Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
Heboh dengan 'Rendang Babi' hingga-hingga ketua IKM (Ikatan Keluarga Minang) hingga Fadli Zon turut buka suara, jadi kenapa sih masakan ini dihujat?
Logikanya sebuah menu masakan yg berbahan dasar daging, tentu dapat dirubah bahan dasarnya sesuai keharapan yg masak tetapi dengan metode masak & bumbu yg sama. Misal rendang domba, kambing, ayam, bebek, ikan atau daging-daging lainnya kalau suka. Bahkan terkadang juga dicampur paru, kentang, udang, telur, & lainnya.
Kenapa harus hingga heboh & dihujat akibat ada menu Rendang Babi di salah satu menu masakan yg dijual secara online.
Oke, jadi begini juragan karena Rendang itu masakan khas dari Minangkabau, dimana ada tag line yg dijaga hingga saat ini dimana AdatBasandi Syarak, Syarak BasandiKItabullah, merupakan filosofi hidup yg di pegang dalam masyarakat Minangkabau, yg menjadikan ajaran Islam sebagai satu satunya landasan & atau pedoman tata pola perilaku dalam berkehidupan.
Jadi dalam memasak juga terkait dalam hal ini, dimana tehnik marandang itu tidak sembarangan. Yaitu menihilkan air dalam prosesnya, bahkan di dalam pembuatannya juga membutuhkan waktu berjam-jam supaya terlihat sempurna.
Karena rendang khas Minangkabau cenderung teksturnya lebih kering & berwarna lebih pekat. Hal ini supaya dapat dikonsumsi dalam waktu yg lama, bila masih dalam kondisi basah bumbu rempah akan cepat basi.
Kalau Rendang khas membawa embel Sumatera Barat akan ada filosofinya maka itu kenapa Rendang Babi akan dihujat kalau membawa nama daerah tersebut, mau tahu filosofi dari rendang.
Ada empat bahan pokok untuk menciptakan rendang, yaitu daging sapi, melambangkanniniak mamak(para pemimpin suku adat),karambia(kelapa) melambangkancadiak pandaicerdik pandai & kaum intelektual),lado(cabai) melambangkanalim ulamayang tegas mengajarkan syariat agama, danpemasak(bumbu) melambangkan keseluruhan masyarakat.
Jadi ketika semua disatukan inilah sebuah keutuhan dari masyarakat Minangkabau yg bersumber dari musyawarah & mufakat.
Tak heran rendang jadi masakan wajib bila ada seremoni adat, kenduri, atau menyambut tamu kehormatan.
Jadi berdasarkan filosofi diatas, ketika ada orang yg harap mencoba menciptakan menu yg berbeda & memakai embel-embel Padang sudah pasti dihujat, untung ga di demo di Monas berjilid-jilid.
Kalau memakai hukum KUHP jelas tak ada yg salah, mau rendang dibikin sama orang Arab pakai daging onta juga tak masalah.
Namun masalahnya masyarakat kita saat ini sudah terpolarisasi karena adanya kadrun & cebong, ditambah penghormatan kepada tradisi budaya akbar yg jadi sendi kebhinekaan semakin kurang.
Lantas kalau ada daging yg dipakai sebagai bahan rendang adalah daging bangkai, karena tercekik, terbunuh, diterkam binatang buas tanpa sempat menyembelihnya, atau hewan yg bertaring itu juga tentu jadi masalah karena keharamannya sama akan halnya dengan daging babi. Tapi apakah masyarakat akan sadar & tahu ketika memakannya? Karena bangkai dapat saja daging sapi loh.
Quote:
Olahan rendang babi
Ini tentu akan banyak orang bingung untuk makan di restoran padang sekalipun, apa bener daging yg dimakan disembelih sempurna bukan mati gara-gara kena covid?
Inilah negeriku saat ini, hilangnya ilmu & penghormatan kepada tradisi budaya sendiri. Namun kalau rendang tanpa embel-embel padang ya sah-sah saja mau pakai daging tikus juga silahkan asal ada yg makan.
Walau dalam hukum negara tetap tak ada yg salah & harus disalahkan.
Apa tanggapanmu dengan hal ini?
Terima kasih yg sudah membaca thread ini hingga akhir, bila ada kritik silahkan dihinggakan & semoga thread ini bermanfaat, tetap sehat & merdeka. See u next thread.
"Nikmati Membaca Dengan Santuy"
Tulisan : c4punk@2022
referensi : 1, 2
Pic : google