• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

RS premium account (pencurian)

asoybanget

IndoForum Beginner A
No. Urut
52516
Sejak
12 Sep 2008
Pesan
1.375
Nilai reaksi
47
Poin
48
bro and sis yg terutama muslim

gw pernah dapat account RS bocoran dari forum ini. gw pernah gunain itu 2 kali buat mendownload gundam 00.

akhirnya gw terpikir, klo yg di gunain itu adalah account orang lain yg gw gunain (baca = curi). dan gw merasa bersalah/menyesal karena telah melakukan itu.

orang sudah membeli account tersebut, tapi quotanya abis di gunain orang lain. terpikirkah oleh kalian?

tapi gw masih kompromi klo bisa nge hack rapidshare nya langsung(emang bisa yah?). tanpa menggunakan account orang lain yg sudah membayar account orang lain.

bro and sis yg terutama muslim... tiap perbuatan itu ada balasanya walaupun sekecil apapun.

thks
 
biasanya kalo id RS yg di share itu....adalah ID gratisan, makanya dia berani share ke orang laen....mereka sengaja lah sharing ID RS, biar bagi2 rejeki gitu,
dan gratisan itu bisa di dapat dari point2 yg kita dapetin dari RS itu sendiri
 
biasanya kalo id RS yg di share itu....adalah ID gratisan, makanya dia berani share ke orang laen....mereka sengaja lah sharing ID RS, biar bagi2 rejeki gitu,
dan gratisan itu bisa di dapat dari point2 yg kita dapetin dari RS itu sendiri

iya..semoga aja begitu.. tapi bagaimana dengan kasus..
si A kasih account share cuman untuk si B..lalu si B tanpa sepengetahuan si A. menyebarkan account tersebut ke berbagai orang?

tapi sepengetahuan gw kebanyakan id tersebut di hack....sepengetahuan gw loh. tapi klo nge hack RS nya langsung tuh pada gak bisa...
 
iya..semoga aja begitu.. tapi bagaimana dengan kasus..
si A kasih account share cuman untuk si B..lalu si B tanpa sepengetahuan si A. menyebarkan account tersebut ke berbagai orang?

tapi sepengetahuan gw kebanyakan id tersebut di hack....sepengetahuan gw loh. tapi klo nge hack RS nya langsung tuh pada gak bisa...

kalo kasus ini sih tinggal si B nya aja...dia bisa jaga amanah apa gak dari si A...makanya, kalo mao aman...ya mending beli sendiri aja deh RS nya...murah koq bisa di pake sebulan.
tapi kalo nge hack dari RS sendiri....gak akan bisa
 
kalo kasus ini sih tinggal si B nya aja...dia bisa jaga amanah apa gak dari si A...makanya, kalo mao aman...ya mending beli sendiri aja deh RS nya...murah koq bisa di pake sebulan.
tapi kalo nge hack dari RS sendiri....gak akan bisa

nah itu lebih baik beli sendiri deh..
memang klo nge hack RS ga bisa..tapi sepengetahuan gw klo yg di hack itu id RS.. entah bagaimana caranya.. klo nge hack RS nya memang gw tanya ke orang lain itu ga bisa...
 
Yah,.....bagaimana [un jga..apapun..yang namanya "crack-crackan" itu melanggar aturan karena selain merupakan bentuk pencurian, termasuk juga pelanggaran atas hak kepemilikan seseoerang.

Gw beruntung karena gw puna acc rapidshare sendiri yang dibayar 7 euro per bulan :D :D :D dan ga pernah pake id yang crack. Tapi kalo software bajakan masih lah....untuk pribadi

Kalau dipikir-pikir...download via rapidshare dengan id crack gitu ga hanya mencuri quota orang lain juga tapi juga kalo yang di donlot adalah software yang kebanyakan di rapid tuh bajakan yah.....double pelanggaran. :D :D
 
bagi agama gw tidak ada hak cipta. mambajak sah sah saja..... silah kan liat penjelasan/post gw di clean debates tentang pembajakan software...

nah berbeda dengan mencuri klo itu baru dilarang
 
^
nge-bajak skrg mah d smakan am mencuri boss...
Jd mao g mao y bgto lha...☺
 
baca aja penjelsan gw di http://indoforum.org/showthread.php?t=74144
ada beberpa kok postingan gw

nih gw post disini aja

gak ada pilihan bangga menggunakan bajakan... mana lus? atau tambahin anti hak cipta.

GW ANTI HAK CIPTA

untung di agama gw ga ada hak cipta..justru di halal kan pembajakan...

HAK CIPTA hanya milik ALLAH!

dulu gw waktu di sosialis(waktu belum tobat) juga tidak ada istilah hak cipta. karena hak cipta adalah pembodohan..
kayaknya di china tidak ada hak cipta juga tuh..

mau beli buku mahal, padahal buku itu bermanfaat untuk kemajuan negara mending bajak aja.

negara maju berkat rakyat..gimana mau maju klo rakyatnya bodoh..karena tidak bisa membeli buku(ilmu yg mahal).dia mau pintar malah mau cari ilmu pengetahuan mahal..
gw bangga membajak..membajak ilmu yg bermanfaat yah..


PEMBAJAKAN ADALAH PERLAWANAN..


sori berantakan nulisnya..lagi mumet

w bingung sih, ini CD tidak boleh bawa2 agama... klo di Agama gw permasalahan ada solusinya..agama gw bukan hanya ritual aja...
jadi kemana mana harus bawa agama gw...tapi di CD ini gak boleh bawa agama.
mungkin lewat profile gw aja klo ada yg nanya masalah gituan

yg jelas tidak ada hak cipta dalam agama gw. yg ada adalah hak merek dagang.
itu adalah ide kapitalisme yg ingin mengeruk kekayaan
karena penghargaan dari sebuah karya mereka adalah materi..bukan keridhoan dari penciptanya.

masih ingat KANGEN BAND? justru mereka senang klo karya nya di bajak..karya mereka justru bisa di denger oleh orang banyak..

tau linux? itu juga tidak ada hak cipta.... penghargaan dari orang2 tersebut adalah bahagia ketika karyanya bisa bermanfaat buat orang banyak dan bisa di gunakan oleh orang banyak..

hilang kan isitilah copyright

ganti dengan istilah

copyleft..no right reversed

DO you know/Dib o to o do/Nyahoo teu…Anda pernah membaca tulisan itu. Rasa rasanya ya? Benar, tulisan itu ada di sampul belakang novel kedua Dewi Lestari yang berjudul Akar. Lantas, apa yang anda rasakan waktu membaca dan menyelami maknanya? Anda mungkin salah satu di antara mayoritas yang menyetujui maksudnya, karena menurut alur logika berfikir anda, pembajakan memang meresahkan, menimbulkan penindasan terselubung terhadap para penulis hingga andapun mewajarkan jika diantara penulis ada yang berkeinginan untuk menguliti kepala pembajak guna memuaskan dendam.

Pembajakan suatu karya, dalam hal ini kita mengambil contoh buku, menurut para ahli dimulai dari kemunculan distribusi ilmu pengetahuan masala yang kedua setelah Tsailun menemukan kertas. Dengan mesin cetaknya yang fenomenal, secara tidak langsung dalam tempo singkat. Guttenberg membantu lompatan inovasi ilmu pengetahuan hingga berpuluh – puluh kali lipat jauh lebih tinggi ketimbang masa sebelumnya.

Jika dulu para penyalin membutuhkan waktu yang lama untuk menyalin sebuah buku, maka hanya dengan menekan beberapa tuas, sambil ongkang – ongkang kaki dan sesekali menegak pilsener, seorang operator mesin cetak bias mendapat salinan ratusan lembar tulisan hanya dalam satu hari. Meski, mesin cetak memang tidak di tujukan untuk merugikan manusia, akan tetapi disetiap penemuan teknologi akan selalu ada sisi gelap yang menghantui.

Sejak saat itulah percetakan dan penerbitan buku, selaku karya intelektual seorang penulis menjadi tidak terkendali. Ketika penulis bersusah payah mencari ide, menjalani disiplin ilmu penulisan, menawarkan dan menunggu untuk diterbitkan tiba – tiba hasil keringat dan kerja keras intelektualnya dibajak begitu saja tanpa memperhatikan tata karma misalnya sekedar meminta izin kepadanya. Jika dalam perjanjian antara penerbit dengan penulis terdapat system royalty yang sedikit banyaknya akan menjamin keberlangsungan hidup penulis, maka pelaku pembajakan meniadakannya.

Di zaman ‘21century digital boy’ ini, keberadaan pembajakan dan pembeli buku bajakan dianggap sebagai indikasi kurang sadarnya masyarakat terhadap penghargaan intelektual. Kalau kurang sadar berarti masyarakat kesurupan? Sungguh menyedihkan!.

Apabila melihat masa sebelum mesin cetak Guttenberg ditemukan, pembajakan buku tidaklah menjadi permasalahan yang penting untuk diseriusi, sebab pada masa itu, penggandaan buku tidak dilakukan dalam bentuk cetakan masal, melainkan hanya dalam bentuk penyalinan.

Disinilah terlihat betapa culasnya pelaku pembajakan. Di satu sisi ingin mengeruk uang sebesar besarnya, tetapi disisi lain, dia tidak ingin menunaikan hak penulis yang membuatnya kaya. Artinya pembajak hanya ingin untung sendiri. Dan orang yang ingin untung sendiri adalah orang yang picik.

Belajar dari kasus tersebut, maka untuk melindungi penulis lahirlah serangkaian aturan yang dikemudian hari dikenal dengan nama hak cipta(copyright). Kemudian, apa setelah manusia menguras fikiran dan energi untuk menghasilkan aturan yang berpihak pada penulis, lantas apakah hak cipta tidak membawa sisi gelap bagi manusia? Beberapa orang menganggapnya tidak! Benar, jika hak cipta memberi jaminan pada penulis, akan tetapi hak cipta dianggap pemutus akses ilmu pengetahuan bagi masyarakat yang pada umumnya kere, melarat atau miskin.

Keberadaan hak cipta, menyebabkan masyarakat tidak diperkenankan secara legal mengakses ilmu pengetahuan, meski dengan mengkopi lalu menjilidnya secara pribadi. Ali – alih dibuat untuk melindungi penulis, pada kenyataannya hak cipta dijadikan alat bagi pemilik modal penerbitan, untuk meraup keuntungan sebesar besarnya. Di posisi inilah hukum rimba pula yang berkata: Cuma yang kaya yang berhak mendapat pengetahuan, yang hidupnya ngap – ngapan, tidak!


Maka untuk mengcounter hak cipta lahirlah ajakan untuk melakukan pembajakan, karena pembajakan adalah perlawanan. Demikianlah anggapannya. Lantas bagaimana?

Ada sebuah catatan sejarah yang mungkin bisa diambil hikmahnya dalam menentukan pembuatan aturan yang melindungi penulism namun tidak melupakan bahwa seluruh lapisan masyarakat mutlak memerlukan akses pengetahuan.

Pada abad ke sembilan dan kesepuluh masehi ketika dunia islam dipimpin oleh Ke Khilafahan islam periode Abasyiah, beberapa orang khalifah (diantaranya Harun dan Ma’mun Al Rasyid) giat melakukan pengembangan pengetahuan mengenai filsafat (terutama hellenisme) pengobatan, matematika, dan ilmu pengetahuan lainnya. Untuk menunjang usaha ini mereka membuat Bait Al Hikmah, sedangkan usaha lainnya, ialah dengan memberikan jaminan kehidupan yang lebih dari sekedar penyambung hidup untuk para penulis yang memiliki karya.

Makmum dan Harun Al Rasyid, menghargai karya penulis dengan menimbang karyanya yang kemudian menggantinya dengan emas. Tolak ukur pembayarannya adalah berat timbangan karya si penulis. Ibaratnya jika karya si penulis setelah ditimbang beratnya ternyata satu kilo maka Negara akan menggantinya dengan emas seberat satu kilo juga. Setelah penulis diberikan haknya, Khilafah bani Abasyiah, mempersilahkan masyarakat untuk mengakses karya penulis, menggunakan berbagai cara, menyalinnya sendiri, atau menyebarluaskannya meski dengan tujuan komersialisasi. Terserah, sebab Negara sudah menuntaskan hak penulis dan hak masyarakat untuk mengakses pengetahuan yang murah.

Tentu cerita itu bukan ditujukan agar pemerintah membuat kebijakan mengganti buku Penulis taruhlah dengan setengah kilo emas. Terserahlah, pemerintah mau membayar dengan setengah kilo buku Penulis dengan sepuluh tangki bensin atau dengan kulit kerang zama kyoken modinger, asalkan bisa melindungi hak penulis itu. Lantas bagaimana dengan nasib penerbit? Penerbit bias bekerjasama dengan pemerintah. Mengenai masalah teknis, silahkan bicarakan dengan ahlinya.

Akhir kalam, mudah – mudahan tulisan ini bisa membuka wacana dalam mempertimbangkan hak cipta yang sudah terlanjur dilegalisasikan. Mungkin dari wacana ini akan muncul antitesa sementara: Pembajakan untuk komersialitas?NO! Pembajakan untuk pencerdasan?YES! dari tesa: Pembajakan adalah perlawanan.

harus bisa dipisahkan...antara mencuri dan membajak...semoga berpikir cemerlang
 
^
bos Klo mo ngajak debat bukan disini tempatnya.......
 
bwahahahahahaha.... (ngakak mode : on) =))=))
 
Yah.....nyampe lagi deh tentang hak cipta dan hak kepemilikian account seseorang..... :D :D

Yah..pokoknya kalau mau pake account crack ya pake ajah..kalo merasa syak untuk memakai accout crack gitu ya ga usah pake lah.....gampang dah....ribet amat....lagian kan ga semua orang pake rapidshare kan :D :D
 
^
bos Klo mo ngajak debat bukan disini tempatnya.......

namanya juga testing area.... makanya mau disimpan dimana nantinya, lagian kan gw cuman diskusi sama hayate? masa di bilang debat?

Yah.....nyampe lagi deh tentang hak cipta dan hak kepemilikian account seseorang.....

Yah..pokoknya kalau mau pake account crack ya pake ajah..kalo merasa syak untuk memakai accout crack gitu ya ga usah pake lah.....gampang dah....ribet amat....lagian kan ga semua orang pake rapidshare kan

gw cuman menasehatin sesama saudara gw muslim.. yah terserah..gw sih orangnya gak maksa..yg jelas kan gw dah ngasih tau...
karena setiapmuslim itu saudara..yg pasti tidak mengiginkan saudaranya jatuh kedalam dosa....klo misalnya RS account share itu adalah pencurian...

klo misalnya itu sudah di ikhlaskan atau itu memang di sebarkan oleh pemilik account yg dimakusd oleh cleric preston baru itu tidak jadi masalah.
 
@atas

terimakasih sudah memperingati, saya pribadi belom pernah mendowload memakai premium gratisan :D
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.