotnya bertambah—syukur kalau ramping—Bagus harus mengikuti latihan fisik tiga kali seminggu di Polrestabes Surabaya. Setiap Selasa dan Kamis sore, serta Sabtu pagi, Bagus berlatih aerobik selama satu jam.

Seminggu tiga kali

Saat ditemui Kompas, baru-baru ini, Bagus dan beberapa rekannya tengah mengikuti latihan rutin. Karena baru selesai bertugas, mereka masih memakai kaus dan celana panjang berwarna coklat. Latihan digelar di aula yang dipasangi layar proyeksi untuk memutar video senam aerobik. Alat penimbang badan juga disiapkan di situ.

Saat itu hanya ada sekitar 30 orang yang mengikuti latihan. Sebagian besar dari satuan sabhara dan sebagian lagi satuan lalu lintas serta satuan pengendalian masyarakat. ”Dari 299 peserta, tak semuanya ikut latihan. Sebab, mereka ada yang masih bertugas. Yang tak bisa ikut hari ini, latihan dialihkan ke hari lainnya,” kata Kepala Urusan Pelatihan Polrestabes Surabaya Ajun Komisaris Panji.

Dari total 4.000 anggota Polrestabes Surabaya, tercatat 299 orang harus mengikuti program pengendalian berat badan. Dari 299 orang, sebanyak 270 orang adalah pria. Sisanya perempuan. Mereka dari seluruh satuan mulai dari bintara hingga perwira menengah.

Setiap sesi latihan diawali penimbangan berat badan. Bagus, yang badannya terlihat paling besar saat itu, tercatat berat badannya berkurang 3 kg, yaitu 104 kg. Artinya, selama dua minggu berlatih ada manfaatnya.

Seusai menimbang berat badan, para instruktur segera memutar video senam aerobik. Namun, tak banyak peserta mengikuti gerakan senam sesuai yang diperagakan di video. Jika peraga di video mengangkat kedua tangan ke arah kanan, peserta malah merentangkan kedua tangan ke samping. Banyak pula peserta yang sekadar lari di tempat sambil menggoyangkan kepala.

”Terserah mereka mau bergerak seperti apa, yang penting berkeringat,” kata Panji yang sengaja mematikan alat pendingin ruangan di aula serta menutup semua pintu dan jendela agar peserta lebih cepat berkeringat.

Bukan hukuman

Menurut Panji, program pengendalian berat badan bukan hukuman. Ini justru pembinaan agar polisi lebih sehat, lincah, dan enak dilihat. ”Polisi harus lebih lincah. Jangan sampai kalah dengan penjahat,” ujarnya.

Meski bukan hukuman, di masa datang masalah berat badan menjadi pertimbangan dalam penempatan tugas. Polisi yang kelebihan berat badan dipastikan tak akan ditempatkan di pos-pos yang membutuhkan stamina tinggi dan kecepatan. Karier polisi yang kelebihan berat badan boleh jadi bakal tersendat.

Program ini tak cuma berlangsung di Polrestabes Surabaya, tetapi juga jajaran Polri lainnya di Jatim. Di setiap markas kepolisian mulai dari kecamatan hingga kabupaten/kota dijaring anggota polisi yang kelebihan berat badan. Program tersebut merupakan instruksi dari Markas Besar Kepolisian RI di Jakarta.

Setiap minggu para peserta juga dievaluasi. Hasilnya, setengah bulan rata-rata polisi yang kelebihan berat badan berhasil menurunkan hingga 2 kg. Tiga bulan setelah latihan fisik, program dilanjutkan dengan latihan pola makan. Peserta wajib mengatur jenis makanan dan jam makannya sendiri. Misalnya, selain mengurangi makanan berlemak, juga menghindari makan malam.

Selama ini Bagus mengakui pola makan yang salah menyebabkan berat badannya bertambah. Saat pertama menjadi polisi pada tahun 2005, berat badannya 59 kg. ”Saya sering tugas malam lalu begadang. Karena tak sempat makan, akhirnya ngemil (makan makanan ringan),” kata Bagus yang mengaku tak ngos-ngosan jika bertugas dan mengejar penjahat.

Peserta lainnya, Brigadir Fajar Sungkono, yang bertugas di Sumber Daya Polrestabes Surabaya, ingin kurus karena sulit memilih pakaian. ”Susah cari baju yang pas,” ujarnya. Selama setengah bulan ini Fajar berhasil menurunkan berat badannya 2 kg.

Pengajar di Departemen Gizi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga, Surabaya, Siti Rahayu Nadhiroh, mengatakan, program pengendalian berat badan yang dilakukan polisi sangat tepat dan sudah saatnya dicontoh. ”Kegemukan dapat menurunkan kinerja seseorang. Tak cuma polisi, tetapi institusi lainnya seharusnya juga meniru,” tuturnya.

Ketua Persatuan Ahli Gizi Indonesia Jawa Timur Andriyanto mengatakan, kegemukan dan obesitas menjadi ancaman yang tak disadari. Padahal, kegemukan dan obesitas berisiko menyebabkan penyakit degeneratif seperti jantung koroner.

Seperti yang disampaikan Siti Rahayu, institusi lainnya juga harus segera meniru.
 
ya iya lah tuh gan masa polisi badan nya gemuk gitu
gimana mau nangkep penjahat??
polisi badan nya harus tegap bukanya malah buncit
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.