Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
Hai Semua!
Selamat siang.
Selamat siang.
Rasanya udah lama banget ane kaga muncul di forum kesayangan kita ini. Maklum, lagi sok sibuk wkwkwk. Nah, hari ini ane balik lagi & datang dengan thread book review.
Btw ane mo cerita dikit. Ane mo bilang makasih banyak sama Ipusnas yg udah memenuhi hasrat baca buku ane secara gratis, ya, walopun kudu nunggu antrian ye. Dan ane cukup kaget sama sistem antrean ini, berasa lagi di perpustakaan offline. Maklum, ane baru nyoba baca di Ipusnas sebulan belakangan.
Oke, back to topic. Jadi inilah buku yg mau ane review hari ini. Rumah Lebah karya Dodi Prananda.
Identitas Buku
Judul: Rumah Lebah
Penulis: Dodi Prananda
Penerbit: PT. Elex Media Komputindo
Tahun: 2014
Tebal: 259 halaman.
Personal Rate: 2,5/5
Sinopsis
Quote:
Selamat datang di Rumah Lebah!
Di sinilah rumah bagi mereka, para boneka yg 'dilahirkan' oleh Rama & Shinta.
Tapi tidak begitu dengan Peru. Ia mendapat limpahan kasih sayang & buaian sayang dari Shinta. Ia pun mendatangkan seorang kakak manusia bernama Seno supaya hidupnya sebagai boneka tidak kesepian.
Di Rumah Lebah inilah kehidupan meramu kebahagiaan & kegetiran. Suara kesedihan para boneka yg mengalami pergulatan batin; tempat tumbuhnya sayang yg terhalang takdir... & apa jadinya ketika manusia jatuh sayang kepada boneka?
Singgahlah, & jadilah kanak-kanak lagi.
***
Jadi ceritanya gini, Gansis. Rama & Shinta adalah pasangan suami istri yg ditakdirin gak dapat punya anak. Buat menghibur diri, mereka pun membuka toko boneka yg dinamai Rumah Lebah. Boneka-boneka itu dibuat sendiri oleh Rama di ruang 'persalinan' di rumah mereka. Keduanya bahkan menganggap boneka-boneka itu sebagai anak-anak pada umumnya.
Suatu waktu Rama bikinin Shinta boneka porselen laki-laki bernama Peru. Shinta seneng banget, sampe-sampe dia menganakemaskan Peru, bahkan ngeadopsi seorang anak laki-laki bernama Seno dari panti sebagai kakak Peru. Hingga kemudian istri mendiang sahabat Rama menitipkan Dara, boneka porselen wanita nan jelita di Rumah Lebah. Di mana ini berujung pada rusaknya hubungan persaudaraan antara Seno & Peru, karena keduanya sama-sama mensayangi Dara sebagai seorang kekasih.
***
Latar toko antik & boneka yg 'hidup' menciptakan ane teringat film Toys Story 4. Bedanya, mainan-mainan di film Toys Story hidup tanpa sepengetahuan Andy, pemiliknya, sedangkan boneka-boneka di Rumah Lebah bahkan dapat berkomunikasi dengan Rama & Shinta yg mereka panggil sebagai ayah & ibu.
Pas baca bab-bab awal, ane dapat menikmati cerita ini dengan baik. Bahkan ane cukup terhanyut dengan kisah sayang Rama & Shinta yg sweet banget walau tanpa seorang anak. Ane dapat ngebayangin raut bahagia pasangan itu ketika mendekorasi Rumah Lebah.
Namun ane mulai dibuat bingung setelah tokoh-tokoh lainnya muncul. Diawali dengan kemunculan Peru, terus Seno, terus Dara, & terakhir Ayunda. Kenapa bingung? Pertama, karena penulisnya menciptakan fokus cerita ini berpindah-pindah dari satu tokoh ke tokoh lain sehingga ane dibuat pusing, tokoh sentral dari novel ini siapa sih sebenernya?.
Kedua, disparitas cara komunikasi antara Rama, Shinta, & Seno dengan Peru si boneka porselen & dengan boneka-boneka lain di rak. Jadi gini. Peru benar-benar digambarkan dapat berkelakuan kayak anak manusia pada umumnya. Ia diajak makan bersama, tidur di ranjang, mengobrol dengan ayah, ibu, & Seno, bahkan mandi & merasa kedharapan. Sedangkan dengan boneka-boneka lain tak dijelaskan komunikasi mereka seperti apa. Hanya sekadar Shinta yg mendengar para boneka membicarakannya karena sudah menganakemaskan Peru.
Yang lebih membingungkan lagi, Seno dapat jatuh sayang pada Dara, boneka porselen yg cantik rupawan. Padahal Seno ini manusia. Mungkin wajar sih kalau ada manusia yg sayang ke boneka. Tapi kalau hingga berkencan & saling menggenggam jemari, itu agak nggak masuk akal, kan? Apalagi ini boneka porselen yg kaku.
Nah karena inilah ane juga mikir kalau novel ini agak creepy. Jika misal cuma para boneka aja yg dapat berkomunikasi & dengan sesama boneka, mungkin masih dapat diterima. Tapi kalau sekalian dengan manusia & cuma dengan Rama, Shinta, Seno (terakhir ada Ayunda), bukankah ini agak serem?
Bayangin aja pasangan suami istri tanpa anak yg memperlakukan boneka beruang porselen kayak anak sendiri, bahkan sampe dicariin kakak, digantiin baju, dapat ngobrol & curhat, ini sama kayak gangguan jiwa gak sih? Apalagi si Seno yg sayang banget sama Dara, sampe ngebayangin dapat bersayang sama si boneka porselen. Ini freaaak banget!
Karena inilah ane gak terlalu merekomendasikan novel ini. Mungkin karena ceritanya yg bukan my cup of tea? Tapi bukan berarti novel ini buruk. Ada kok pelajaran berharga yg dapat diambil dari sini, khususnya tentang bagaimana mensayangi seseorang dengan tulus.
Well, kalian gimana? Pernah baca novel ini ga, Gansis? Yuk diskusi di kolom komen!
Terima kasih sudah mampir
Instagram: @dianamisooyaaa
Instagram: @dianamisooyaaa
Hari ini 10:32