Lampu Abang
IndoForum Beginner E
- No. Urut
- 284246
- Sejak
- 8 Jan 2015
- Pesan
- 427
- Nilai reaksi
- 10
- Poin
- 18
Nilai tukar Ringgit Malaysia terhadap dolar Amerika (USD) anjlok setelah tiga hari sebelumnya menguat. Selain itu, harga minyak mentah Brent juga jatuh ke posisi terendah dalam 6 tahun terakhir. Kondisi ini akan membuat Malaysia kehilangan pendapatan USD 7 miliar pada 2016 mendatang.
Nilai tukar Ringgit anjlok 0,9 persen jadi RM 4,2517 per USD pukul 10.04 waktu Kuala Lumpur, setelah naik 0,4 persen dalam tiga hari sebelumnya, menurut data bunk lokal seperti dikutip Bloomberg, Selasa (8/12). Harga minyak mentah Brent merosot 5,3 persen tadi malam, dan ini merupakan penurunan terbesar sejak awal Oktober.
Kondisi ini akan terpengaruh ke perekonomian Malaysia sebagai eksportir minyak dan Ringgit saat ini menjadi mata uang terburuk di kawasan.
Komentar Najib Razak yang dikutip dari New Straits Times mengatakan, pemerintahnya akan memangkas defisit anggaran dan berusaha menutupi kekurangan pendapatan negara.
"Merosotnya harga minyak sebagai reaksi terhadap keputusan OPEC akhir pekan lalu yang tidak mau memangkas produksi membuat aksi jual Ringgit. Harga minyak yang bertahan rendah akan berdampak pada posisi fiskal Malaysia," ucap Ahli Strategi Valas dari Australia & New Zealand Banking Group Ltd, Khoon Goh.
Harga minyak Brent naik tipis 0,5 persen menjadi USD 40,94 per barel di kawasan Asia pada pagi ini. Namun, angka ini masih di bawah asumsi Najib Razak sebesar USD 48 per barel. Goh mengatakan, penurunan harga minyak akan membuat defisit fiskal dan diperlukan perubahan kebijakan seperti pemotongan belanja.
Akhir pekan lalu, kartel negara pengekspor minyak atau OPEC menolak untuk memangkas produksi di tengah rendahnya harga minyak dunia. OPEC yang dipimpin Arab Saudi memutuskan akan terus memompa minyak meski pasar kelebihan pasokan.
Nilai tukar Ringgit anjlok 0,9 persen jadi RM 4,2517 per USD pukul 10.04 waktu Kuala Lumpur, setelah naik 0,4 persen dalam tiga hari sebelumnya, menurut data bunk lokal seperti dikutip Bloomberg, Selasa (8/12). Harga minyak mentah Brent merosot 5,3 persen tadi malam, dan ini merupakan penurunan terbesar sejak awal Oktober.
Kondisi ini akan terpengaruh ke perekonomian Malaysia sebagai eksportir minyak dan Ringgit saat ini menjadi mata uang terburuk di kawasan.
Komentar Najib Razak yang dikutip dari New Straits Times mengatakan, pemerintahnya akan memangkas defisit anggaran dan berusaha menutupi kekurangan pendapatan negara.
"Merosotnya harga minyak sebagai reaksi terhadap keputusan OPEC akhir pekan lalu yang tidak mau memangkas produksi membuat aksi jual Ringgit. Harga minyak yang bertahan rendah akan berdampak pada posisi fiskal Malaysia," ucap Ahli Strategi Valas dari Australia & New Zealand Banking Group Ltd, Khoon Goh.
Harga minyak Brent naik tipis 0,5 persen menjadi USD 40,94 per barel di kawasan Asia pada pagi ini. Namun, angka ini masih di bawah asumsi Najib Razak sebesar USD 48 per barel. Goh mengatakan, penurunan harga minyak akan membuat defisit fiskal dan diperlukan perubahan kebijakan seperti pemotongan belanja.
Akhir pekan lalu, kartel negara pengekspor minyak atau OPEC menolak untuk memangkas produksi di tengah rendahnya harga minyak dunia. OPEC yang dipimpin Arab Saudi memutuskan akan terus memompa minyak meski pasar kelebihan pasokan.
