Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
Pernahkah Anda nongkrong di sebuah kafe? Bila pernah, pernahkah Anda memperhatikan sekeliling? Kira-kira, pernahkah Anda menemukan orang yg sedang membaca buku atau minimal di mejanya tergeletak buku? Baik. Pertanyaan ini mungkin dapat memberikan citra kasar seberapa tinggi daya membaca masyarakat di wilayah itu.
Pertanyaan selanjutnya masih sama, cuma saya geser tempatnya. Pernahkah Anda nongkrong di kantin atau taman sebuah universitas? Bila pernah, kira-kira adakah orang, atau tepatnya mahasiswa, yg sedang membaca buku atau minimal di sampingnya tergeletak buku sejauh Anda amati? Bila iya, itu wajar & biasa saja. Bila tidak, bukankah ini bahaya, krisis, & darurat?
Saya pernah mendapat tanggapan, memangnya membaca cuma harus dari buku? Hari gini udah modern, zaman digital!. Benar, saya setuju. Tapi benarkah kita memiliki kemampuan memilih & memilah bahan bacaan yg dapat dipertanggungjawabkan?itupun bila memang benar gawai yg dipakai 7/24 jam itu ditujukkan untuk membaca.
Baca Buku gan Biar pinter
Perdebatan bahan bacaan konvensional (buku cetak) & bahan bacaan digital (e-book) dapat kita bahas lain kali. Persoalannya bukan itu, tetapi adakah tradisi membaca masih hidup di masyarakat kita, khususnya di kalangan mahasiswa yg memiliki tanggung jawab sebagai spesies yg diharapkan jauh lebih cerdas dari yg bukan mahasiswa?
Bila perguruan tinggi, yg isinya dihuni oleh masyarakat akademis, tidak lagi akrab dengan tradisi membaca, lantas apa yg diharapkan dari masyarakat umum? Dengan ini saya tidak bermaksud merendahkan masyarakat biasa sebagai manusia yg kecerdasannya ada di bawah mahasiswatoh tidak sedikit masyarakat biasa yg justru jadipioneerdari ruang-ruang alternatif yg justru erat dengan tradisi intelektual & progresif. Namun permasalahannya adalah, kenapa mahasiswa sendiri tidak demikian?
Kritik ini mungkin akan ditepis oleh beberapa (kecil) mahasiswa yg memang tidak termasuk ke dalam kategori yg saya maksud sebelumnya, tetapi apabila komposisi mahasiswa yg masih menjaga tradisi membaca kurang dari 5% dari keseluruhan, apakah proses emansipasi masyarakat yg termarjinalkan jadi mungkin? Saya pesimis.
Dari ketidakakraban mahasiswa dengan tradisi membaca, kemudian muncul sebuah anggapan imajinatif dalam kepala saya bahwa dewasa ini mahasiswa & masyarakat biasa tidak berbeda sama sekali, kecuali bahwa mahasiswa itu punya jas almamater & ka-te-em. Perasaan cemas juga hadir dalam diri saya ketika banyak bermunculan program yg berbau literasi tetapi letupannya tidak lebih dari sekadar program aksidental, yg tidak memiliki konsistensi, keseriusan substantif, & visi emansipatoris yg aktual.
Selain para mahasiswa memerlukan pertalian erat dengan tradisi membaca, mereka juga perlu menindaklanjuti bahan bacaan (red: wacana) tersebut ke ruang publik. Bagaimana semestinya perbendaharaan pengetahuan itu dikebumikan kepada masyarakat umum, untuk kemudian jadi pemandu dalam melihat cakrawala problematika hidup. Ini mungkin klise, tetapi hal ini perlu didengungkan ulang, dengan lebih nyaring!
Selengkapnya disini gan Hari ini 13:44
Polling
0 Suara
Suka Pada Baca Buku Enggak?
Suka
Engga
Pilih
Pertanyaan selanjutnya masih sama, cuma saya geser tempatnya. Pernahkah Anda nongkrong di kantin atau taman sebuah universitas? Bila pernah, kira-kira adakah orang, atau tepatnya mahasiswa, yg sedang membaca buku atau minimal di sampingnya tergeletak buku sejauh Anda amati? Bila iya, itu wajar & biasa saja. Bila tidak, bukankah ini bahaya, krisis, & darurat?
Saya pernah mendapat tanggapan, memangnya membaca cuma harus dari buku? Hari gini udah modern, zaman digital!. Benar, saya setuju. Tapi benarkah kita memiliki kemampuan memilih & memilah bahan bacaan yg dapat dipertanggungjawabkan?itupun bila memang benar gawai yg dipakai 7/24 jam itu ditujukkan untuk membaca.
Baca Buku gan Biar pinter
Perdebatan bahan bacaan konvensional (buku cetak) & bahan bacaan digital (e-book) dapat kita bahas lain kali. Persoalannya bukan itu, tetapi adakah tradisi membaca masih hidup di masyarakat kita, khususnya di kalangan mahasiswa yg memiliki tanggung jawab sebagai spesies yg diharapkan jauh lebih cerdas dari yg bukan mahasiswa?
Bila perguruan tinggi, yg isinya dihuni oleh masyarakat akademis, tidak lagi akrab dengan tradisi membaca, lantas apa yg diharapkan dari masyarakat umum? Dengan ini saya tidak bermaksud merendahkan masyarakat biasa sebagai manusia yg kecerdasannya ada di bawah mahasiswatoh tidak sedikit masyarakat biasa yg justru jadipioneerdari ruang-ruang alternatif yg justru erat dengan tradisi intelektual & progresif. Namun permasalahannya adalah, kenapa mahasiswa sendiri tidak demikian?
Kritik ini mungkin akan ditepis oleh beberapa (kecil) mahasiswa yg memang tidak termasuk ke dalam kategori yg saya maksud sebelumnya, tetapi apabila komposisi mahasiswa yg masih menjaga tradisi membaca kurang dari 5% dari keseluruhan, apakah proses emansipasi masyarakat yg termarjinalkan jadi mungkin? Saya pesimis.
Dari ketidakakraban mahasiswa dengan tradisi membaca, kemudian muncul sebuah anggapan imajinatif dalam kepala saya bahwa dewasa ini mahasiswa & masyarakat biasa tidak berbeda sama sekali, kecuali bahwa mahasiswa itu punya jas almamater & ka-te-em. Perasaan cemas juga hadir dalam diri saya ketika banyak bermunculan program yg berbau literasi tetapi letupannya tidak lebih dari sekadar program aksidental, yg tidak memiliki konsistensi, keseriusan substantif, & visi emansipatoris yg aktual.
Selain para mahasiswa memerlukan pertalian erat dengan tradisi membaca, mereka juga perlu menindaklanjuti bahan bacaan (red: wacana) tersebut ke ruang publik. Bagaimana semestinya perbendaharaan pengetahuan itu dikebumikan kepada masyarakat umum, untuk kemudian jadi pemandu dalam melihat cakrawala problematika hidup. Ini mungkin klise, tetapi hal ini perlu didengungkan ulang, dengan lebih nyaring!
Selengkapnya disini gan Hari ini 13:44
Polling
0 Suara
Suka Pada Baca Buku Enggak?
Suka
Engga
Pilih