Pengamat ekonomi Ali Setiawan mengatakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS masih sulit untuk bergerak menguat karena impor Indonesia masih tinggi.
"Impor Indonesia masih sangat kuat sehingga menyebabkan defisit neraca perdagangan, kondisi itu membuat rupiah cukup sulit untuk menguat terhadap dolar AS," kata Ali yang juga Head of Global Market HSBC Indonesia di Jakarta, tadi malam.
Masih tingginya impor Indonesia, dikatakan dia, membuat kebutuhan dolar AS meningkat dan otomatis nilai tukar rupiah akan terdepresiasi. "Secara umum, impor masih akan lebih besar daripada ekspor sehingga defisit masih akan terus berlanjut di tahun ini," kata dia.
Ia menambahkan, terus meningkatnya harga minyak dunia dan konsumsi bahan bakar minyak (BBM) di dalam negeri yang cukup tinggi menyebabkan dana subsidi akan semakin besar sehingga menambah beban bagi Indonesia. Meski demikian, Ali mengatakan, bunk Indonesia (BI) masih cukup pro aktif untuk menjaga nilai tukar rupiah dan tidak dibiarkan terus terdepresiasi. "BI cukup proaktif menjaga rupiah, saya tidak melihat rupiah dibiarkan terdepresiasi. Diperkirakan kisaran rupiah hingga akhir 2012 diposisi Rp9.600 sampai Rp9.800 dolar AS," ujar dia.
"Impor Indonesia masih sangat kuat sehingga menyebabkan defisit neraca perdagangan, kondisi itu membuat rupiah cukup sulit untuk menguat terhadap dolar AS," kata Ali yang juga Head of Global Market HSBC Indonesia di Jakarta, tadi malam.
Masih tingginya impor Indonesia, dikatakan dia, membuat kebutuhan dolar AS meningkat dan otomatis nilai tukar rupiah akan terdepresiasi. "Secara umum, impor masih akan lebih besar daripada ekspor sehingga defisit masih akan terus berlanjut di tahun ini," kata dia.
Ia menambahkan, terus meningkatnya harga minyak dunia dan konsumsi bahan bakar minyak (BBM) di dalam negeri yang cukup tinggi menyebabkan dana subsidi akan semakin besar sehingga menambah beban bagi Indonesia. Meski demikian, Ali mengatakan, bunk Indonesia (BI) masih cukup pro aktif untuk menjaga nilai tukar rupiah dan tidak dibiarkan terus terdepresiasi. "BI cukup proaktif menjaga rupiah, saya tidak melihat rupiah dibiarkan terdepresiasi. Diperkirakan kisaran rupiah hingga akhir 2012 diposisi Rp9.600 sampai Rp9.800 dolar AS," ujar dia.