yan raditya
IndoForum Addict E
- No. Urut
- 163658
- Sejak
- 31 Jan 2012
- Pesan
- 24.461
- Nilai reaksi
- 72
- Poin
- 48
PASURUAN - Dua blok rumah susun sederhana sewa (rusunawa) di Kelurahan Tambakan, Kecamatan Gadingrejo, Kota Pasuruan, Jawa Timur, tidak diminati masyarakat.
Alasannya, dua blok rusunawa berkapasitas 198 unit itu diisukan angker. Kini, rusunawa itu hanya diisi 11 kepala keluarga (KK).
Rusunawa tersebut sudah dalam tahapan finishing dan rencananya akan diresmikan pada Januari 2013.
Ketua RT 03, Mochammad Sayudi, mengatakan, ada yang mengembuskan isu banyak mahluk halus bergentayangan di rusunawa tersebut.
“Masyarakat menjadi kawatir karena rusunawa diisukan dihuni hantu. Masyarakat semakin percaya, karena dulu lokasi itu adalah bekas pemakaman,” kata Sayudi, usai mengikuti sosialisasi pemanfaatan rusunawa, Kamis (11/10/2012).
Menurut Sayudi, kabar burung itu seharusnya bisa diminimalisir jika Pemkot Pasuruan segera menyalakan lampu penerangan yang sudah terpasang. Sehingga, kompleks rusunawa pada malam hari terang sehingga menarik minat masyarakat untuk menempatinya.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum Kota Pasuruan, Dwi Fitri Nurcahyo, menyatakan, sejumlah fasilitas telah disiapkan bersamaan dengan pembangunan rusunawa berlantai lima itu, di antaranya lampu penerangan, air bersih, taman bermain anak, serta ruangan kosong yang dimanfaatkan sebagai musala sementara.
“Semua fasilitas umum dan penunjang rusunawa sudah tersedia. Masyarakat jangan terpengaruh terhadap isu-isu yang tidak jelas,” kata Dwi Fitri.
Asisten II Sekkota Pasuruan, Sugiharto, meminta agar masyarakat Kelurahan Tambakan yang tidak mampu secara ekonomi segera mendaftarkan diri untuk menempati rusunawa. Bila sampai akhir November tidak ada peminat dari masyarakat sekitar, pemkot akan membuka pendaftaran bagi masyarakat umum.
“Prioritas pemanfaatan rusunawa ini akan diberikan untuk masyarakat Kelurahan Tambakan, Ngemplakrejo, dan Mandaran. Dengan harga Rp70 ribu sampai Rp110 ribu per bulan, masyarakat sudah mendapat perumahan yang layak,” kata Sugiharto.