roughtorer
IndoForum Senior A
- No. Urut
- 44416
- Sejak
- 24 Mei 2008
- Pesan
- 6.755
- Nilai reaksi
- 175
- Poin
- 63
Jumat, 7 November 2008 | 10:32 WIB
JAKARTA, JUMAT — Rupiah, Jumat (7/11) pagi, melemah ke posisi Rp 11.075 per dollar AS. Tekanan pasar masih tetap ada meski agak berkurang. "Berkurangnya tekanan pasar itu akibat bunk Indonensia (BI) masih tetap mengawasi pasar dan melakukan intervensi untuk menahan kuatnya tekanan pasar," kata Dirut Financ Corpindo Edwin Sinaga di Jakarta, Jumat.
Ia mengatakan, BI harus hati-hati dalam melakukan intervensi, apabila intervensi itu perlu dilakukan harus dapat memberikan sentimen positif terhadap rupiah. "Jadi, intervensi itu harus dilakukan dengan tepat sehingga cadangan devisa yang dikeluarkan itu akan memberikan manfaat terhadap pergerakan rupiah," katanya.
Menurut dia, koreksi harga yang terjadi saat ini tidak besar karena kehadiran BI dengan mengawasi kegiatan bunk-bunk asing juga memberikan pengaruh yang positif. "Kami memperkirakan rupiah masih akan tertekan pasar, karena krisis keuangan global masih tak menentu,"ucapnya.
Dengan terpilihnya Barack Hussein Obama sebagai Presiden AS, lanjut dia, diharapkan pertumbuhan ekonomi AS akan membaik dan memberikan arti positif bagi ekonomi dunia terutama terhadap Asia khususnya Indonesia.
"Obama yang pernah tinggal di Indonesia diharapkan akan juga memberikan perhatian terhadap bangsa ini. Kalau itu terjadi maka ekspor Indonesia ke Amerika akan semakin besar," ucapnya.
Membaiknya ekonomi AS, menurut dia, akan menstabilkan nilai dollar AS yang cenderung menguat, sehingga nilai tukar rupiah akan kembali membaik. "Kami optimis pasar saat ini sedang menunggu perkembangan di AS lebih lanjut apakah dalam satu sampai dua tahun akan dapat melakukan perubahan, "katanya.
JAKARTA, JUMAT — Rupiah, Jumat (7/11) pagi, melemah ke posisi Rp 11.075 per dollar AS. Tekanan pasar masih tetap ada meski agak berkurang. "Berkurangnya tekanan pasar itu akibat bunk Indonensia (BI) masih tetap mengawasi pasar dan melakukan intervensi untuk menahan kuatnya tekanan pasar," kata Dirut Financ Corpindo Edwin Sinaga di Jakarta, Jumat.
Ia mengatakan, BI harus hati-hati dalam melakukan intervensi, apabila intervensi itu perlu dilakukan harus dapat memberikan sentimen positif terhadap rupiah. "Jadi, intervensi itu harus dilakukan dengan tepat sehingga cadangan devisa yang dikeluarkan itu akan memberikan manfaat terhadap pergerakan rupiah," katanya.
Menurut dia, koreksi harga yang terjadi saat ini tidak besar karena kehadiran BI dengan mengawasi kegiatan bunk-bunk asing juga memberikan pengaruh yang positif. "Kami memperkirakan rupiah masih akan tertekan pasar, karena krisis keuangan global masih tak menentu,"ucapnya.
Dengan terpilihnya Barack Hussein Obama sebagai Presiden AS, lanjut dia, diharapkan pertumbuhan ekonomi AS akan membaik dan memberikan arti positif bagi ekonomi dunia terutama terhadap Asia khususnya Indonesia.
"Obama yang pernah tinggal di Indonesia diharapkan akan juga memberikan perhatian terhadap bangsa ini. Kalau itu terjadi maka ekspor Indonesia ke Amerika akan semakin besar," ucapnya.
Membaiknya ekonomi AS, menurut dia, akan menstabilkan nilai dollar AS yang cenderung menguat, sehingga nilai tukar rupiah akan kembali membaik. "Kami optimis pasar saat ini sedang menunggu perkembangan di AS lebih lanjut apakah dalam satu sampai dua tahun akan dapat melakukan perubahan, "katanya.