Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
(Dok. pribadi)
Identitas Buku
Judul: Janji
Penulis: Tere Liye
Diterbitkan: 20 Juli 2021
Halaman: 486 hlm; 20,5 cm
Penerbit: PT. Sabakgrip
ISBN: 978-623-97262-0-1
Banyak yg bilang kalau karya Tere Liye itu cuma tentang sayang-sayangan. Sepertinya orang yg beranggapan itu baru baca quote-quote Tere Liye di media sosial, deh. Karena, HEI! Novel Tere Liye itu lintas genre, tidak cuma romance. Perlu bukti? Saya dapat sebutkan beberapa contoh genrenya, mulai dari fiksi ilmiah, sejarah, biografi, aksi bahkan Tere Liye juga sedang menyiapkan genre
detektif, olahraga, & horror, lho!
Dan salah satu novel Tere Liye terbarusebenarnya novel yg paling saya tunggu, "Janji" ini juga mengangkat genre keagamaan. Novel ini adalah novel major alias tidak berseri. Sekali baca tamat, tidak bersambung. Dan vibes novel ini menurut saya Tentang Kamu, Rindu & Rembulan Tenggelam di Wajahmu banget.
Sinopsis:
Novel ini berpusat pada tokoh Bahar, seorang santri nakal yg bertransformasi jadi baik karena sebuah janji. Di novel ini saya merasa diajak
untuk menelusuri kedewasaan seseorang tidak cuma dari seberapa lama umurnya, tetapi, dari perjalanan hidup yg sudah dilaluinya.
"Baik, dengarkan lima pusaka ini, Nak Apa pun yg terjadi setelah hari ini, di mana pun kakimu akan pergi, pakailah pusaka ini." hlm. 486
Lebih menarik lagi, kisah Bahar ini tidak diceritakan langsung oleh dirinya, melainkan oleh trio nakal bernama Hasan, Baso, & Kahar. Mereka
bertiga masuk di sekolah agama yg sama dengan Bahar setelah 40 tahun tragedi Bahar membakar pesantren & memutuskan pergi dari sana.
Setelah tragedi tragis itu, Bahar pun jadi pengembara dalam kehidupannya sendiri. Pergi dari sekolah agama itu masih tidak cukup untuk
mendapatkan kebebasan baginya. Karena sejauh & ke mana pun kaki Bahar melangkah, di lubuk hatinya sering terikat janji yg menuntut untuk ditepati.
Dan perjalanan Bahar menepati janji dari Buya (pimpinan sekolah agama) itulah yg dijejaki oleh tiga sekawan, Hasan, Baso, & Kahar. Ketiganya
memiliki perangai tak jauh berbeda dengan Bahar, yaitu, harap dikeluarkan dari sekolah agama tersebut. Setelah tragedi teh garam yg dilakukan oleh tiga sekawan, mereka mendapatkan hukuman. Hukuman itu adalah mereka
diizinkan pergi dari sekolah agama, dengan syarat menemukan Bahar. Dalam misi pencariannya itulah yg justru menciptakan Hasan, Baso, & Kahar belajar banyak hal & mengubah jalan pikirannya selama ini.
Resensi:
Tema yg diangkat dari novel ini sebenarnya tidak cuma soal keagamaan. Namun, mengajarkan juga tentang manusia yg terdidik bukan cuma dia yg lulus sekolah, nilai bagus & berprestasi secara akademis. Pendidikan tidak cuma di sekolah, proses transfer ilmu dapat terjadi di mana,
kapan & oleh siapa saja. Sebagaimana Bahar yg banyak mengambil pelajaran walau sebagai narapidana, tukang servis elektronik, penambang bahkan juru masak.
Kisah ini seolah menyampaikan bahwa sosok Bahar yg bahkan sekolah saja tidak lulus, berperangai buruk, tetapi dapat berubah jadi sosok yg lekat menempel di hati orang-orang yg ditemui semasa hidupnya. Nama Bahar
bahkan sangat cocok untuk menginterpretasikan tentang dirinya dalam kisah ini, Bahar Safar. Bahar adalah laut. Maksudnya kelapangan hati Bahar itu seluas & sedalam lautan yg tidak dapat diukur dengan satuan manusia. Safar adalah perjalanan, sebagaimana kisah hidupnya di novel ini yg tak sering lurus, ada kelok, naik, & turun.
Penokohan
Bahar memang bukan orang baik, tetapi dia terikat dengan janji yg mengubahnya jadi sosok yg lebih baik. Alur maju & mundur kisah epik
ini diceritakan dari sudut pandang orang-orang yg pernah ditemui Bahar. Terutama orang-orang yg sering ditolong & dibantu oleh Bahar. Di antara mereka adalah Bos Acong, Pak Asep, Mas Puji, Mansyur, Muhib, Pak Budi, &
Pak Sueb.
"Nasib, saya kira saya dapat mabuk dengan santai, sambil tertawa mendengar lelucon, atau membicarakan apa pun yg seru, ternyata
hanya mendapatkan ceramah."hlm. 74
Bahar bukan orang baik, tetapi Bahar sering menepati janjinya untuk menghormati & menolong tetangga. Walau kebiasaan mabuknya belum minggat, sehari-hari kerjanya serabutan, Bahar tetap beremapati menolong tetangga yg rumahnya bocor, menolong anak tetangganya untuk berobat.
Bahkan demi menolong tetangga, Bahar rela berkorban memakan makanan anjing. Menurut saya bagian ini sangat heroik melebihi aksi penyelamatan oleh superhero yg ada di film-film Marvel. Memang adegan itu mungkin cuma ada di cerita fiksi & sangat tidak realistis, siapa juga manusia nyata yg mau makan makanan anjing? Apalagi cuma demi tetangga. Namun, substansinya adalah tetap berbuat baik pada
tetangga, jangan malah menutup mata saat tetangga dilanda wabah/bencana. Lahan tetangga, dijadikan lahan parkir sendiri. Harum masakan tercium ke tetangga, dinikmati sendiri.
Babak kehidupan Bahar yg tak luput dari sorotan saya adalah saat Bahar di penjara. Bahar sering berusaha berbuat baik, melindungi yg lemah &
teraniaya. Lima tahun di penjara tanpa remisi & fasilitas mewah, Bahar menghabiskan waktu mengikuti pelatihan untuk mengasah kemampuannya. Fakta itulah yg menciptakan Hasan membesuk ayahnya di penjara dengan nasihat haru nan bijak.
Tidak perlu minta maaf. Aku sudah memaafkan semuanya. Toh saya tahu itu maaf palsu. Air mata buaya. Lihat, Ayah tetap sibuk menyuap sipir
untuk semua fasilitas. Ayah tetap koruptor, penyuap, tidak pernah tobat walau sedetik. Berhentilah membohongiku dengan tangisan itu, saya sudah besar. Jika ayah benar-benar mau tobat, jadilah seperti Bahar. Setiap detik, sungguh setiap detik dia menjalankan hukumannya dengan
sungguh-sungguh. Bukan malah menikmati penjara ini seperti hotel & besok-besok saat keluar, kembali jadi koruptorhlm. 259
Plot
Dari segi alur cerita di novel ini mengpakai alur maju-mundur bergantian, tentu saja dengan kemasan yg rapi tanpa menciptakan pembaca
bingung. Walau tidak ada prolog, kisah Bahar yg saya baca dari bab awal hingga epilog seperti menyelesaikan sebuah puzzle. Tere Liye sering sukses menyusun simpul mana yg harus lebih dulu diketahui pembaca & mana yangbterakhir.
Kalau soal pengemasan alur cerita, Tere Liye memang tak dapat diragukan lagi, melihat sudah ada lebih dari 40 judul bukunya menghiasi rak toko
buku. Hal ini juga membuktikan kaidah 10.000 jam dalam buku Outliers karya Malcolm Gladwell, bahwa untuk pakar itu tak dapat instan, butuh latihan secara berkelanjutan. And i remember it all too well, Tere Liye mengatakan bahwa penulis itu harus produktif.
Gaya bahasa/majas
Memang novel ini bukan bacaan ringan yg akan saya rekomendasikan. Menurut saya diksi & gaya bahasa yg diuntai dalam tiap babnya begitu kaya, tidak klise sama sekali. Misalnya, kebanyakan orang mengpakai peribahasa
musuh dalam selimut, sedangkan di novel ini memilih mengpakai peribahasa menngunting dalam lipatan. Penggunaan diksi yg salah duanya saya suka adalah penggunaan kernet daripada kenek dankata kakus dibanding WC.
Sudut pandang
Dari segi sudut pandang, sebenarnya Tere Liye sudah pernah mengpakai formula seperti ini di novel Tentang Kamu (kisah Sri Ningsih diceritakan oleh Zaman Zulkarnaen). Jadi, kisah seorang tokoh tidak diceritakan langsung oleh tokoh utama, melainkan oleh orang lain. Dalam konteks ini, kisah
Bahar diceritakan oleh Hasan, Baso, & Kahar. Namun, saya tidak kecewa akan hal itu, karena Tere sering dapat mengemas hal baru dalam tiap ceritanya.
Keunikan
Saya sering suka membaca kisah sayang yg disuguhkan oleh Tere Liye. Dari sekian novel romantis karyanya, kebanyakan tokoh laki-laki sering tak berdaya saat dihadapkan soal sayang. Sebut saja tokoh Danar di novel Daun yg
Jatuh Tak Pernah Membenci Angin, Borno di novel Kau, Aku & Sepucuk Angpau Merah, & Bujang di novel Pulang. Begitu pun yg terjadi dalam novel ini, nyali seorang Bahar, mantan narapidana, mantan pemabuk, mantan pejudi, sangat amat teramat takut ungkapkan perasaan pada Delima (Pujaan hati pada pandangan pertamanya Bahar)!
Namun, di situ letak uniknya, yg biasanya cerita
menghadirkan persayangan narsis, jangan harapkan itu di novel ini. Pokoknya kisah sayang karya Tere Liye itu tak menjual kemesraan, tetapi praktis bikin kecanduan.
Astaga, Bahar! Aku kira kau ini orang paling pintar di sepanjang pertigaan ini. Genius. Bisa memperbaiki apa saja. Tapi ternyata kau
bodoh sekali. Gadis itu mengharapkan kau. Dan kau juga mensayanginya.hlm. 336
Latar
Sumpah, saya sering kagum sama teknik show dont tell. Dan teknik itu sangat tergambar jelas di novel ini. Tere Liye sama sekali tidak menyebutkan
nama kota atau daerah sebagai latar cerita, melainkan menjelaskannya.
Bahar lompat turun. Tersenyum tipis, dia suka kota ini, bangunan-bangunan dengan atap melengkung khas daerah setempat, jalan yg
lebar & rapi.hlm. 275
Kekurangan
Entah dilakukan dengan sengaja atau ada maksudnya tersendiri, menurut saya tidak adanya daftar isi adalah termasuk kekurangan dari buku. Terlepas apa pun alasannya, daftar isi dapat memudahkan pembaca melihat garis akbar isi cerita.
Selain itu, ada beberapa bahasa atau istilah asing yg dipakai, tetapi tak diterjemahkan pada footnote. Misalnya, mengatakan co dn di halaman 141. Dan kekurangan lainnya adalah kesalahan ketik pada;
Astaga, Bahrun, nenek-nenek jompo bahkan lebih kencang tendangannya!hlm. 183 (Seharusnya adalah Mansyur).
Persis jadwal juri kunci menutup pintu, mereka tidak kembali ke sel, bersembunyi di kamar mandi. hlm. 232 (Seharusnya juru kunci).
Kelebihan
Terlampau banyak kelebihan dari novel ini, tetapi yg paling spesial adalah banyak profesi & pengetahuan baru di dalamnya. Seperti tentang dunia penjara, reparasi, & pertambangan. Bahkan istilah baru yg juga membuka
wawasan, seperti permainan mahyong, rumah bedeng, pohon Tabebuya, tailing,
corvee, & voorman.
Amanat
Hidup ini cuma lelucon, kalau tidak dimainkan dengan baik & benar. Sebanyak & semahal apa pun mobil Nissan yg dimiliki, nisan sering jadi akhir, bukan? Kiranya pelajaran ini yg saya petik dari novel Janji, bagaimana pun kehidupan mengalir, jadi orang baik adalah warisan terindah untuk ditinggalkan. Hari ini 20:23