Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
Quote:
Quote:
Andaikan kaum Muslimin adalah sebuah barisan besar, dulu saya merasa berada di bagian paling belakang & pojok, tetapi semakin lama rasanya saya seperti tidak lagi merupakan bagian dari barisan itu. Aku tidak keluar dari barisan itu, cuma mungkin tak sengaja mengambil jarak, sebab semakin lama semakin berkurang pemahamanku kepada meraka. Pengambilan jarak amat diperlukan sebagai cara untuk lebih objektif & adil memahami punggawa itu, sebab saya mensayangi & bangga pada meraka.
Akan tetapi, hasilnya adalah saya semakin merasa asing kepada diriku sendiri, apalagi kalau saya melihat diriku dari maqam barisan itu. Arah perjalananku (Sabil) sama dengan derap barisan itu, yakni menempuh As-Shirath Al-Mustaqim men-tauhid ke Allah Swt. Jalan (Syari) yg kami tempuh juga sama, karena Allah-lah yg melapangkan jalan itu. Tetapi, caraku menempuh (Thariq) jalan, pola Haluan, & presisi konsentrasiku berbeda dengan mereka. Itu ternyata juga menciptakan ujung jarum tauhid kami pun berbeda.
Misalnya, Allah memerintahkan kepada Kanjeng Nabi Muhammad Saw untuk menyampaikan tawaran-Nya kepada umat manusia: Kalau memang kalian mensayangi Allah, maka ikutilah jejakku. Niscaya Allah pun mensayangi kalian, mengampuni dosa-dosa kalian. Sebab ia sungguh Maha Pengampun & Maha Penyayang.
Quote:
Aku tidak sanggup menghindari kesimpulan, bahwa itu adalah informasi & penjelasan sangat ekplisit bahwa manusia ini hidup tak lain untuk menempuh proses persayangan dengan Allah Swt. Jadi, hidup ini urusannya adalah sayang, kesetiaan, komitmen, kerinduan, & pencapaian kebahagiaan tertinggi & sejati. Kalau klausul ini disebut transaksi, maka yg ditransaksikan adalah kadar sayang. Kalau sebutannya adalah perhitungan, maka yg utama dihitung adalah kesungguhan & kedalaman sayang.
Siapakah pelaku utama sayang kepada Allah & pejuang rahmatan lilalamin? Muhammad Saw Allah menyuruhnya menyampaikan fattabiuni. Maka, pelajaran paling mendasar & pasal utamanya adalah mempelajari, belajar & mengikuti Al-Sirah Al-Nabawiyah" dari berbagai literatur Sirah yg tersedia. Meng-Islam adalah lelaku fattabiuni: mengenali & meneladani Muhammad bayi, Muhammad balita, Muhammad remaja, Muhammad dewasa, hingga Muhammad alyauma akmaltu lakum dinakum wa atmamtu alaikum nimati wa radlitu lakumul islama dina.
1.Ikuti, mengikuti.
2.Pada hari ini sudah kusempurnakan untuk anda agamamu, & sudah kucukupkan kepadamu nikmatku, & sudah kuridhai islam itu jadi agama bagimu.
Quote:
Maka, kesempurnaan & keutuhan islam seseorang mungkin harus dicapai lebih dari membaca & melaksanakan Al-Quran, melainkan juga membaca Muhammad. Sampai pun pangkal & ujung Nur Muhammad. Muhammad sebagai manusia, dengan segala rincian perilaku kemanusiaannya. Muhammad manusia, yg sedapat mungkin kita temukan presisi penguraiannya dengan Muhammad Nabi & Muhammad Rasul. Bukan sekadar Muhammad dalam peta sejarah, Muhammad dalam peristiwa-peristiwa dakwah, politik, kebudayaan & akhlak. Tetapi yg lebih bernuansa & berkarakter dari itu, yakni kepribadian Muhammad. Kisah-kisah tentang energi hidupnya, keluasan jiwanya, kelembutan hatinya, ketekunan perjuangannya.
Tentu benar bahwa muatan primer Islam adalah Al-Quran & Sunnah Rasul Muhammad Saw. Tetapi dalam pasal perjanjian yg ditawarkan oleh Allah itu substansi utamanya adalah mengikuti Muhammad. Mungkin Quran & Sunnah adalah bagian dari Muhammad, & bukannya Muhammad bagian dari Quran & Sunnah. Makhluk manusia ditetapkan oleh Allah sebagai ahsanu taqwim , & yg paling ahsan dari segala ahsan adalah Muhammad.
Di dalam pernyataan Allah itu Muhammad adalah subjek utama pekerjaan sayang. Muhammad bukan sekedar seseorang yg kebetulan dipilih untuk menyampaikan firman Al-Quran dengan lelaku Sunnah. Dengan Bahasa yg mungkin lemah: Muhammad lebih utama dibanding Al-Quran. Cintaku kepada Muhammad Saw bahkan membawaku seakan-akan melihat bahwa kalau Al-Quran ini diaduk jadi satu adonan dengan alam semesta, dengan semua Malaikat & para Nabi & Rasul, jadinya adalah Muhammad Saw.
1.Manusia diciptakan dengan sebaik-baiknya bentuk.
Quote:
Sedemikian sibuk & gugup saya dalam sayang kepada Muhammad Saw karena Allah Swt, sehingga saya terseret makin jauh dari barisan kaum muslimin. Tatkala Allah menyatakan Ashhabul jannati humul faizun, para penghuni surga itulah orang-orang yg beruntung, yg hingga ke rasa jiwa & pemahaman akalku juga berbeda. Anggapan biasa kepada firman itu adalah bahwa dalam barisan kaum muslimin: laba terbesar & tertinggi bagi kehidupan manusia adalah surga.
Bagiku surga adalah kampung sangat indah permai yg disediakan oleh Allah Swt untuk dihuni oleh manusia-manusia yg beruntung. Surga bukan keuntungan itu sendiri, sekurang-kurangnya bukan keuntungan utama atau primer sebagai hasil dari pengabdian manusia. Surga adalah tempatnya, bukan harta benda termahal. Keuntungan tertingginya adalah perkenan sayang Allah Swt itu sendiri, dengan seluruh perwujudan kemesraan-Nya.
Dan itu menurut Allah Swt dapat dicapai dengan fattabiuni. Mengikuti jejak Muhammad, dengan segala keutuhan maupun rincian perilaku kemanusiaan maupun kenabian & kerasulannya. Totalitas Muhammad tidak dapat direduksi cuma jadi Al-Quran, tidak dapat dipersempit cuma jadi Sunnah beliau, apalagi dibatasi pada hal-hal yg berkaitan dengan Syariat & Fiqih. Itulah spektrum Shalawat. Itulah dialektika siapa pun saja yg ikhlas mensayangi Beliau berdua.
Quote:
Aku tergolong fasih mengucapkan Al-Fatihah, Ibuku memperdengarkan & melatihku untuk itu sejak saya di dalam kandungannya. Fasih bibirku. Tetapi hingga sekarang ini tak kunjung fasih hatiku, pikiran & apalagi kelakuanku. Oleh karena itu, pernyataan pribadiku kepada Allah Swt yg paling relevan adalah La ilaha illa Anta, subhanaKa inni kuntu mindhdholimin . Juga Robbana dholamna anfusana wa in-lam taghfir lana wa tarhamna lanakunanna minal khosirin" .
Aku cucu Adam yg bodoh, misin, & malang. Aku lembek kepada godaan Iblis. Aku bagaikan mualaf abadi, sehingga berteman juga dengan cuma sesama mualaf, di bagian bagian bawah & pinggiran kaum Muslimin. Aku tidak mungkin ada ada di arena elite para ulama, ustaz, & kiai. Aku tidak terletak di peta ilmu mereka. Aku tidak dapat lolos memasuki area kehebatan & kecanggihan kecendekiawanan mereka. Tak sanggup kupenuhi syarat-rukun untuk jadi bagian dari beliau-beliau.
1.Bahwa tidak ada Tuhan selain Engkau, Maha Suci Engkau, sesungguhnya saya adalah termasuk orang-orang yg zalim.
2.Ya Allah, kami sudah mendholimi pada diri kami sendiri, kalau tidak engkau ampuni kami & merahmati kami tentulah kami jadi orang yg rugi.
Quote:
Aku cucu Adam yg didatangi oleh makhluk agung yg kusangka Malaikat, karena penampilan & kostumnya, namun ternyata Iblis. Iblis mengerjakan pencitraan yg sempurna, sehingga saya tertipu. Kakek Adam tertipu di surga, sedang saya cucunya tertipu di Bumi, di Negara, politik, kebudayaan, perekonomian, perdagangan, yg kemudian juga memengaruhi & mensifati perilaku keagamaan. Iblis-iblis merajalela di setiap strata & segmen kehidupan di Negeri & Bumiku. Pencitraan & pencitraan & pencitraan. Dari pemimpin nasional hingga kopi saset. Dari Demokrasi hingga Sertifikasi Halal. Dari angka Lembaga Beras hingga Rapor Sekolah. Dari Buku Nasional hingga Baliho tepi jalan.
Padahal saya mualaf tak sudah-sudah. Sejak kecil saya mengikuti Pengajian-pengajian untuk meningkatkan Iman & Taqwa, tanpa pernah meningkat itu iman & taqwa. Aku "Balita Islam tak berkesudahan. Sebagian sudah meningkat menuju dewasa, tetapi mandeg & tersandera di stratum Puber Islam. Islam tidak tumbuh subur, karena saya & para sejawat di masyarakat di mana saya berada, sangat sibuk dengan harta benda, kikis usia untuk menanggung kecemasan akan tidak dapat hidup. Maka kami masuk sekolah, supaya punya tiket untuk mudah mencari pekerjaan, sehingga begitu berkurang kekhawatiran akan tak dapat hidup.
Quote:
Kalau sudah memperoleh tiket dapat hidup dari Universitas, kami harus memastikan akan dapat menumpang di Lembaga Bisa Hidup, di Birokrasi Negara atau Perusahaan Swasta. Seluruh proses itu ditempuh dengan bekal ketidakpercayaan kepada tanggung jawab Allah atas makhluk-makhluk ciptaan-Nya. Dengan modal ketidakyakinan bahw Allah adalah Rahman & Rahim hingga ke ujung kuku, pucuk rambut hingga ke lepas cakrawala, bahwa Allah adalah Hakim Karim Aziz Hakim dari tepian langit hingga ke lubuk Bumi, dari galaksi-galaksi raksasa hingga pori-pori terkecil di mengalirnya darah & melingkarnya usus.
Aku harus memulai Kembali Islamku dari momentum perjanjian azali Alastu birabbikum , hingga janin di dinding Rahim Ibunda, hingga ke rumah-rumah tetangga, masyarakat luas, tanah air yg menghampar, bahkan Negara yg berwajah campuran Malaikat & Iblis. Tak dapat lagi kuteruskan mengucapkan Syahadatain tanpa berada & mengalir dalam dialektika dengan segala sesuatu yg tak ada sezarah pun yg tidak terkait dengan Allah Swt & Rasulullah Saw. Tak dapat kuucapkan Basmalah dengan Rahman & Rahim yg tak tercermin pemaknaan & kesadarannya pada setiap Langkah kaki & segala perilaku hidupku.
Tak mungkin lagi kuucapkan Maliki Yaumiddin dengan tanganku menggenggam erat Sertifikat Pemilikan Tanah, serta dua kaki berlari mengejar kekuasaan dunia. Hancur martabatku dengan hidupku yg sekarang tatkala mulutku melantunkan Iyya-Ka nabudu wa iyya-Ka nastain. Setan-setan & seluruh isi jagat raya yg tidak punya kelaziman untuk tertawa, mungkin akan tertawa ketika kumohon kepada Allah Ihdinash-shirathal mustaqim. Karena Allah sudah menjawab & memenuhinya beribu-ribu kali, namun petunjuk-Nya itu tak pernah benar-benar kujalani & kulewati.
1.Benarkah Aku Tuhan Engkau.
Quote:
Seluruh Al-Fatihah-ku menyumbang partikel gempa, longsor tanah, letusan gunung, & badai raksasa. Aku mencitrakan diri di hadapan Allah Swt dengan pura-pura memohon supaya ditempatkan di Shirathalladzina anamta alaihim, padahal saya tak pernah mau berhijrah dari Ghoiril maghdlubi alaihim wa ladl-dholin. Dan saya merasa aman-aman saja, karena sedemikian Shobur & Halim-nya Allah. Karena ada semacam proteksi sesaat di Amhilhum ruwaida.
Maka tulisan ini adalah mengingat kembali wilayah yg selama berabad-abad bukan tak dirambah & dikembarai, tetapi belum pernah disadari keutamaannya dalam proses bercocok tanam Islam dalam diri manusia. Adanya Al-Sirah Al-Nabawiyah dimaksudkan untuk mendorong pengetahuan & keyakinan betapa pentingnya membaca Sirah Rasulullah Saw, untuk men-janin-kan Kembali Islam dalam jiwaku, melahirkan kembali Islam & hidupku, memproses pengutuhan keislamanku, serta siapa saja yg Islamnya masih serendah aku.
Secara dinamis (mutaharik, ijtihadiyah) peng-utuh-an itu mungkin dapat juga ditempuh dari atau pada penggenapan dari keganjilan atau kondisi ganjil. Atau penyempurnaan (mutakamil) dari kondisi cacat. Sempurna bukan keadaan tanpa kelemahan & kekurangan, sebagaimana dimengerti oleh pengetahuan umum, serta sangat dimutlakkan kebenarannya. Sempurna adalah suatu maqam & wujud di mana makhlukalam atau manusia, berkondisi se-presisi mungkin kepada atau dengan yg Allah maksudkan tatkala menciptakan mereka. Kekurangan, kelemahan atau relativitas, dengan begitu adalah bagian dari kesempurnaan makhluk, yg berbeda di banding kesempurnaan Khaliq. Kesempurnaan Allah itu absolut, mutlak. Kesempurnaan makhluk itu nisbi, relatif.
1.Kelompok para pendusta (Q.S At-Tariq Ayat 17).
2.Perincian kisah hidup rasulullah, yakni asal-muasal, suku & nasab, & keadaan masyarakatnya.
Quote:
Sedangkan saya hidup di tengah para bukan Tuhan yg memutlak-mutlakkan pendapat & ucapan-ucapannya. Bagaimana mungkin tetumbuhan Islam di dalam hidupku tidak jadi kerdil & mogul? Seorang Muslim yg tidak mengalami urutan & pemetaan pengetahuan tentang Al-Sirah Al-Nabawiyah, ibarat seorang pengkuliner yg melahap makanan tanpa mengerti asal-usul makanan itu. Makan hasil masakan tanpa mengetahui bahan-bahannya, tanpa menghayati bagaimana makanan itu dimasak, siapa saja yg memproses masakan itu, bagaimana ilmu & politik dapur masakan itu, apalagi menganalisis kenapa bahan-bahan sekaya & sedahsyat itu menghasilkan makanan yg sama sekali tidak sepadan dengan bahan-bahan dasarnya.
Atau mengenyam & menikmati bebuahan tanpa mengingat kembang & daun-daunnya. Tanpa pengetahuan tentang ranting, dahan, pohon, & akarnya. Tanpa penghayatantentang asupan dari dalam tanah yg menciptakan pohon itu hidup & berbuah. Apalagi menemukan tanah adalah bumi, bumi adalah bagian dari langit alam semesta yg tak terjangkau keluasan & kekayaannya. Terlebih lagi merasakan atau mengembarai rentangan garis-garis antara setetes rasa manis dalam sebiji buah dengan pembagian kerja para malaikat. Muslim yg Muslim Ketika merasakan sapuan angin, menatap gunung, rumbai dedaunan, merasakan hangat dari cahaya matahari, serta mengalami penglihatan, pendengaran atau perabaan & perasaan apa pun saja, tidak dapat tidak ingat kepada Allah.
Quote:
Aku belumlah seorang Muslim yg Muslim seperti itu, yg keislamannya dibimbing oleh proses panjang perjalanan Iman-nya, di mana ia mengimani Allah dengan menemukan keimanan di setiap pengalamannya dengan setiap ciptaan & segala kehendak-Nya. Aku belum manusia dengan ke-Muslim-an di mana tidak mungkin tidur kalau tidak di pembaringan keridaan & ranjang kepasrahannya kepada Allah. Tidak mungkin bangun dari tidur tanpa pertama-tama mengingat Allah. Tidak pernah mengalami kebahagiaan & dukacita, kegembiraan & kesedihan, kemudahan & kesulitan, tanpa menemukan keterikatannya dengan qadla & qadar Allah Swt.
Mungkin saya tergolong di antara pada Muqallidin dari kalangan kaum Muslimin yg mengenal Islam sebagai barang jadi, sebagai produk baku yg diproduksi oleh Pabrik kaum ulama, ustaz, kiai atau masyayikh . Mereka disebut & menyebut diri mereka masuk Islam, bukan Islam masuk ke mereka. Mereka diperkenalkan kepada Islam dalam packaging mazhab-mazhab, aliran-aliran, & tipologi-tipologi.
Aku & mereka bukan Tabiit-tabiinar-Rasul , melainkan pengikut pengikut ulama, kiai, & ustaz. Dengan mohon maaf apabila memakai bahasa jujur & transparan, namun pasti terasa vulgar & kasar: Al-Muqallidin, termasuk saya itu, adalah konsumen dari para "Makelar" atau "Broker" Islam, yg bahkan mendirikan dinding tebal tinggi jangan hingga mereka merasa sah & sanggup untuk memperoleh akses langsung dari sumber primer Islam & Sirah Rasul.
1.Orang yg mengerjakan taqlid; mengikuti pendapat para mujtahid.
2.Tokoh muslim-Syekh.
3.Pengikut, orang Islam awal yg sepergaulan juga masa hidupnya setelah para Sahabat Nabi & tidak mengalami masa hidup Nabi Muhammad.
Quote:
Atau para Muqallidin itu semacam Narapidana di Penjara Mazhab, di mana setiap akses mereka dengan wilayah di luar penjara sepenuhnya ditentukan oleh otoritas "Majelis Sipir, bahkan "Ormas Sipir", "Gank Sipir" ataupun "Mafia Sipir" Para Narapidana di-brainwash, dicuci otaknya, dibuat meyakini tiga hal yg memosisikan mereka. Pertama, kaum narapidana tidak memiliki kredibilitas keilmuan untuk mengakses dunia sejati & alam luas di luar Penjara. Kedua, kaum narapidana tidak memiliki hak politik untuk mengakses langit & bumi di luar penjara.
Dan ketiga, mereka wajib taat kepada "Mafia Sipir, sebab kalau tidak, mereka akan kehilangan peluang untuk mendapatkan rida & memperoleh berkah dari Allah Swt. Para narapidana menjalani hidup dengan pendapat & keyakinan bahwa segala hal yg menyangkut kuasa & kasih sayang Allah, jalannya cuma melalui "Mafia Sipir".
Oleh karena pada "stratum" inilah maqamku & banyak kaum Muslimin hingga detik sekarang ini, maka coretan ini harus bersegera menyatakan bahwa jangan hingga tulisan ini ternyata berasal dari "Sipir yg lain.
Berlanjut di Post #2... Hari ini 03:23
Polling
0 Suara
(Masih) Tertarikkah Agan & Sista untuk membaca & memahami Sejarah Nabi & Rasul?
Sangat Tertarik.
Tertarik.
Enggak Tertarik.
Bodo Amat.
Pilih