• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

Romantisme Warga Surabaya dengan Cangkeman

  • Pembuat thread awal. Pembuat thread awal. Angela
  • Tanggal Mulai Tanggal Mulai

Angela

IndoForum Pro E
No. Urut
88
Sejak
25 Mar 2006
Pesan
45.487
Nilai reaksi
35
Poin
0
Romantisme Warga Surabaya dengan Cangkeman


Cangkeman.net -Semalam entah karena dapat khilafat dari mana tiba-tiba saya mengecek hasil analisa dari Google Analytics mengenai media Cangkeman ini. Hasilnya tidak cukup memuaskan. Pengunjung memang banyak, tetapi yg baca artikel sedikit, saya jadi bertanya-tanya, orang-orang ini ngapain ya? Atau mungkin mereka nggak selera dengan konten yg ada, atau mungkin mereka ini nggak pengin membaca, tetapi harap ikut misuh juga. Ini terbukti dengan banyaknya konten yg diterima di Bulan Agustus oleh regu redaksi Cangkeman. Tapi ada satu hal yg bikin saya lumayan kaget. Demografi pengunjung!

Semua situs web yg saya tangani, demografi pengunjungnya mayoritas dari Jakarta, baru kemudian kota-kota akbar lain menyusul di bawahnya, tetapi di Cangkeman ini, justru Surabaya jadi kota dengan penyumbang trafik terbanyak ke Cangkeman.

"Loh tumben, ada apa dengan Surabaya, apa rekanan penting antara Cangkeman & warga Surabaya?" kataku.

Jancuk, misuh, & cangkeman. Adalah 3 mengatakan yg berkorelasi erat di antara masyarakat kota Pahlawan itu. Dan 3 mengatakan itu juga yg mendominasi media ini. Yah jadilah sebuah kecocokan,ya po ora cuk?

Sebagai bentuk perhatianku kepada segenap warga Surabaya, Jawa Timuran & masyarakat Jawa pada umumnya kali ini saya akan sedikit membahas ke arah sana, satu-satu dulu ya.

Surabaya memang diketahui sebagai kota terbesar kedua setelah Jakarta. Tapi saya sendiri nggak cocok dengan itu, Surabaya lebih cocok disebut sebagai kota terbesar, kenapa?
Karena Jakarta bukan kota, Jakarta itu Provinsi. Tidak apple to apple membandingkan sebuah Provinsi & Kota. Kalau membandingkan Surabaya ya dengan Jakarta Selatan misalnya, atau Jakarta Pusat, itu baru adil. Jadi saya berani menyatakan kalau Surabaya adalah kota terbesar di Indonesia, bahkan dapat disebut kota metropolitan.

Dilihat dari kesibukannya sebagai kota Hub yg jadi ibukota provinsi Jawa Timur, padatnya perdagangan di Tanjung Perak & gedung-gedung yg mulai menjulang tinggi dari tanah, pantaslah kota ini memenuhi syarat sebagai kota metropolitan. Dengan perkembangan kemajuan kotanya, orang-orang metropolis biasanya paling up to date, mengejar kekinian, meuja hedoisme & banyak yg rela hidup di ruangan kubus kecil & jadi hamba sahaya mie instan demi berfoya-foya di akhir pekan. Bagaimana dengan penduduk Surabaya?Halah nggak mashook blass..!


Berbeda dengan warga Jakarta, orang Surabaya justru memilih untuk mempertahankan ciri khasnya sendiri, membuang stereotipe warga di kota akbar lainnya. Biasanya dengan lifestyle kota besar, banyak orang yg punya uang secuil tetapi gayanya selangit, demi tuntutan pergaulan, tetapi di Surabaya justru terbalik loh. Orang Surabaya justru lebih banyak yg pura-pura miskin, keliatan kere. Pake sendal jepit, motor matic seadanya & koloran, makan di emperan depan gedung. Jangan kaget kalo dia ternyata orang yg punya gedung itu. Yang kaya gini banyak di Surabaya.
Lebih lanjut, sudah jadi rahasia biasa kalau warga Surabaya diidentikkan kasar, kalau menurutku sih bukan kasar ya, tetapi karena disparitas kultur saja, kalau mengatakan anak twitter
"Bukan dia yg kasar tetapi kamunya aja yg lembek cuk"

Kalau mau dilihat dari tinjauan budaya, tabiat orang Surabaya tersebut disinyalir karena lokasinya yg terlalu jauh dari kekeratonan, ditambah lagi dengan kerasnya kehidupan di sebuah kota pelabuhan, ini tidak berbeda jauh dengan Tegal, banyak pula yg mengatakan orang Tegal bicaranya kasar. Tapi ya kembali lagi, dengan siapa kita berbicara.

Panggilan dengan nada umpatan seperti "Cuk" sangat familiar terdengar di sana. Cuk, yg adalah kependekan dari "ngencuk" makin-makin memperkuat kesan kasar orang Surabaya di mata orang luar. Padahal dibalik itu ada keakraban dua orang tanpa amarah yg tersulut sama sekali, justru cuma keakrabanlah yg dapat menjadikan dua orang bercak-cuk ria.

Soal bersosialisasi, orang Surabaya yg saya kenal juga tidak suka ngomong ngalor ngidul. Semua maksud & tujuannya langsung dihinggakan dengan lugas, terkesan singkat, iya. Tapi ntar dulu. Walaupun ngomongnya lugas, tetapi dalam pengucapan suatu kata, justru mereka suka memanjang-manjangkan.

Untuk mendefinisikan kecantikan saja, tidak cukup sekadar "ayu tenan", tetapi harus ditekankan lagi hingga "Uayuuuuuuuuuuu tenaaaaaannnnnnnn". Untuk sekadar ngomong Jancuk pun nggak cukup, mereka lebih fasih dari yg lainnya. "Jiiiiaaannncuuuuuuuuuukkk.."

Usut punya usut, ternyata ada peran selera mereka dibalik lidah arek-arek ini. Mereka sangat menyukai Sego Sambel, tau Nasi Sambal. Dipinggir-pinggir jalanan kota, penjual makanan ini nggak pernah sepi cuk. Padahal masakan ini disajikan cuma nasi panas, telur & sambel yg disiram diatas nasi yg mengepul asap panas. Tapi untuk sensasi pedas+panasnya memang beda sih, ada lebihnya apa gitu loh. Mungkin karena itulah lidah-lidah mereka jadi pedes! Anak Jakarta dijamin jiper.

Dibalik image warga Surabaya yg terkenal kasar & keras itu, ada satu hal yg jarang ora tahu.
Dibalik megahnya sebuha kota metropolitan dengan segala keruwetan, macet & tindak kriminal. Surabaya tetap mempunyai Jati dirinya. Mungkin di kota akbar lain anda harus bersiap menghadapi begal, rampok & tindak kejahatan lainnya di jalan, apalagi sendirian. Tapi di Surabaya, anda justru bakal menemukan orang yg mau menolong dorong motor kita hingga ke SPBU, atau mengantar kita menemukan alamat ke sudut kota yg antah berantah hingga di depan pintu tujuan.

Surabaya memang beda, & kini Cangkeman turut merasakan nuansa keakraban yg luar biasa itu.
Terima kasih atas romantisme warga Surabaya bersama Cangkeman. Semoga Cangkeman dapat menciptakan kantor di sana.

Jadi, kapan ngirim misuhannya ke sini?


www.cangkeman.net Hari ini 21:50
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.