666
IndoForum Junior B
- No. Urut
- 19114
- Sejak
- 19 Jul 2007
- Pesan
- 2.522
- Nilai reaksi
- 67
- Poin
- 48
Pelarangan Terbang
RI Akan Balas Tindakan UE
Jakarta, 7 Desember 2007 00:22
Indonesia mempertimbangkan, akan melakukan tindakan balasan ke Uni Eropa (UE) berupa pelarangan terbang bagi maskapai Eropa di Indonesia.
"Jika ternyata ICAO (Organisasi Penerbangan Sipil Internasional) mentolerir adanya tindakan pelarangan terbang UE tersebut, maka kami juga mempertimbangkan tindakan serupa," kata Menteri Perhubungan Jusman Syafii Djamal, di kantor Departemen Perhubungan, Jakarta, Kamis (6/12).
Menurut Jusman, penegasan tersebut akan disampaikan dalam sebuah surat kepada UE dalam waktu dekat ini. "Hal itu sudah disampaikan kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sebagai opsi terakhir," kata Jusman.
Jusman menambahkan, dirinya dipanggil secara khusus oleh Presiden Yudhoyono, Sabtu (1/12), sejak pukul 21.30-24.00 WIB untuk menjelaskan secara khusus tentang Pelarangan Terbang UE.
Jusman menjelaskan, berbagai opsi sedang disiapkan sebagai sebuah sikap terhadap berlanjutnya pelarangan terbang maskapai Indonesia ke UE sejak 6 Juli hingga awal tahun depan.
Jika ICAO mentolerir suatu negara melakukan pelarangan terbang terhadap negara lain, maka ke depan, menurut Jusman, ICAO juga membuka peluang "perang" pelarangan terbang. "Jadi, jangan salah jika maskapai Eropa seperti Lufthansa dan KLM, akan dilarang terbang di Indonesia," katanya.
Hal lain yang disampaikan Jusman kepada Presiden Yudhoyono adalah pertama, Indonesia secara resmi kecewa dan akan mengeluarkan pernyataan keras terhadap UE.
"Prioritasnya, kami ingin minimal tiga maskapai yang diajukan sebagai percepatan perbaikan, segera dicabut status pelarangannya atau minimal, Garuda saja," kata Jusman.
Secara terbuka, Jusman menyebut, standar safety Garuda tentu lebih baik dibanding sebuah maskapai Pakistan yang juga baru dicabut status pelarangan terbangnya oleh UE.
"Jika ini berlanjut, kami akan hentikan pembicaraan agreement secara horizontal terkait dengan kebijakan open-sky bersama UE sebab bagaimanapun juga, bilateral agreement selama ini dengan UE jadi `pincang`," katanya.
Selain itu, lanjut Jusman, dirinya juga ingin melakukan standar pembanding sistem keamanan dan keselamatan dari penerbangan asing yang beroperasi di Indonesia.
"Di CASR (Civil Aviation Safety Regulation) hal itu bisa. Yakni, kita bisa ramp check maskapai asing. Kita ingin tahu apa sih bedanya Garuda dengan mereka. Jika Garuda lebih baik, mengapa masih dilarang," kata Jusman.
Oleh karena itu, kata Jusman, Presiden Yudhoyono secara sengaja menunda kunjungan kenegaraan ke UE pada awal 2008. "Meski Garuda saat ke UE membawa misi kepresidenan, tetap dijinkan, Presiden Yudhoyono tetap ingin naik Garuda yang bebas dari pelarangan," katanya. [EL, Ant] http://gatra.com/artikel.php?id=110127
RI Akan Balas Tindakan UE
Jakarta, 7 Desember 2007 00:22
Indonesia mempertimbangkan, akan melakukan tindakan balasan ke Uni Eropa (UE) berupa pelarangan terbang bagi maskapai Eropa di Indonesia.
"Jika ternyata ICAO (Organisasi Penerbangan Sipil Internasional) mentolerir adanya tindakan pelarangan terbang UE tersebut, maka kami juga mempertimbangkan tindakan serupa," kata Menteri Perhubungan Jusman Syafii Djamal, di kantor Departemen Perhubungan, Jakarta, Kamis (6/12).
Menurut Jusman, penegasan tersebut akan disampaikan dalam sebuah surat kepada UE dalam waktu dekat ini. "Hal itu sudah disampaikan kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sebagai opsi terakhir," kata Jusman.
Jusman menambahkan, dirinya dipanggil secara khusus oleh Presiden Yudhoyono, Sabtu (1/12), sejak pukul 21.30-24.00 WIB untuk menjelaskan secara khusus tentang Pelarangan Terbang UE.
Jusman menjelaskan, berbagai opsi sedang disiapkan sebagai sebuah sikap terhadap berlanjutnya pelarangan terbang maskapai Indonesia ke UE sejak 6 Juli hingga awal tahun depan.
Jika ICAO mentolerir suatu negara melakukan pelarangan terbang terhadap negara lain, maka ke depan, menurut Jusman, ICAO juga membuka peluang "perang" pelarangan terbang. "Jadi, jangan salah jika maskapai Eropa seperti Lufthansa dan KLM, akan dilarang terbang di Indonesia," katanya.
Hal lain yang disampaikan Jusman kepada Presiden Yudhoyono adalah pertama, Indonesia secara resmi kecewa dan akan mengeluarkan pernyataan keras terhadap UE.
"Prioritasnya, kami ingin minimal tiga maskapai yang diajukan sebagai percepatan perbaikan, segera dicabut status pelarangannya atau minimal, Garuda saja," kata Jusman.
Secara terbuka, Jusman menyebut, standar safety Garuda tentu lebih baik dibanding sebuah maskapai Pakistan yang juga baru dicabut status pelarangan terbangnya oleh UE.
"Jika ini berlanjut, kami akan hentikan pembicaraan agreement secara horizontal terkait dengan kebijakan open-sky bersama UE sebab bagaimanapun juga, bilateral agreement selama ini dengan UE jadi `pincang`," katanya.
Selain itu, lanjut Jusman, dirinya juga ingin melakukan standar pembanding sistem keamanan dan keselamatan dari penerbangan asing yang beroperasi di Indonesia.
"Di CASR (Civil Aviation Safety Regulation) hal itu bisa. Yakni, kita bisa ramp check maskapai asing. Kita ingin tahu apa sih bedanya Garuda dengan mereka. Jika Garuda lebih baik, mengapa masih dilarang," kata Jusman.
Oleh karena itu, kata Jusman, Presiden Yudhoyono secara sengaja menunda kunjungan kenegaraan ke UE pada awal 2008. "Meski Garuda saat ke UE membawa misi kepresidenan, tetap dijinkan, Presiden Yudhoyono tetap ingin naik Garuda yang bebas dari pelarangan," katanya. [EL, Ant] http://gatra.com/artikel.php?id=110127