Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
ReviewFree to Play Apa respon orang-orang terdekatmu kalau anda harap jadi seorang gamer profesional? Mungkin orang tua atau kakak & adikmu akan menolaknya karena menganggap mimpimu tidak rasional.
Misalkan begitu, apa yg akan anda lakukan, berusaha untuk meraih mimpimu atau berhenti? Jika anda harap mencari jawabannya, film tentang esports yang berjudul Free to Play ini adalah film yg cocok anda tonton di tengah-tengah kegelisahanmu.
Free to Play: Kisah Perjuangan untuk Meraih Mimpi
Free to Playmerupakan film dokumenter tentang tiga pro player DOTA 2 yg berusaha meraih mimpinya jadi gamer profesional. Film ini menunjukkan perjuangan mereka tentang berusaha & dedikasi tinggi kepada apa yg mereka cita-citakan.
Banyak yg menganggap bahwa bermain gim itu membuang-buang uang. Tetapi dalam film berdurasi 75 menit ini menunjukkan kerja keras tentang opsi pemain yg mengerjakan hobinya sekaligus produktif menghasilkan uang.
Free to Play dibuka dengan menampilkan lanskap Jembatan Hohenzollern yg melintang di atas sungai Rhein beserta kota Kln (Cologne), Jerman. Film ini menangkap momen penting di balik The International turnamen perdana pada 2011 yg diadakan di Cologne, Jerman.
The International merupakan acara lomba esports terpandang dengan jumlah hadiah yg fantastis sebesar 1,6 juta dolar. Mereka menarik regu terbaik DOTA 2 untuk mengikuti turnamen & menguji kemampuan mereka.
Lalu, film berpindah pada pengenalan ketiga tokoh Danil Dendi Ishutin dari Ukraina, Clinton Fear Loomis dari Amerika Serikat, & Benediktus HyHy Lim dari Singapura. Mereka membicarakan mimpi mereka di dunia gim. Mereka harap menunjukkan kepada orang-orang bahwa opsi yg mereka pilih tepat.
Pengorbanan yg mereka buat untuk meraih mimpi tidak setengah-setengah. Mereka pun harus menghadapi masalah dari opsi yg mereka buat. Danil yg kukuh dengan pendiriannya bahwa gim bukan cuma hobi kecil, Clinton yg diusir dari rumah, & Benediktus tentang hubungannya dengan keluarga.
Kompetisi DOTA 2 tidak mudah & sederhana seperti yg dibayangkan. Lewat film dokumenter yg dirilis oleh Valve ini, setidaknya penonton akan diberikan sedikit citra tentang arena pertandingan para gamers profesional.
Review Free to Play: Menghadapi Rintangan
Gegap gempita arena The International series perdana tidak kalah dari turnamen olahraga konvensional lain. Para pro playeryang bertanding layaknya seperti pemain sepak bola yg dipuja bagaikan tokoh idola bagi para fans mereka. Dari situ ketiga pro player menunjukkan kepada orang-orang bahwa mereka mengubah hidup mereka melalui impian mereka.
Berapa banyak hal yg berani mereka korbankan untuk jadi pro player? Hyhy mengalami rintangan dari keluarganya. Ia tumbuh & akbar di keluarga yg cukup strict, & jadi pro player bukanlah pekerjaan yg mudah dimengerti oleh keluarganya.
Ia sendiri tidak pernah mendapatkan rasa bangga dari orang tuanya di setiap langkahnya di pro scene DOTA 2. Bagi mereka, dedikasinya tersebut cuma main-main belaka. Ia memilih untuk ikut lomba The International & meninggalkan dunia akademisnya, yg berpengaruh buruk pada kehidupan & prestasi akademiknya di sekolah.
Meski ia tidak mendapatkan dukungan dari orang tuanya, Hyhy mantap jadi profesional pemain & menorehkan banyak prestasi. Berbeda dengan kedua pro player lain yg memiliki cerita yg berbeda.
Fear juga hampir mengalami hal serupa. Ia hidup & bermain bersama regu Online Kingdom (OK) yg berbasisi di Eropa, tepatnya di negara Portugal. Ia harus berjuang dengan waktu antara Amerika & Eropa yg berbeda. Sampai-hingga jadwal tidurnya berantakan karena jadwal lomba di luar waktu Amerika Serikat.
Orang tua Fear tidak memberikan toleransi kepada dirinya. Alhasil, ia diusir dari rumah & diminta untuk menjalani hidup sendiri. Dengan usia Fear yg sudah tak lagi muda, ia harus mengemban tanggung jawab keuangannya sendiri yg menciptakan kariernya sebagai pro player lebih rumit.
Bagaimana kalau gagal? Ayah Benediktus Lim khawatir tentang masa depan anaknya.
Kegelisahan serupa juga dihadapi oleh orang tua Fear. Menakutkan sekali saat melihat anak Anda menghabiskan hidupnya untuk bermain game, ucap ibu Clinton Loomis dalam film Free to Play. Lalu, apa gunanya menghabiskan waktu sepanjang hari untuk bermain gim & tidak belajar?
Pengalaman pedih lainnya juga terjadi pada Dendi, pro player DOTA 2 terbaik di dunia. Beruntungnya keluarganya lebih terbuka tentang pilihannya sebagai pro player untuk karir profesionalnya.
Game bagi Dendi merupakan hal yg sangat personal. Ia kehilangan ayah di usianya yg belia, untuk mengatasi kesedihannya, video gim adalah sarana pelarian terbaik untuknya.
Dari gim ia mendapatkan semangat hidup. Setidaknya ia jadi tidak kembali mengingat ayah & kondisi keluarganya yg berantakan.
Pro scene The International merupakan opsi terbaik untuknya untuk mencapai kehidupan yg baik. Tidak cuma bagi Dendi, bagi Hyhy & Fear, The International merupakan jalan pembuktian kepada orang-orang yg tidak mendukungnya.
Yuk lihat review selengkapnya di Esportsnesia
Ikuti Info seputar Esports di Fanpage FBFanpage FB Esportsnesia
Hari ini 15:02