goesdun
IndoForum Junior A
- No. Urut
- 32661
- Sejak
- 7 Feb 2008
- Pesan
- 3.024
- Nilai reaksi
- 66
- Poin
- 48
WAYANG kancil kembali mencatat rekor baru. Kalau sebelumnya rekor yang diciptakan dalang Enthus Susmono sebanyak 1.493 wayang kancil, maka siswa-siswa SMPN V Purwokerto, berhasil membukukan 1.583 wayang. Pekan lalu, wayang-wayang unik yang berbentuk aneka makhluk hidup, kendaraan, dll., diperagakan para murid sambil menari.
Sebanyak 100 siswa ikut tari-tarian sambil masing-masing membawa 10 wayang karya mereka. Memang tidak semua wayang bisa diperagakan sambil menari, karena jumlahnya yang terlalu banyak. Namun demikian, para pengunjung bisa tetap menyaksikan semua karya wayang mereka yang digelar di halaman Gedung Olah Raga.
Selain pemecahan rekor, dalam acara tersebut juga digelar pencatatan rekor baru yakni lukisan kulit kayu. Lukisan tersebut merupakan visualisasi cerita Banyumasan. Lukisan kulit kayu diberi dua rekor, yakni, pemrakarsa lukisan kulit kayu dan visualisasi cerita Banyumasan. “Dua rekor tersebut belum pernah diciptakan (dicatat di Muri) dan kita melihatnya sebagai suatu kategori unik,” kata Sri Widayati, Sekretaris Muri.
Puisi Matematika
Rekor lain yang belum lama ini dibukukan Museum Rekor Indonesia adalah Lomba Menulis Puisi Matematika. Lomba yang diikuti oleh 2.008 peserta ini, diadakan dalam rangka Konferensi Nasional Matematika dan Kongres Himpunan Matematika ke-14 di Gedung Pasca-Sarjana Universitas Sriwijaya, Palembang.
Membaca nama rekornya, kegiatan lomba menulis puisi matematika sangat unik dan menarik. Itu juga sebabnya Direktur Muri, Jaya Suprana langsung terjun memberikan penghargaan. “Saya sangat tertarik membukukan puisi-puisi tersebut yang masuk dalam kategori ontologi atau salah satu cabang ilmu filsafat,” kata Jaya Suprana seraya menyampaikan minatnya membukukan puisi-puisi tersebut.
Menurut Jaya Suprana, kegiatan ini layak dikukuhkan dalam Museum Rekor Indonesia, sebab, bukan hanya jumlah peserta banyak, tapi juga ternyata puisi matematika bisa lintas ilmu, baik sastra, ekonomi maupun ilmu kehidupan.
Di bagian lain, Ketua Panitia Konferensi dan Kongres Matematika ke-14, Prof. Zulkardi mengatakan, pihaknya sengaja menyelenggarakan perlombaan puisi matematika tersebut, untuk menyampaikan kepada masyarakat bahwa matematika tidak hanya berhubungan dengan angka-angka yang memusingkan. “Matematika juga mampu berkolaborasi dengan bidang lain,” katanya. —dia
source
Sebanyak 100 siswa ikut tari-tarian sambil masing-masing membawa 10 wayang karya mereka. Memang tidak semua wayang bisa diperagakan sambil menari, karena jumlahnya yang terlalu banyak. Namun demikian, para pengunjung bisa tetap menyaksikan semua karya wayang mereka yang digelar di halaman Gedung Olah Raga.
Selain pemecahan rekor, dalam acara tersebut juga digelar pencatatan rekor baru yakni lukisan kulit kayu. Lukisan tersebut merupakan visualisasi cerita Banyumasan. Lukisan kulit kayu diberi dua rekor, yakni, pemrakarsa lukisan kulit kayu dan visualisasi cerita Banyumasan. “Dua rekor tersebut belum pernah diciptakan (dicatat di Muri) dan kita melihatnya sebagai suatu kategori unik,” kata Sri Widayati, Sekretaris Muri.
Puisi Matematika
Rekor lain yang belum lama ini dibukukan Museum Rekor Indonesia adalah Lomba Menulis Puisi Matematika. Lomba yang diikuti oleh 2.008 peserta ini, diadakan dalam rangka Konferensi Nasional Matematika dan Kongres Himpunan Matematika ke-14 di Gedung Pasca-Sarjana Universitas Sriwijaya, Palembang.
Membaca nama rekornya, kegiatan lomba menulis puisi matematika sangat unik dan menarik. Itu juga sebabnya Direktur Muri, Jaya Suprana langsung terjun memberikan penghargaan. “Saya sangat tertarik membukukan puisi-puisi tersebut yang masuk dalam kategori ontologi atau salah satu cabang ilmu filsafat,” kata Jaya Suprana seraya menyampaikan minatnya membukukan puisi-puisi tersebut.
Menurut Jaya Suprana, kegiatan ini layak dikukuhkan dalam Museum Rekor Indonesia, sebab, bukan hanya jumlah peserta banyak, tapi juga ternyata puisi matematika bisa lintas ilmu, baik sastra, ekonomi maupun ilmu kehidupan.
Di bagian lain, Ketua Panitia Konferensi dan Kongres Matematika ke-14, Prof. Zulkardi mengatakan, pihaknya sengaja menyelenggarakan perlombaan puisi matematika tersebut, untuk menyampaikan kepada masyarakat bahwa matematika tidak hanya berhubungan dengan angka-angka yang memusingkan. “Matematika juga mampu berkolaborasi dengan bidang lain,” katanya. —dia
source