• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

Renungan Harian Part 2... (Dhamma utk semua)

  • Pembuat thread awal. Pembuat thread awal. lauzart
  • Tanggal Mulai Tanggal Mulai

lauzart

IndoForum Newbie A
No. Urut
14768
Sejak
27 Apr 2007
Pesan
273
Nilai reaksi
5
Poin
18
Pikiran adalah Pelopor

Sekelompok wisatawan tertahan di suatu tempat asing di luar kota.
Mereka hanya menemukan bahan makanan yang kedaluwarsa.
Karena lapar, mereka terpaksa menyantapnya, meskipun sebelumnya dicobakan dulu kepada seekor anjing yang ternyata menikmatinya dan tak terlihat efek sampingnya.

Keesokan harinya, ketika mendengar anjing itu mati, semua orang menjadi cemas.
Banyak yang mulai muntah dan mengeluh badannya panas atau terserang diare.
Seorang dokter dipanggil untuk merawat para penderita keracunan makanan.
Sang dokter mulai mencari sebab-musababnya dari seekor anjing.
Ketika hendak dilacak, eh ternyata anjing itu mati karena terlindas mobil.

Apa yang menarik dari cerita di atas ?

Ternyata kita bereaksi menurut apa yang kita pikirkan, bukan berdasarkan kenyataan itu sendiri.
We see the world as what we want to, not as it is.

Akar segala sesuatu adalah cara kita melihat.
Cara kita melihat mempengaruhi apa yang kita lakukan, dan apa yang kita lakukan mempengaruhi apa yang kita dapatkan.
Ini disebut sebagai model See - Do - Get.
Perubahan yang mendasar baru akan terjadi ketika ada perubahan cara melihat.
 
Cermin Positif


Mengkritik itu mudah, karena melihat kesalahan orang lain itu gampang.
Namun kritik yang didasari oleh mencari-cari kesalahan orang lain tak
mungkin dapat mempermudah keadaan.
Kita tak perlu menghabiskan waktu dan tenaga kita untuk menilai apakah orang
lain telah berbuat salah atau benar.
Karena itu sangat mudah !

Yang sulit adalah melihat kesalahan diri kita sendiri.
Waspadailah bila kita begitu pandai mengkritik.
Jangan-jangan kita tak mampu lagi melihat kebenaran.
Dan sebuta-butanya orang ialah mereka yang tak bisa menangkap cahaya
kebenaran.

Sekali kita gembira bisa menemukan sebutir debu kesalahan orang lain, kita
tergoda untuk mendapatkan yang sebesar kerikil.
Begitu seterusnya, hingga tanpa sadar kita telah menciptakan gunung
kesalahan orang.
Orang tak pernah suka berkaca pada cermin yang memantulkan kekurangan
wajahnya.

Maka dari itu janganlah kita menjadi bayangan atas kesalahan orang lain.
Bantulah mereka menemukan sisi positif diri mereka.
Di saat itu pula orang lain akan memantulkan sisi baik kita sendiri.
 
Ubi, telur atau biji kopi ?

Sebuah kisah dan sekaligus sebuah renungan mengenai bagaimana seharusnya kita menghadapi masalah dalam kehidupan ini.

Sore hari seorang anak mengeluh pada sang ibu tentang kehidupannya yang sangat berat. Ia tak tahu lagi apa yang harus dilakukannya dan ia bermaksud untuk menyerah dan pasrah. Ia merasa lelah untuk terus berjuang dan berjuang ketika satu persoalan telah teratasi, namun persoalan yang lain muncul.

Dengan penuh pengertian ibunya yang kebetulan sedang menyiapkan makan malam membawa anaknya itu ke dapur. Sang ibu mengisi tiga panci dengan air kemudian menaruh ketiganya di atas api. Segera setelah air dalam panci-panci itu mendidih, pada panci pertama dimasukkannya beberapa ubi, ke dalam panci kedua dimasukkannya beberapa butir telur. Dan, pada
panci terakhir dimasukkannya biji-biji kopi. Lalu dibiarkannya ketiga panci itu beberapa saat tanpa berkata sepatah kata.

Sang anak tertegun dan menunggu dengan tidak sabar. Ia keheranan melihat apa yang dikerjakan ibunya.

Setelah sekitar dua puluh menit, ibunya mematikan kompor. Diambilnya ubi-ubi dan diletakkannya dalam mangkok. Diambilnya pula telur-telur dan ditaruhnya di dalam mangkok. Kemudian dituangkannya juga kopi ke dalam cangkir.

Segera setelah itu ia berbalik kepada anaknya, dan bertanya: "Anakku,
apa yang kaulihat?" "Ubi, telur, dan kopi," jawab anaknya. Sang ibu membawa anaknya mendekat dan memintanya meraba dan menekan ubi .Ia melakukannya dan mendapati ubi-ubi itu terasa lunak. Kemudian sang ibu meminta anaknya mengambil telur dan memecahkannya. Setelah mengupas kulitnya si anak mendapatkan telur matang yang keras. Yang terakhir sang ibu meminta anaknya menghirup kopi. Ia tersenyum saat mencium aroma kopi yang harum.

Dengan rendah hati ia bertanya "Apa artinya, Bu ?"
Sang ibu menjelaskan bahwa setiap benda telah merasakan
penderitaan yang sama, yakni air yang mendidih, tetapi
reaksi masing-masing berbeda. Ubi yang kuat, keras, dan tegar, ternyata
setelah dimasak dalam air mendidih menjadi lunak dan lemah. Telur yang
rapuh, hanya memiliki kulit luar tipis yang melindungi cairan di dalamnya. Namun setelah dimasak dalam air mendidih, cairan yang di dalam itu menjadi keras. Sedangkan biji-biji kopi sangat unik. Setelah dimasak dalam air mendidih, kopi itu mengubah air tawar menjadi enak.

"Yang mana engkau, anakku?" sang ibu bertanya. "Ketika penderitaan mengetuk pintu hidupmu, bagaimana reaksimu? Apakah engkau ubi, telur, atau kopi?"

Dan sang anak pun tersenyum mengerti.



"Bagaimana dengan Anda, sahabat?"

- Apakah Anda seperti sebuah ubi, yang kelihatan keras, tetapi saat berhadapan dengan kepedihan dan penderitaan menjadi lembek, lemah, dan kehilangan kekuatan?

- Apakah Anda seperti sebutir telur, yang mulanya berhati penurut? Apakah engkau tadinya berjiwa lembut, tetapi setelah terjadi kematian, perpecahan, perceraian, atau pemecatan, Anda menjadi keras dan
kepala batu? Kulit luar Anda memang tetap sama, tetapi apakah Anda
menjadi pahit,tegar hati, serta kepala batu?

- Atau apakah Anda seperti biji kopi? Kopi mengubah air panas, hal yang membawa kepedihan itu, bahkan pada saat puncaknya ketika mencapai 100 derajat Celcius. Ketika air menjadi panas, rasanya justru menjadi lebih enak.

Apabila Anda seperti biji kopi, maka ketika segala hal seolah-olah dalam keadaan yang terburuk sekalipun Anda dapat menjadi lebih baik dan juga membuat suasana disekitar Anda menjadi lebih baik.

Bagaimana cara Anda bersikap menghadapi penderitaan? Apakah seperti ubi, telur, atau biji kopi?
 
bagus sekali saudara Lauzart
 
Andaikanlah seorang musuh melukaimu
dengan caranya sendiri,
Mengapa engkau harus menganggu dirimu
sendiri...
dan melukai pikiranmu dengan caramu
sendiri...

dengan cucuran airmata kau tinggalkan
sanak keluargamu,
mereka yang selalu ramah dan siap
menolong.
Mengapa engkau tidak meninggalkan
musuh-musuhmu
Dan kemarahanmu yang membawa begitu
banyak kerugian

Kemarahan yang kaudekap akan
menggerogoti setiap akar
dari segala kebajikan yang kau
kembangkan
siapakah yang akan menjadi sedemikian
bodoh seperti itu?

Jikau engkau marah,
Mungkin ia akan menderita, mungkin
pula tidak.
Tetapi dengan merasakan kemarahanmu
sendiri,
Pastilah engkau merasakan penderitaan

Jika seorang menghasut dirimu
Untuk melukai dirimu sendiri dengan
membangkitkan kemarahan
Biarkanlah kemarahan itu mereda
Jangan merugikan dirimu sendiri dengan
hal yang tak perlu...


sumber: Buddha Vacana
 
Semalem, nonton news dot com di
Metrotv, mr guest nya sungguh membuat
haru. Mr Guest yang bernama Pak Waras
(lebih tepatnya kayaknya disebut
Mbah), dengan penampilan yg lugu dan
super polos didampingi istri dan
seorang anaknya.

Kenapa dia menjadi special guest star
di acara tsb ?
Karena dia 'makhluk langka' di jaman
sekarang ini.
Kalimat diatas bukan berkonotasi
merendahkan tapi justru untuk
menyanjung.
Pokoknya two thumbs up deh.

Cerita berawal dari pembagian ganti
rugi dari PT Lapindo untuk korban
lumpurnya.
Ganti rugi untuk keluarganya
ditetapkan Rp 285 juta. Pembayaran
pertama kan baru 20%. Uang yang
semestinya diterima hanya Rp 56 juta.
Namun apa yang terjadi? Rekeningnya
membengkak 429 juta , dia bingung.
Uang dari mana ??? Nah, dia lalu
melaporkan kepada pendampingnya, lalu
sama pendampingnya diantarkan ke
kantor Lapindo.

Dalam acara news dot com itu ditanya,
alasan apa yang mendasari Bapak Waras
mengembalikan uang ratusan juta itu?
Jawabnya dengan lugu dan dalam bahasa
Jawa (karena dia tidak bisa bahasa
Indonesia, si penanya juga pake dalam
bahasa Jawa) :
"Kulo wedi dosa pak, niku sanes hak
kulo."

Ogh..begitu mulianya jawabannya,
mestinya ini direkam dah diedarkan
kepada para koruptor di negara kita ya.
Pak Waras yang notabene bukan orang
sekolahan, bukan pejabat yang
mengemban amanah rakyat, tapi dia
lebih punya hati nurani daripada para
pejabat di negara kita, yang hobi
menggembungkan rekening pribadinya
dari uang yang bukan haknya.

Sebagai tanda terima kasih pihak
Lapindo memberi reward menginap di
hotel berbintang, tapi lagi-lagi
ditolak oleh Pak Waras.
Dengan alasan apa coba ?
Dengan lugunya dia menjawab : "Kulo
wedi kadhemen. Mangke yen ten mriko
kulo ndak kemutan wedhus2 kulo"

Ogh..nooo... .
sungguh ironis dengan anggota wakil
rakyat yang terhormat, plesir ke
mancanegara dengan alasan kunjungan
kerja, dengan berombongan, pikniknya
lebih banyak drpda kunjungan kerja,
nginep di hotel kelas atas di daerah
kunjungan wisata. Dan itu pake uang
rakyat kan?


Pak Waras, lemah teles, gusti Allah
sing bales. nggih
Mungkin didunia ini imbalan untuk Pak
Waras gak seberapa.
"Hanya" rumah gratis 40/90 dari PT
Lapindo atas kejujurannya itu.
Tapi rumah akhirat jauh lebih besar
dan mewah.
Amin.



--
sumber

BDA
Biskom
--
copy paste dari bulbo di fs
 
air menetes dari bunga teratai yg bermekaran
dan cinta kasih pun...
mengalir bagaikan embum pagi
yg menyejukan hati semua makhluk
bagaikan sinar mentari menerangi bumi ini
tidak perlu kata-kata yg indah...
tidak perlu suatu rangkaian
sudahlah cukup untuk mengatakan apa yg tidak dapat dikatakan
kasih sayang yg tak terhalang
bagaikan sinar bintang dimalam hari yg tidak tertutup oleh awan kelabu
tidak ada sifat yg bisa melawan kebencian ini
bukan dng amarah bukan juga dng kebencian dan dendam
yg dapat melenyapkan kebencian
tiang penyanggah dendam akan runtuh
kebencian akan tergoyahkan
dengan cinta kasih akan melenyapkan semuanya
bila cinta ini dipancarkan kpd semua makluk
siapa yg tidak mau menerimanya ?
bukan pada manusia saja
aku memberikan rasa ini
tapi kepda semua makhluk
karena dng cinta kasih ini...
mengalahkan seluruh ketakutan dan keraguan
melenyapkan luka penderitaan...
 
@post diatas
makna dhamma nya apa kak ?
sulit sekali menyerapnya >.<
 
Yang mudah, cukup sulit, tersulit
"Berbuat baik kepada orang yang kita cintai adalah hal yang mudah, berbuat baik kepada orang yang kita tidak kenal adalah hal yang cukup sulit, berbuat baik kepada orang yang kita benci adalah hal yang tersulit...
Berbuat baik dengan balas jasa adalah hal yang mudah, berbuat baik tanpa balas jasa adalah hal yang cukup sulit, berbuat baik tanpa ikatan adalah hal tersulit...
Di saat berbuat baik sulit dilakukan, kita harus berperang dan menaklukkan ego kita. Kadang ragu untuk melakukannya. Berbuat baik tanpa harapan dan ikatan akan membuat kita lebih bahagia..." ~ Syair Buddhis


Orang Bodoh
"Kebencian selalu lebih melukai Anda daripada orang yang Anda benci, sementara orang yang menyakiti hati Anda mungkin telah melupakan perbuatan mereka dan melanjutkan hidup. Hanya orang bodoh yang mau tinggal selamanya dalam kubangan lumpur, demikian pula hanya orang bodoh yang hidup dalam kebencian." ~ Syair Buddhis


Oase Kehidupan
Bukan dengan kebencian atau rasa dengki, bukan pula dengan iri hati, seseorang memandang kebahagiaan orang lain. Ia yang dapat menaklukkan dirinya sendiri, mengawasi batin serta pikirannya seperti tentara yang siaga penuh di medan pertempuran, dapat menciptakan kebahagiaan sejati yang didambakan semua orang, ibarat menemukan oase di tengah gurun pasir. ~ Syair Buddhis


Karat Besi
Seperti karat yang timbul dari besi, dan kemudian akan menghancurkan besi itu sendiri. Maka demikian pula halnya dengan perbuatan buruk yang kita lakukan, akan menghancurkan diri kita sendiri secara perlahan-lahan. ~ Syair Buddhis


Pikiran sebagai Pelopor, Pemimpin, dan Pembentuk
Terkadang kita mesti melakukan sesuatu yang kita tidak sukai demi menciptakan sesuatu yang kita suka. Tidak ada yang menarik dari sebongkah batu jika tidak ada yang mau mengolahnya menjadi emas. Jika kita ingin mengubah suatu perilaku, kita harus mengubah cara berpikir kita terlebih dahulu. ~ Syair Buddhis


Kebahagiaan
"Kebahagiaan merupakan hal yang aneh, semakin banyak Anda berbagi dengan orang lain, semakin banyak pula Anda mendapatkan kepuasan." ~ Ven. Sri Dhammananda Mahathera


Watak Brahmavihara
"Hindarilah memandang rendah terhadap orang lain dan bangkitkan pikiran yang penuh belas kasih kepada orang-orang yang lebih rendah.

Jangan terikat pada teman-temanmu, dan jangan membedakan musuh-musuhmu.

Tanpa menjadi dengki atau iri hati terhadap sifat-sifat baik orang lain, dengan rendah hati peganglah sifat-sifat baikmu sendiri. Jangan sibuk mencari-cari kesalahan orang lain, tetapi telitilah kesalahan-kesalahan dirimu sendiri. Bersihkan dirimu dari hal-hal seperti itu seperti membersihkan darah yang kotor.

Jangan berfikir terus menerus pada perbuatan-perbuatan baikmu sendiri; hargailah sedikit saja, sebagaimana seorang pelayan bekerja. Pancarkanlah belas kasih pada semua makhluk layaknya mereka adalah anakmu sendiri." ~ Syair Buddhis


Yang Tertinggi
"Kepandaian tertinggi adalah membuang keangkuhan. Kemuliaan tertinggi adalah menguasai pikiran sendiri. Kebajikan tertinggi adalah memiliki keinginan untuk menolong makhluk lain. Sila tertinggi adalah menjaga kewaspadaan terus-menerus.

Obat tertinggi adalah menyadari ketidaknyataan segala sesuatu. Kebebasan tertinggi adalah tak terpengaruh oleh hal-hal duniawi. Pencapaian tertinggi adalah mengurangi dan mengubah setiap keinginan. Pemberian tertinggi terdapat dalam tanpa kemelekatan.

Latihan batin tertinggi adalah pikiran yang tenang. Kesabaran tertinggi adalah kerendahan hati. Usaha tertinggi adalah melepaskan keterikatan pada setiap kegiatan. Meditasi tertinggi adalah pikiran tanpa keinginan. Kebijaksanaan tertinggi adalah tidak melekat pada apa pun yang tampak." ~ Syair Buddhis
 
Semoga Semua Mahluk Hidup Berbahagia...
Sabbe Satta Bhavantu Sukhitata...
Sadhu... Sadhu... Sadhu...
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.