yan raditya
IndoForum Addict E
- No. Urut
- 163658
- Sejak
- 31 Jan 2012
- Pesan
- 24.461
- Nilai reaksi
- 72
- Poin
- 48
Dunia sepak bola nasional kembali kehilangan salah satu putra terbaiknya. Kemarin,mantan pemain dan legenda tim nasional (Timnas) Indonesia serta PSIS,Ribut Waidi meninggal di RSUD Tugurejo, Semarang, kemarin pagi.
Ribut Waidi meninggal di usia 50 tahun.Dia meninggalkan istri dan tiga anak.Kepergian almarhum membawa duka yang mendalam bagi keluarganya yang tinggal di Perum Wahyu Asri Utomo Jalan Wahyu Asri Dalam 4 B No 70 Ngaliyan,Semarang. Sebab,sebelumnya tidak ada tanda-tanda mantan pemain bola yang biasa menempapi posisi sayap ataupun penyerang itu menderita penyakit tertentu.
Dia hanya mengeluh tidak enak badan dan minta dikeroki saat bangun tidur kemarin pagi. “Namun kondisinya malah semakin memburuk,”kata Triyanto, keponakan Ribut Waidi. Kemarin siang,jenazahnya dimakamkan di Pemakaman Giri Loyo,Kecamatan Ngaliyan, Kota Semarang. Ratusan pelayat ikut memberikan penghormatan terakhir bagi pemain yang memiliki kontribusi besar terhadap keberhasilan PSIS merebut gelar juara Perserikatan 1987 dengan mengalahkan Persebaya 1-0 saat laga final di Stadion Senayan (kini Gelora Bung Karno) Jakarta,tersebut.
Di antara para pelayat, terlihat Mantan Ketua PSIS Ismangoen Notosapoetro dan pelatih Cornelis Soetadi. Selain itu sejumlah rekan pemain Ribut Waidi di PSIS seperti Ahmad Muhariah, Sudaryanto,dan Budi Wahyono ikut hadir mengantarkan Ribut Waidi ke peristirahatan terakhirnya.
“Kami kehilangan sosok pemain besar di negeri ini. Saat dia (Ribut Waidi) di lapangan, semua menjadi mudah.Bisa dikatakan, biarkan saja ketika dia sedang menguasai bola,pasti nanti dia tahu apa yang terbaik bagi timnya,”kata Cornelis yang sempat menjadi asisten pelatih di PSIS di masa Ribut Waidi dkk.
“Ribut termasuk orang yang mudah bergaul dan senang berbagi ilmu,”tutur mantan penjaga gawang yang juga rekan almarhum di PSIS, Bambang Haryanto yang datang memberi penghormatan terakhir di rumah duka. Di masa jayanya,Ribut Waidi tidak hanya menjadi andalan PSIS.Akan tetapi juga menjadi tulang punggung Timnas PSSI.
Dia ikut mengantarkan Indonesia merebut medali emas sepak bola pada SEA Games 1987. Bahkan di partai final,Ribut Waidi mencetak satu-satunya gol kemenangan Indonesia saat ‘mengganyang’ Malaysia. Namanya semakin berkibar di kancah sepak bola nasional.Tidak bisa dipungkirinya,dia menjadi bagian dari generasi emas Mahesa Jenar bersama FX Tjahjono,Saiful Amri, Budiawan Hendratno,dan Budi Wahyono.
Di sisi lain,Ribut Waidi juga merasakan getirnya panggung sepak bola.Dia gagal membawa PSIS lolos ke Babak 6 Besar di Senayan akibat aksi sepakbola gajah yang diperagakan Persebaya dan Persipura di akhir 1980- an.Tampil di kandang sendiri, Persebaya kalah 0-12 dari Persipura.Kekalahan tersebut sebagai salah satu strategi Persebaya untuk menyingkirkan PSIS.
Pada 1992,Ribut Waidi memutuskan pensiun sebagai pemain.Akan tetapi,hidupnya tidak bisa lepas dari dunia sepak bola.Dia bekerja di Pertamina sebagai pengawas di Depo Pengapon, Semarang,Ribut mendirikan sebuah sekolah sepak bola di Semarang.Bahkan, pekan lalu almarhum ikut bersama wartawan Kota Semarang saat menggelar pertandingan persahabatan dengan Pertamina.
Untuk mengenang pengabdiannya dan jasa besarnya terhadap dunia sepak bola Tanah Air,Pemkot Semarang bahkan mendirikan patung Ribut Waidi sedang menggiring bola di Jalan Karangrejo,jalur utama menuju Stadion Jatidiri, Semarang pada 2003 lalu. Akan tetapi,patung tersebut sekarang rusak parah setelah tertimpa baliho reklame yang roboh disapu angin ribut.
Ribut Waidi meninggal di usia 50 tahun.Dia meninggalkan istri dan tiga anak.Kepergian almarhum membawa duka yang mendalam bagi keluarganya yang tinggal di Perum Wahyu Asri Utomo Jalan Wahyu Asri Dalam 4 B No 70 Ngaliyan,Semarang. Sebab,sebelumnya tidak ada tanda-tanda mantan pemain bola yang biasa menempapi posisi sayap ataupun penyerang itu menderita penyakit tertentu.
Dia hanya mengeluh tidak enak badan dan minta dikeroki saat bangun tidur kemarin pagi. “Namun kondisinya malah semakin memburuk,”kata Triyanto, keponakan Ribut Waidi. Kemarin siang,jenazahnya dimakamkan di Pemakaman Giri Loyo,Kecamatan Ngaliyan, Kota Semarang. Ratusan pelayat ikut memberikan penghormatan terakhir bagi pemain yang memiliki kontribusi besar terhadap keberhasilan PSIS merebut gelar juara Perserikatan 1987 dengan mengalahkan Persebaya 1-0 saat laga final di Stadion Senayan (kini Gelora Bung Karno) Jakarta,tersebut.
Di antara para pelayat, terlihat Mantan Ketua PSIS Ismangoen Notosapoetro dan pelatih Cornelis Soetadi. Selain itu sejumlah rekan pemain Ribut Waidi di PSIS seperti Ahmad Muhariah, Sudaryanto,dan Budi Wahyono ikut hadir mengantarkan Ribut Waidi ke peristirahatan terakhirnya.
“Kami kehilangan sosok pemain besar di negeri ini. Saat dia (Ribut Waidi) di lapangan, semua menjadi mudah.Bisa dikatakan, biarkan saja ketika dia sedang menguasai bola,pasti nanti dia tahu apa yang terbaik bagi timnya,”kata Cornelis yang sempat menjadi asisten pelatih di PSIS di masa Ribut Waidi dkk.
“Ribut termasuk orang yang mudah bergaul dan senang berbagi ilmu,”tutur mantan penjaga gawang yang juga rekan almarhum di PSIS, Bambang Haryanto yang datang memberi penghormatan terakhir di rumah duka. Di masa jayanya,Ribut Waidi tidak hanya menjadi andalan PSIS.Akan tetapi juga menjadi tulang punggung Timnas PSSI.
Dia ikut mengantarkan Indonesia merebut medali emas sepak bola pada SEA Games 1987. Bahkan di partai final,Ribut Waidi mencetak satu-satunya gol kemenangan Indonesia saat ‘mengganyang’ Malaysia. Namanya semakin berkibar di kancah sepak bola nasional.Tidak bisa dipungkirinya,dia menjadi bagian dari generasi emas Mahesa Jenar bersama FX Tjahjono,Saiful Amri, Budiawan Hendratno,dan Budi Wahyono.
Di sisi lain,Ribut Waidi juga merasakan getirnya panggung sepak bola.Dia gagal membawa PSIS lolos ke Babak 6 Besar di Senayan akibat aksi sepakbola gajah yang diperagakan Persebaya dan Persipura di akhir 1980- an.Tampil di kandang sendiri, Persebaya kalah 0-12 dari Persipura.Kekalahan tersebut sebagai salah satu strategi Persebaya untuk menyingkirkan PSIS.
Pada 1992,Ribut Waidi memutuskan pensiun sebagai pemain.Akan tetapi,hidupnya tidak bisa lepas dari dunia sepak bola.Dia bekerja di Pertamina sebagai pengawas di Depo Pengapon, Semarang,Ribut mendirikan sebuah sekolah sepak bola di Semarang.Bahkan, pekan lalu almarhum ikut bersama wartawan Kota Semarang saat menggelar pertandingan persahabatan dengan Pertamina.
Untuk mengenang pengabdiannya dan jasa besarnya terhadap dunia sepak bola Tanah Air,Pemkot Semarang bahkan mendirikan patung Ribut Waidi sedang menggiring bola di Jalan Karangrejo,jalur utama menuju Stadion Jatidiri, Semarang pada 2003 lalu. Akan tetapi,patung tersebut sekarang rusak parah setelah tertimpa baliho reklame yang roboh disapu angin ribut.