Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
Sekilas bangunan bata merah itu terlihat kontras diapit oleh bangunan lain yg berwarna putih. Bangunan itu adalah Roly Poly, restoran, bar, & ruang serbaguna milik Ottogi, salah satu perusahaan makanan terkenal di Korea Selatan. Dengan maksud untuk menyegarkan citra merek & menjangkau pasar yg lebih luas, perusahaan tersebut menciptakan Roly Poly dengan bantuan Studiovase, biro arsitek asal Seoul.
Roly Poly berada di Nonhyeon-dong distrik Gangam-gu, Seoul, Korea Selatan. Lahan restoran seluas 1015 meter persegi ini seolah meliuk di antara dua gedung tinggi. Kunci desain Rolly Polly adalah bagaimana menggabungkan taman yg tersembunyi di antara dua bangunan, menciptakan hubungan antara ruang-ruang terbuka & tertutup sehingga dapat jadi wadah interaksi bagi pengunjung dalam tujuh tema yg berbeda.
Tujuh tema itu adalah Gua, Kubus, Lereng, Teduh, Taman, Hall, & Sala.
Jika dilihat dari jalan utama, disebelah tangga bata ada pintu kaca di dalam ceruk yg dibentuk oleh dua dinding lengkung pada fasad. Pintu kaca berwarna kuning ini adalah pintu masuk ke salah satu area Rolly Polly yg dimaksud sebagai Gua.
Di samping pintu masuk Gua, ada tangga bata merah yg mengarah tepat ke pintu masuk gedung berwarna putih. Tapi itu bukan Roly Poly. Pengunjung harus minggir sedikit melalui lorong sempit untuk kemudian hingga ke halaman belakang yg luas sebagai areaoutdoorRoly Polly.
Bisa dibilang, halaman belakang atau Taman adalah tempat semua kesenangan berlangsung, inti dari proyek ini. Dari halaman belakang ini kita dapat melihat enam area dengan tema lainnya. Taman dengan kontur miring yg dimaksud dengan Lereng, adalah atap dari ruang Gua tadi.
Di hadapan Lereng ada deretan tempat duduk dalam naungan atap putih. Area ini yg dimaksud dengan Teduh. Di sampingnya ada ruang makan dalam bangunan berbentuk kotak. Area ini yg disebut Kubus.
Sala, atauliving room, berada dalam bangunan dengan fasad yg ditutupi cakram-cakram berwarna kuning. Penataan interiornya dibuat dengan sofa-sofa akbar & rak buku di sepanjang dinding, layaknyaliving roomdi rumah.
Tema ruang yg terakhir adalah Hall. Ruangnya berukuran paling luas, menempati lantai dasar gedung di sebelahnya. Hall dapat dipakai untuk acara-acara yg melibatkan banyak orang seperti resepsi, pesta, atau acara kantor.
Studiovase menampilkan tabiat perusahaan pada semua ruangan melalui pemakaian material & warna. Bata merah sebagai material utama punya arti filosofis yg mendalam. Material ini adalah salah satu bahan bangunan paling dasar yg sejak lama dipakai. Hal ini menggambarkan nilai-nilai konservatif perusahaan yg masih tetap dipegang teguh hingga kini.
Bata merah juga biasa dipakai cuma dalam jumlah banyak dengan cara menyatukan batu demi batu. Hal ini menggambarkan bahwa perusahaan ini dapat akbar & tumbuh melalui proses & melibatkan hal-hal terkecil sekalipun.
Studiovase juga mengpakai beberapa cara berbeda dalam menyusun keping-keping bata merah ini. Hal tersebut menggambarkan bagaimana perusahaan sudah mengerjakan berbagai kinerja untuk tidak terjebak dalam konservatisme, namun sanggup terus beradaptasi dalam koridor itu.
Masyarakat Korea Selatan sudah mengenal Ottogi dengan warna khas mereka, yaitu warna kuning. Namun Studiovase tidak mau secara berlebihan menampilkan warna tersebut. Maka kita dapat melihat warna kuning tampil dalam berbagai bentuk sebagai elemen ruang seperti kursi, sofa, aksen pada dinding & lantai, meja taman, hingga fasad.
SUMBER
Hari ini 20:27