Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
Rumah adalah Kita
Oleh : Abdullah Fikri Ashri & Nawa Tunggal
Harian Kompas Minggu, 17 September 2017
KOMPAS/NAWA TUNGGAL
Pangeran Djatikusumah (85), sesepuh Masyarakat Adat Karuhun Urang atau diketahui juga sebagai masyarakat Sunda Wiwitan beserta salah satu putrinya, Dewi Kanti Setianingsih, di ruang Srimanganti di Paseban Tri Panca Tunggal.
Tidak ada jawaban berupa kata-kata. Pangeran Djatikusumah (85) cuma menggerakkan lengan kanannya hingga jari-jemarinya menunjuk & menyentuh dadanya. Itu jawaban Djatikusumah untuk pertanyaan tentang makna tempat tinggalnya, Paseban Tri Panca Tunggal, di Cigugur, Kuningan, Jawa Barat.
KOMPAS/NAWA TUNGGAL
Dapur Ageung di Paseban Tri Panca Tunggal Cigugur, Kuningan, Jawa Barat. Ruang untuk berdoa di depan perapian yg dinyalakan dengan bambu atau awi dalam bahasa Sunda.
KOMPAS/NAWA TUNGGAL
Miniatur Singgasana Paseban Tri Panca Tunggal Cigugur, Kuningan.
Paseban Tri Panca Tunggal itu kita. Kita yg memiliki naluri, rasa, & pikir, kemudian lima indera untuk mencapai yg tunggal atau manunggalingkawulaGusti, mengatakan Djatikusumah, Senin (11/9).
KOMPAS/NAWA TUNGGAL
Singgasana di Paseban Tri Panca Tunggal Cigugur, Kuningan, Jawa Barat.
Paseban bermakna sebagai tempat berkumpul. Naluri, rasa, & pikir merupakan penjabaran dari makna mengatakan tri atau tiga. Adapun kelima indera adalah penjabaran makna mengatakan panca. Kata tunggal dijabarkan sebagai konsep manunggaling kawula & Gusti.
KOMPAS/NAWA TUNGGAL
Ruang Srimanganti di Paseban Tri Panca Tunggal Cigugur, Kuningan, Jawa Barat.
Jadilah, Paseban Tri Panca Tunggal bermakna sebagai diri kita. Sebagai tubuh yg dikaruniai naluri, rasa, & pikir, dengan panca indera yg hidup menuju & menyatu dengan keesaan Tuhan Mahakuasa.
KOMPAS/NAWA TUNGGAL
Ruang Srimanganti di Paseban Tri Panca Tunggal Cigugur, Kuningan, Jawa Barat.
Paseban Tri Panca Tunggal diketahui pula sebagai pusat komunitas Sunda Wiwitan. Diperkirakan rumah ini dibangun pada tahun 1860 oleh Pangeran Madrais Sadewa Alibassa Kusuma Wijaya Ningrat (1832-1939), pioner ajaran yg diketahui sebagai Agama Djawa Sunda atau ADS, cikal bakal ajaran Sunda Wiwitan.
KOMPAS/NAWA TUNGGAL
Tampak depan Paseban Tri Panca Tunggal Cigugur, Kuningan, Jawa Barat. Pangeran Djatikusumah (85), sesepuh Masyarakat Adat Karuhun Urang atau diketahui juga sebagai masyarakat Sunda Wiwitan beserta salah satu putrinya, Dewi Kanti Setianingsih, di ruang Srimanganti di Paseban Tri Panca Tunggal.
Nama paseban ini mengandung konsepsi yg dalam. Tak kalah dalam & rumitnya ketika bagian per bagian dari rumah yg dimuliakan Masyarakat Adat Karuhun Urang (Akur) Sunda tersebut dipaparkan Dewi Kanti Setianingsih (42). Dewi adalah satu di antara delapan anak Djatikusumah.
Djatikusumah ditemui Kompas dalam rangkaian seremoni seren taun, 9-14 September 2017. Seren taun adalah upacara adat tiap tahun untuk ungkapan rasa syukur atas panen hasil bumi. Puncak peringatannya pada Kamis (14/9) atau tanggal 22 Rayagung 1950 Saka Sunda di Paseban Tri Panca Tunggal.
Singgasana kursi lebar
Ruang paling depan Paseban Tri Panca Tunggal terbagi atas Pendapa Pagelaran & Gedung Jinem Pasenatan Bale Agung Gilang Kencana, sering disebut Gedung Jinem saja. Di Gedung Jinem terdapat singgasana dengan kursi lebar yg mempunyai makna khusus.
Singgasana yg akbar ini bermakna tanggung jawab seorang pemimpin yg besar. Kursinya dibuat berukuran lebar untuk memberi pesan supaya pemimpin tidak cuma duduk di kursi takhtanya, tetapi senantiasa berada di tengah-tengah masyarakat luas, ujar Dewi Kanti.
Kursi singgasana itu berwarna merah menyala. Sepasang kepala naga terdapat di samping kursi. Di bawah bagian depan kursi ada sepasang naga dengan tubuhnya yg memanjang. Sepasang kepala kijang kencana bertanduk kecil ada di kiri & kanan bagian atas kursi singgasana.
Naga jadi simbol kekuasaan. Kijang kencana sebagai simbol kesejahteraan. Naga tidak pernah lebih tinggi dari kijang. Itu bermakna kekuasaan bukan sebagai tujuan semata dari seorang pemimpin yg duduk di kursi takhta singgasana. Kesejahteraan bersama jadi tujuan utama.
Dalam seremoni seren taun, di depan kursi singgasana itu diletakkan berbagai hasil bumi, termasuk gabah yg belum ditumbuk.
Pada puncak peringatan seren taun, gabah ditumbuk bersama-sama di lesung. Jumlah gabah ditetapkan sebanyak 2.200 kilogram atau 22 kuintal.
Gedung Jinem ini memiliki empat pilar atau saka utama berbentuk segi delapan. Segi delapan bermakna delapan penjuru angin. Ini bermakna sebagai anugerah penopang kekokohan bangunan. Di bagian bawah setiap pilar terdapat relief wajah-wajah Danawa atau raksasa mengerikan.
Danawa itu simbol energi negatif. Danawa tidak untuk dihilangkan, tetapi dikendalikan manusia, mengatakan Dewi Kanti.
Di dinding sisi timur terdapat relief dua sosok wayang berupa Raseksi atau raksasa perempuan & Satria Pinandhita. Ini mengandung pesan untuk hidup mengutamakan kepinandhitaan atau kebaikan untuk mengalahkan Raseksi atau nafsu buruk.
Gedung Jinem membujur dari selatan ke utara. Tempat ini untuk pertemuan atau sarasehan. Di lantai dua terdapat ruang yg dimanfaatkan sebagai museum koleksi berbagai artefak kebudayaan Sunda.
Mengolahsempurnakan alam.
Di sebelah utara Gedung Jinem ada Pendapa Pagelaran. Dinding sisi timur pendapa ini memiliki relief bertuliskan Purwa Wisada dengan aksara Sunda.
Ada relief sepasang naga di bawah sebuah bundaran yg mengandung makna keselarasan dua tabiat antara pria & wanita. Bulir padi ada di keliling bundaran sebagai simbol kesejahteraan.
Di tengah bundaran bagian atas terdapat huruf ha sebagai huruf paling awal dalam aksara Hanacaraka. Di bawah huruf itu terdapat susunan bentuk berundak dari bawah yg berjumlah 3, 5, & 1, penjabaran dari konsepsi Tri Panca Tunggal.
Di atas bundaran terdapat relief burung elang. Elang sebagai simbol hidup yg dinamis. Rangkaian gambar dalam relief Purwa Wisada ini mengungkap bahwa makna hidup manusia harus mengolahsempurnakan alam dengan akal budinya.
Pendapa Pagelaran menghubungkan ke sisi timur, ke ruang Srimanganti. Ruang ini untuk pertemuan keluarga dalam mengambil suatu keputusan. Bilik utara ruang ini jadi tempat tinggal Djatikusumah beserta keluarganya.
Di keempat sudutnya terdapat patung Paragabaya, penjaga bersenjatakan tombak. Ini menyiratkan makna kehati-hatian dalam setiap pengambilan keputusan di ruang Srimanganti.
Ke arah timur, ruang berikutnya adalah ruang Megamendung sebagai perpustakaan. Buku-buku yg ada diutamakan buku pengetahuan tentang semua agama. Sisi utaranya jadi ruang membatik. Di sana ada beberapa koleksi batik tulis khas Cigugur, seperti motif rereng kujang, oyod mingmang, sekar galuh, & geger sunten.
Ruang berikutnya ada di bagian paling timur berupa Dapur Ageung. Kata dapur tidak bermakna sebagai ruang untuk memasak makanan, tetapi itu jadi tempat mengolah aras atau bermeditasi.
Di ruang meditasi ini ada tungku pembakaran suluh atau bambu. Di setiap sudut tungku ada simbol kepala naga yg mewakili unsur air, api, angin, & tanah, mengatakan Dewi Kanti.
Suluh atau bambu dalam bahasa Sunda disebut awi. Menurut Dewi Kanti, dari mengatakan awi inilah kemudian muncul istilah asal wiwitan,kemudian dilekatkan jadi istilah Sunda Wiwitan, salah satu aliran kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Paseban Tri Panca Tunggal sebagai tempat tinggal Djatikusumah berhasil menyuguhkan rangkaian nilai kehidupan. Paseban atau rumah itu, bagi Djatikusumah, adalah nilai diri sendiri. Rumah adalah kita.
https://denogata.blogspot.com/2018/05/rumah-adalah-kita.html Hari ini 10:58
Oleh : Abdullah Fikri Ashri & Nawa Tunggal
Harian Kompas Minggu, 17 September 2017
KOMPAS/NAWA TUNGGAL
Pangeran Djatikusumah (85), sesepuh Masyarakat Adat Karuhun Urang atau diketahui juga sebagai masyarakat Sunda Wiwitan beserta salah satu putrinya, Dewi Kanti Setianingsih, di ruang Srimanganti di Paseban Tri Panca Tunggal.
Tidak ada jawaban berupa kata-kata. Pangeran Djatikusumah (85) cuma menggerakkan lengan kanannya hingga jari-jemarinya menunjuk & menyentuh dadanya. Itu jawaban Djatikusumah untuk pertanyaan tentang makna tempat tinggalnya, Paseban Tri Panca Tunggal, di Cigugur, Kuningan, Jawa Barat.
KOMPAS/NAWA TUNGGAL
Dapur Ageung di Paseban Tri Panca Tunggal Cigugur, Kuningan, Jawa Barat. Ruang untuk berdoa di depan perapian yg dinyalakan dengan bambu atau awi dalam bahasa Sunda.
KOMPAS/NAWA TUNGGAL
Miniatur Singgasana Paseban Tri Panca Tunggal Cigugur, Kuningan.
Paseban Tri Panca Tunggal itu kita. Kita yg memiliki naluri, rasa, & pikir, kemudian lima indera untuk mencapai yg tunggal atau manunggalingkawulaGusti, mengatakan Djatikusumah, Senin (11/9).
KOMPAS/NAWA TUNGGAL
Singgasana di Paseban Tri Panca Tunggal Cigugur, Kuningan, Jawa Barat.
Paseban bermakna sebagai tempat berkumpul. Naluri, rasa, & pikir merupakan penjabaran dari makna mengatakan tri atau tiga. Adapun kelima indera adalah penjabaran makna mengatakan panca. Kata tunggal dijabarkan sebagai konsep manunggaling kawula & Gusti.
KOMPAS/NAWA TUNGGAL
Ruang Srimanganti di Paseban Tri Panca Tunggal Cigugur, Kuningan, Jawa Barat.
Jadilah, Paseban Tri Panca Tunggal bermakna sebagai diri kita. Sebagai tubuh yg dikaruniai naluri, rasa, & pikir, dengan panca indera yg hidup menuju & menyatu dengan keesaan Tuhan Mahakuasa.
KOMPAS/NAWA TUNGGAL
Ruang Srimanganti di Paseban Tri Panca Tunggal Cigugur, Kuningan, Jawa Barat.
Paseban Tri Panca Tunggal diketahui pula sebagai pusat komunitas Sunda Wiwitan. Diperkirakan rumah ini dibangun pada tahun 1860 oleh Pangeran Madrais Sadewa Alibassa Kusuma Wijaya Ningrat (1832-1939), pioner ajaran yg diketahui sebagai Agama Djawa Sunda atau ADS, cikal bakal ajaran Sunda Wiwitan.
KOMPAS/NAWA TUNGGAL
Tampak depan Paseban Tri Panca Tunggal Cigugur, Kuningan, Jawa Barat. Pangeran Djatikusumah (85), sesepuh Masyarakat Adat Karuhun Urang atau diketahui juga sebagai masyarakat Sunda Wiwitan beserta salah satu putrinya, Dewi Kanti Setianingsih, di ruang Srimanganti di Paseban Tri Panca Tunggal.
Nama paseban ini mengandung konsepsi yg dalam. Tak kalah dalam & rumitnya ketika bagian per bagian dari rumah yg dimuliakan Masyarakat Adat Karuhun Urang (Akur) Sunda tersebut dipaparkan Dewi Kanti Setianingsih (42). Dewi adalah satu di antara delapan anak Djatikusumah.
Djatikusumah ditemui Kompas dalam rangkaian seremoni seren taun, 9-14 September 2017. Seren taun adalah upacara adat tiap tahun untuk ungkapan rasa syukur atas panen hasil bumi. Puncak peringatannya pada Kamis (14/9) atau tanggal 22 Rayagung 1950 Saka Sunda di Paseban Tri Panca Tunggal.
Singgasana kursi lebar
Ruang paling depan Paseban Tri Panca Tunggal terbagi atas Pendapa Pagelaran & Gedung Jinem Pasenatan Bale Agung Gilang Kencana, sering disebut Gedung Jinem saja. Di Gedung Jinem terdapat singgasana dengan kursi lebar yg mempunyai makna khusus.
Singgasana yg akbar ini bermakna tanggung jawab seorang pemimpin yg besar. Kursinya dibuat berukuran lebar untuk memberi pesan supaya pemimpin tidak cuma duduk di kursi takhtanya, tetapi senantiasa berada di tengah-tengah masyarakat luas, ujar Dewi Kanti.
Kursi singgasana itu berwarna merah menyala. Sepasang kepala naga terdapat di samping kursi. Di bawah bagian depan kursi ada sepasang naga dengan tubuhnya yg memanjang. Sepasang kepala kijang kencana bertanduk kecil ada di kiri & kanan bagian atas kursi singgasana.
Naga jadi simbol kekuasaan. Kijang kencana sebagai simbol kesejahteraan. Naga tidak pernah lebih tinggi dari kijang. Itu bermakna kekuasaan bukan sebagai tujuan semata dari seorang pemimpin yg duduk di kursi takhta singgasana. Kesejahteraan bersama jadi tujuan utama.
Dalam seremoni seren taun, di depan kursi singgasana itu diletakkan berbagai hasil bumi, termasuk gabah yg belum ditumbuk.
Pada puncak peringatan seren taun, gabah ditumbuk bersama-sama di lesung. Jumlah gabah ditetapkan sebanyak 2.200 kilogram atau 22 kuintal.
Gedung Jinem ini memiliki empat pilar atau saka utama berbentuk segi delapan. Segi delapan bermakna delapan penjuru angin. Ini bermakna sebagai anugerah penopang kekokohan bangunan. Di bagian bawah setiap pilar terdapat relief wajah-wajah Danawa atau raksasa mengerikan.
Danawa itu simbol energi negatif. Danawa tidak untuk dihilangkan, tetapi dikendalikan manusia, mengatakan Dewi Kanti.
Di dinding sisi timur terdapat relief dua sosok wayang berupa Raseksi atau raksasa perempuan & Satria Pinandhita. Ini mengandung pesan untuk hidup mengutamakan kepinandhitaan atau kebaikan untuk mengalahkan Raseksi atau nafsu buruk.
Gedung Jinem membujur dari selatan ke utara. Tempat ini untuk pertemuan atau sarasehan. Di lantai dua terdapat ruang yg dimanfaatkan sebagai museum koleksi berbagai artefak kebudayaan Sunda.
Mengolahsempurnakan alam.
Di sebelah utara Gedung Jinem ada Pendapa Pagelaran. Dinding sisi timur pendapa ini memiliki relief bertuliskan Purwa Wisada dengan aksara Sunda.
Ada relief sepasang naga di bawah sebuah bundaran yg mengandung makna keselarasan dua tabiat antara pria & wanita. Bulir padi ada di keliling bundaran sebagai simbol kesejahteraan.
Di tengah bundaran bagian atas terdapat huruf ha sebagai huruf paling awal dalam aksara Hanacaraka. Di bawah huruf itu terdapat susunan bentuk berundak dari bawah yg berjumlah 3, 5, & 1, penjabaran dari konsepsi Tri Panca Tunggal.
Di atas bundaran terdapat relief burung elang. Elang sebagai simbol hidup yg dinamis. Rangkaian gambar dalam relief Purwa Wisada ini mengungkap bahwa makna hidup manusia harus mengolahsempurnakan alam dengan akal budinya.
Pendapa Pagelaran menghubungkan ke sisi timur, ke ruang Srimanganti. Ruang ini untuk pertemuan keluarga dalam mengambil suatu keputusan. Bilik utara ruang ini jadi tempat tinggal Djatikusumah beserta keluarganya.
Di keempat sudutnya terdapat patung Paragabaya, penjaga bersenjatakan tombak. Ini menyiratkan makna kehati-hatian dalam setiap pengambilan keputusan di ruang Srimanganti.
Ke arah timur, ruang berikutnya adalah ruang Megamendung sebagai perpustakaan. Buku-buku yg ada diutamakan buku pengetahuan tentang semua agama. Sisi utaranya jadi ruang membatik. Di sana ada beberapa koleksi batik tulis khas Cigugur, seperti motif rereng kujang, oyod mingmang, sekar galuh, & geger sunten.
Ruang berikutnya ada di bagian paling timur berupa Dapur Ageung. Kata dapur tidak bermakna sebagai ruang untuk memasak makanan, tetapi itu jadi tempat mengolah aras atau bermeditasi.
Di ruang meditasi ini ada tungku pembakaran suluh atau bambu. Di setiap sudut tungku ada simbol kepala naga yg mewakili unsur air, api, angin, & tanah, mengatakan Dewi Kanti.
Suluh atau bambu dalam bahasa Sunda disebut awi. Menurut Dewi Kanti, dari mengatakan awi inilah kemudian muncul istilah asal wiwitan,kemudian dilekatkan jadi istilah Sunda Wiwitan, salah satu aliran kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Paseban Tri Panca Tunggal sebagai tempat tinggal Djatikusumah berhasil menyuguhkan rangkaian nilai kehidupan. Paseban atau rumah itu, bagi Djatikusumah, adalah nilai diri sendiri. Rumah adalah kita.
https://denogata.blogspot.com/2018/05/rumah-adalah-kita.html Hari ini 10:58