yan raditya
IndoForum Addict E
- No. Urut
- 163658
- Sejak
- 31 Jan 2012
- Pesan
- 24.461
- Nilai reaksi
- 72
- Poin
- 48
Sebelum maut menjemputnya, guru pejuang Een Sukaesih, meminta orang-orang dekatnya untuk meneruskan perjuangannya membimbing anak-anak sekolah. Saat ini sebuah rumah pintar yang diimpikan Een hampir rampung dibangun dan rencananya akhir Desember ini akan diresmikan.
Bahkan untuk meresmikan rumah pintar itu, Een sudah menyusun susunan acara peresmian. Anak-anak didiknya bahkan sudah dilatih untuk menari. Sebuah tarian sudah diciptakan sendiri dan diberi nama tari Manuk Dadali.
"Untuk tarian itu, Een menciptakan sendiri dan melatih anak-anak yang tari. Een sempat meminjam baju tari ke saya," kata Iwan Hermawan, teman kuliah Een di IKIP Bandung yang juga Ketua FAGI Bandung, Minggu (14/12).
Bahkan, terang dia, Een bisa melatih silat. "Dia itu sejatinya guru dengan keterbatasan fisik tapi bisa melatih tari bahkan silat," kata Iwan.
Menurutnya, Een membimbing anak-anak dengan kasih sayang. "Perjuangan harus diteruskan dan harus dibentuk yayasan untuk meneruskan perjuangannya itu," kata Iwan.
Herman Suryatman, mantan Kepala Dinas Pendidikan Sumedang, yang kini Kabiro Hukum dan Humas Kemenpan RI, menyebutkan perjuangan Een akan terus dilanjutkan. "Kami akan terus melanjutkan perjuangan Bu Een. Saat ini pembangunan rumah pintar sudah 90 persen dan nanti bukan hanya menjadi tempat belajar saja," kata Herman, Minggu (14/12).
Disebutkan, rumah pintar itu harus diwujudkan dan dijadikeun juga seperti museum. "Di rumah pintar itu bukan hanya sekadar tempat belajar, tapi ada dokumentasi tentang kiprah dan perjuangan Bu Een yang membimbing anak-anak belajar dengan iklas dan penuh kasih sayang," katanya.
Menurutnya, pihaknya sedang mengumpulkan dokumentasi foto, berita yang berkaitan dengan perjuangan Een Sukaesih. "Sehingga nanti orang yang berkunjung ke rumah pintar bisa melihat perjuangan sang guru kalbu dan bisa memberikan inspirasi serta melahirkan ribuan guru yang mendidik dengan kasih sayang," katanya.
Een Sukaesih yang lumpuh akibat radang sendi sejak 30 tahun lalu itu membimbing anak-anak sekolah sambil terbaring di tempat tidurnya. Namun Tuhan memanggilnya Jumat (12/12) pukul 15.20 pada usia 51 tahun. Een dikebumikan di pemakaman umum kampung halamannya, Batukarut, Desa Cibeureum Wetan, Kecamatan Cimalaka.
Bahkan untuk meresmikan rumah pintar itu, Een sudah menyusun susunan acara peresmian. Anak-anak didiknya bahkan sudah dilatih untuk menari. Sebuah tarian sudah diciptakan sendiri dan diberi nama tari Manuk Dadali.
"Untuk tarian itu, Een menciptakan sendiri dan melatih anak-anak yang tari. Een sempat meminjam baju tari ke saya," kata Iwan Hermawan, teman kuliah Een di IKIP Bandung yang juga Ketua FAGI Bandung, Minggu (14/12).
Bahkan, terang dia, Een bisa melatih silat. "Dia itu sejatinya guru dengan keterbatasan fisik tapi bisa melatih tari bahkan silat," kata Iwan.
Menurutnya, Een membimbing anak-anak dengan kasih sayang. "Perjuangan harus diteruskan dan harus dibentuk yayasan untuk meneruskan perjuangannya itu," kata Iwan.
Herman Suryatman, mantan Kepala Dinas Pendidikan Sumedang, yang kini Kabiro Hukum dan Humas Kemenpan RI, menyebutkan perjuangan Een akan terus dilanjutkan. "Kami akan terus melanjutkan perjuangan Bu Een. Saat ini pembangunan rumah pintar sudah 90 persen dan nanti bukan hanya menjadi tempat belajar saja," kata Herman, Minggu (14/12).
Disebutkan, rumah pintar itu harus diwujudkan dan dijadikeun juga seperti museum. "Di rumah pintar itu bukan hanya sekadar tempat belajar, tapi ada dokumentasi tentang kiprah dan perjuangan Bu Een yang membimbing anak-anak belajar dengan iklas dan penuh kasih sayang," katanya.
Menurutnya, pihaknya sedang mengumpulkan dokumentasi foto, berita yang berkaitan dengan perjuangan Een Sukaesih. "Sehingga nanti orang yang berkunjung ke rumah pintar bisa melihat perjuangan sang guru kalbu dan bisa memberikan inspirasi serta melahirkan ribuan guru yang mendidik dengan kasih sayang," katanya.
Een Sukaesih yang lumpuh akibat radang sendi sejak 30 tahun lalu itu membimbing anak-anak sekolah sambil terbaring di tempat tidurnya. Namun Tuhan memanggilnya Jumat (12/12) pukul 15.20 pada usia 51 tahun. Een dikebumikan di pemakaman umum kampung halamannya, Batukarut, Desa Cibeureum Wetan, Kecamatan Cimalaka.