Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
Empat belas tahun sebelum Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP) ditandatangani, duta akbar Singapura untuk Amerika Serikat, Chan Heng Chee pernah memberikan pidato di Houston, Texas, dengan mengatakan bahwa hubungan Dinasti China dengan Asia Tenggara di masa lalu beberapa akbar dilakukan dengan pendekatan soft power. Chee mengakhiri pidatonya dengan sebuah pesan, 'Ada banyak optimisme di Asia Tenggara'.
Petikan pidato duta akbar salah satu negara ASEAN yg diketahui sebagai 'sekutu dekat' negeri Paman Sam ini ditulis David Kang dalam bukunya yg berjudul China Rising: Peace, Power and Order in East Asia (2007:3) & seolah mengkonfirmasi berlimpahnya asa kebangkitan di Asia Tenggara di tengah pandemi COVID-19 dengan ditandatanganinya RCEP, sebuah perjanjian kerja sama perdagangan terbesar oleh sepuluh negara ASEAN & lima negara di sekitar kawasan, termasuk Tiongkok, pada 15 November 2020.
Kelima belas Negara itu adalah Indonesia, Tiongkok, Jepang, Korea Selatan, Myanmar, Vietnam, Laos, Thailand, Kamboja, Malaysia, Filipina, Brunei Darussalam, Singapura, Australia, & Selandia Baru. RCEP juga melingkupi area planet bumi seluas 22,5 juta km persegi, dengan mengambil ceruk populasi dunia lebih dari 29,5 persen.
Tidak itu saja, keanggotan RCEP menguasai 29 persen PDB dunia dengan total nilai perdagangan lebih dari 10,6 triliun dolar AS. Wajar, RCEP dianggap sebagai perjanjian perdagangan terbesar dalam sejarah dunia di luar WTO (World Trade Organization).
Disepakatinya RCEP di Tahun 2020, dimana Tiongkok jadi salah satu pemain kuncinya, bertolak belakang dengan nasib perjanjian TPP (Trans Pacific Partnership) yg digagas Presiden Obama, ketika Amerika Serikat, sebagai aktor penting di dalamnya, justru menarik diri dari kesepakatan saat Gedung Putih dipimpin Presiden Donald Trump di Tahun 2017.
Shintaro Hamanaka pernah mengerjakan pembahasan perbandingan dua kesepakatan perdagangan ini: Trans-Pacific Partnership versus Comprehensive Economic Partnership, Control of Membership and Agenda Setting (2014) yg salah satu kesimpulannya menyebutkan pembentukan blok perdagangan seperti RCEP & TPP dapat dipahami sebagai lomba dari para pemain kunci, seperti Tiongkok & Amerika Serikat, untuk mengambil kendali keanggotaan maupun menentukan agenda atas isu tertentu dalam perdagangan dunia.
Masuknya dua sekutu Amerika Serikat yakni Australia & Jepang ke dalam RCEP menciptakan performa blok perdagangan ASEAN plus 5 ini semakin menarik, apalagi kehadiran Tiongkok sudah memberikan pengaruh positifnya dalam proses kesepakatan perdagangan global terbesar ini. Pengaruh positif Tiongkok dalam pentas global ini disebut Callahan (2013) sebagai keberhasilan Taiping Shengshi atau pendekatan perdamaian & kesejahteraan yg dilakukannya dalam berinteraksi dengan negara-negara di dunia.
Stefan Halper dalam The Beijing Consensus (2010: 234) pernah menampilkan data survey Pew Research Center yg diberi judul Global Unease with Major World Powers (2007) untuk membandingkan pengaruh Tiongkok & Amerika Serikat di tujuh belas negara di dua benua. Survey ini membandingkan selisih antara hal positif & hal negatif dari pengaruh Tiongkok & Amerika Serikat.
Selisih antara variabel-variabel 'good thing' & 'bad thing' ini lalu disandingkan untuk mengetahui mana yg memiliki pengaruh kuat. Data menunjukkan, Tiongkok memperoleh penambahan nilai positif dari lima belas negara (Kenya, Pantai Gading, Ghana, Senegal, Mali, Nigeria, Tanzania, Uganda, Ethiopia, Venezuela, Chili, Bolivia, Peru, Brazil, Argentina) & cuma dua negara (Afrika Selatan & Meksiko) yg menambah nilai negatif kepada negeri tirai bambu tersebut.
RCEP & Peran Indonesia
Meskipun Indonesia belum meratifikasi RCEP hingga hari ini, tetapi komitmen Pemerintah dengan DPR RI sudah diambil: akan mengerjakan proses finalisasi legislasi dalam kuartal perdana Tahun 2022 ini. Perjanjian kerjasama RECP sudah berlaku efektif (entry into force) awal tahun ini karena sudah ditandatangani lebih dari 6 anggota ASEAN & lebih dari tiga negara anggota non ASEAN.
Indonesia merupakan inisiator RCEP ketika jadi pemimpin ASEAN Tahun 2011. Melalui berbagai perundingan yg dilakukan sejak Tahun 2013 hingga penandatanganan 15 November 2020 lalu, Indonesia memiliki peran penting karena jadi Ketua TNC (Trade to Negotiation Committee) atau Komite Perundingan Perdagangan untuk mencapai kesepakatan antarpihak sebelum RCEP ditandatangani oleh lima belas negara.
Akhir 2020 lalu, ADB menciptakan sebuah kajian Regional Comprehensive Economic Partnership: Overview and Economic Impact yg menempatkan Indonesia jadi salah satu Negara ASEAN yg akan memperoleh keuntungan signifikan melalui RCEP di tahun 2030 dengan pendapatan sebesar 2.192 miliar dolar AS. Empat Negara non-ASEAN diproyeksikan akan memperoleh pendapatan tertinggi melalui RCEP dengan urutan Tiongkok (27.389 miliar dolar AS), Jepang (4.924 miliar dolar AS), Australia (2.590 miliar dolar AS), & Korea Selatan (2,243 miliar dolar AS).
Tantangan Anggota RCEP
Jika nantinya Indonesia sudah meratifikasi RCEP, persoalan yg harus dihadapi dunia industri & perdagangan kita tidaklah mudah. Beberapa langkah yg perlu diambil adalah memperkuat daya saing industri & perdagangan.
Meskipun awal 2022 lalu Presiden Jokowi menyebut tingkat daya saing Indonesia versi IMD World Competitiveness naik tiga peringkat dibanding tahun lalu, tetapi masih berada di bawah beberapa negara ASEAN. Peningkatan daya saing ini tidak cuma diperlukan bagi industri berskala besar, tetapi juga UMKM yg akan menghadapi membanjirnya barang-barang impor & sektor jasa dari negara-negara Anggota RCEP.
Peluang-peluang impor & ekspor harus terus dipacu untuk meningkatkan value supply chain industri dalam negeri kita. Peluang kerjasama dengan produsen bahan baku murah melalui skema import dari negara-negara RCEP termasuk Tiongkok harus diarahkan untuk memperkuat sektor industri dalam negeri untuk kepentingan peningkatan nilai ekspor. Proses ini dapat berlaku secara resiprokal & tentunya, saling menguntungkan. Wallahu a'lam bisshawab.
Penulis
Imron Rosyadi Hamid, Rektor Unira Malang, Wakil Sekretaris Jenderal PBNU
(Sponsored/China Media Group)
Sumber :
- https://news.detik.com/kolom/d-59159...eran-indonesia
- https://uniramalang.ac.id/
- https://rcepsec.org/ Hari ini 21:12