Diggie
IndoForum Activist C
- No. Urut
- 287751
- Sejak
- 6 Apr 2020
- Pesan
- 14.134
- Nilai reaksi
- 1
- Poin
- 0
Berikut adalah berita Rangnick & akutnya masalah yg dihadapi Manchester United.
Manajer Manchester United Ralf Rangnick saat pertandingan Liga Inggris Manchester United melawan Leicester City di Old Trafford, Manchester, Inggris, 2 April 2022. ANTARA/REUTERS/Russell Cheyne.
Jakarta (ANTARA) - Manajer Manchester United Ralf Rangnick kerap menahan kesal kala menyaksikan skuadnya bertanding, baik itu di Old Trafford maupun di kandang lawan, khususnya ketika pemain-pemainnya malas merebut bola dari lawan.
Kalau pemain-pemain Liverpool & Manchester City serempak maju menembus lawan begitu mendapatkan bola & meneror lawan begitu kehilangan bola, maka pemain-pemain MU terus berputar-putar di tengah & sering balik lagi belakang.
Teriakan 'forward, forward' atau 'maju, maju", kerap terdengar dari pinggir lapangan. Bahkan Cristiano Ronaldo kerap kesal kala mendapatkan posisi bagus tetapi rekan-rekannya lambat mengumpannya.
Rangnick sepertinya sudah lama memendam amarah, mungkin karena sepak bola menekan yg jadi filosofinya tak teramalkan oleh timnya.
Tak kuat menahan masygul, manajer MU sejak 29 November 2021 itu menumpahkan unek-uneknya kepada media tak lama setelah Leicester menahan mereka seri 1-1 pada 2 April yg mengikis optimisme finis empat besar.
Rangnick lalu menyibakkan penyakit kronis United, yakni tidak berani beradu fisik dengan lawan baik saat membawa bola maupun merebut bola, keberanian dalam menyerang lawan, hingga tiadanya DNA sepakbola menyerang dalam tubuh beberapa akbar pemain United.
Tak perlu menunggu tugas konsultan regu begitu peran pelatih sementaranya selesai, mantan direktur sepakbola RB Leipzig itu tak tahan untuk memberikan rekomendasi kepada hirarki klub supaya regu lebih baik lagi.
Baca juga: Ralf Rangnick serang balik komentar Louis van Gaal tentang Man United
Dia merekomendasikan empat hal. Satu, rekrutlah manajer dengan gaya bermain spesifik seperti Manchester City mempekerjakan Pep Guardiola & Liverpool menyewa Juergen Klopp.
Kedua, belilah pemain yg berani beradu fisik & agresif mengingat saat ini terlalu banyak pemain MU yg enggan main fisik & malas berlari guna mengganggu lawan & untuk mengejar bola.
Ketiga, pelajari dengan saksama DNA pemain yg akan direkrut sebelum mereka menandatangani kontrak bermain di MU.
Keempat, hadapilah kenyataan bahwa butuh tiga jendela transfer lagi untuk meluruskan MU ke jalan prestasi.
Empat rekomendasi itu dikeluarkan Rangnick karena dia melihat skuadnya itu kurang gigih & kurang agresif.
Contohnya tersingkap saat MU didikte oleh Leicester City akhir pekan lalu yg menciptakan Setan Merah hampir tak mendapatkan poin.
Harus diperbaiki
Gol Kelechi Iheanacho jadi citra nyata mengenai pemain MU yg tiada berani beradu fisik, tidak kreatif & kurang agresif. Fred begitu mudah ditekel Youri Tielemans, Paul Pogba tak berusaha menutup ruang gerak James Maddison, sedangkan Alex Telles lamban menahan laju Iheanacho.
Rangnick menilai skuadnya memang tak kurang berkarakter & kemampuan teknisnya. Tapi skuadnya kalah berani dari lawan ketika beradu fisik & juga mengalami masalah intensitas. "Setiap kali ada kontak fisik, kami sering kalah. Ini yg harus kami perbaiki," mengatakan Rangnick.
Pelatih asal Jerman itu bahkan menyebut semua yg dia sebut itu adalah bagian dari DNA pemain yg harus ada pada skuad United.
Uniknya, Rangnick bukan pelatih perdana yg menganalisis demikian. Jose Mourinho sewaktu masih melatih Setan Merah pun begitu, tepatnya saat pertandingan terakhirnya jadi manajer MU ketika Liverpool mengalahkan MU 3-1 pada Desember 2018.
Menunjuk pemain-pemain The Reds yg tak ragu beradu fisik seperti Andrew Robertson, Sadio Mane, Mohamed Salah, & Fabinho, pelatih asal Portugal itu sudah menyampaikan hal yg diutarakan Rangnick empat tahun kemudian.
"Mereka (pemain-pemain Liverpool) pemain yg berani beradu fisik dan, di atas itu, mereka juga pemain yg bagus secara teknis. Saya juga memiliki banyak pemain bagus secara teknis, tetapi kami tidak memiliki banyak pemain dengan kegigihan seperti mereka," mengatakan Mourinho saat itu.
Baca juga: Rooney dukung Pochettino ketimbang Ten Hag sebagai manajer baru United
Identifikasi Rangnick ini tak saja menolong manajer United berikutnya, entah Erik ten Hag, Mauricio Pochettino, atau siapa saja, tetapi juga semestinya menolong manajemen Setan Merah.
Fakta Rangnick mengumbar rekomendasinya kepada publik, menunjukkan Rangnick hendak mengusik hirarki klub yg sejak lama dituding sebagai biang keladi melempemnya Setan Merah sembilan tahun terakhir ini.
Hirarki MU sendiri cuma memberikan predikat pelatih sementara kepada Rangnick ketika MU masih memiliki peluang merebut gelar.
Fred adalah di antara pemain yg merasakan keanehan dari status pelatih sementara yg disandang Rangnick, justru ketika MU menghadapi saat-saat krusial.
Tapi yg paling keras mengkritik manajemen MU adalah para mantan pemain Setan Merah. Salah satunya Teddy Sheringham.
"Jika Anda punya pelatih yg tahu akan lama menjabat & berkeharapan menciptakan pemain semakin baik, maka semua orang bakal mengikuti dia. Jika itu tak terjadi, maka semua orang akan sulit mengikutinya karena semuanya bakal berubah saat akhir musim & mereka (pemain) harus mengawali lagi bersama manajer baru," mengatakan Sheringham.
Harus realistis
Man United sendiri, & juga Liverpool serta Man City, meletakkan fondasi sukses di atas arsitek yg itu-itu saja tetapi memiliki ide cemerlang dalam membangun regu yg kuat.
Ini terlihat ketika Sir Alex Ferguson selama 27 tahun menukangi Old Trafford di mana semua trofi pernah diraih Sir Alex termasuk 13 gelar pemenang liga & 2 gelar Liga Champions.
Liverpool & Man City juga begitu. Dalam sembilan tahun terakhir ketika MU tujuh kali mengganti pelatih termasuk dua pelatih caretaker dan 1 pelatih interim, The Reds & The Citizens masing-masing cuma dilatih dua orang, termasuk Juergen Klopp di Liverpool & Pep Guardiola bersama City. Kedua klub ini berubah jadi dua penguasa utama Liga Premier.
Trofi yg diraih pun banyak, ketimbang MU yg tak pernah menjuarai lagi liga. Liverpool sekali pemenang liga & sekali Liga Champions, sedangkan Man City empat kali pemenang liga.
Tetapi pelatih yg itu-itu saja dapat juga bukan jaminan karena sejumlah klub akbar Eropa malah membangun kesuksesan di atas suksesi yg lebih kerap dalam jabatan manajer tim.
Baca juga: Rangnick akui Manchester United saat ini bukan unggulan empat besar
Real Madrid, Barcelona, Bayern Muenchen & Chelsea adalah contohnya. Sewaktu Sir Alex mengisi tahta Old Trafford selama 27 tahun, Madrid sudah 22 kali gonta ganti pelatih, Barcelona 15 kali, Bayern 13 kali, & Chelsea 16 kali.
Prestasinya pun menyaingi & bahkan melebihi 27 tahun Sir Alex memimpin United. Madrid misalnya, selama era Sir Alex di MU sudah merebut 12 gelar liga & 4 Liga Champions, sedangkan Barcelona 12 liga & 4 Liga Champions. Chelsea lima gelar liga & 1 gelar Liga Champions.
Pun dalam 9 tahun ketika MU dilatih lima manajer (belum termasuk dua caretaker), Madrid, Barcelona & Chelsea sudah 7 kali ganti pelatih, sedangkan Bayern enam kali.
Tetap saja, dominasi Bayern, Madrid & Barcelona tak tergoyahkan. Mereka berkali-kali menjuarai liga & sesekali Liga Champions ketika MU cuma dapat sekali pemenang Liga Europa saat dilatih Mourinho & sekali Piala FA saat ditukangi Louis van Gaal.
Oleh karena itu, lama tidaknya seseorang jadi pelatih belum tentu jadi jaminan adanya konsistensi dalam tim. Namun kalau melihat Man City & Liverpool saat ini serta MU saat dilatih Sir Alex, maka pelatih yg dapat lama melatih Setan Merah mungkin lebih baik.
Tapi MU harus realistis untuk tak berharap banyak kepada Rangnick yg cuma diberi mandat separuh musim. Kalaupun Rangnick gagal, maka itu lebih merupakan kegagalan manajemen & pemilik MU.
Apakah delapan pertandingan tersisa musim ini dapat mengantarkan MU ke empat besar? Sulit sekali menjawabnya karena jawaban itu membutuhkan hasil pertandingan yg didapat dari cara bermain & bersikap yg baru dari pemain-pemain MU.
Berita diatas dikutip dari internet, jika Rangnick & akutnya masalah yg dihadapi Manchester United adalah spam, mohon beritahu kami.
Manajer Manchester United Ralf Rangnick saat pertandingan Liga Inggris Manchester United melawan Leicester City di Old Trafford, Manchester, Inggris, 2 April 2022. ANTARA/REUTERS/Russell Cheyne.
Jakarta (ANTARA) - Manajer Manchester United Ralf Rangnick kerap menahan kesal kala menyaksikan skuadnya bertanding, baik itu di Old Trafford maupun di kandang lawan, khususnya ketika pemain-pemainnya malas merebut bola dari lawan.
Kalau pemain-pemain Liverpool & Manchester City serempak maju menembus lawan begitu mendapatkan bola & meneror lawan begitu kehilangan bola, maka pemain-pemain MU terus berputar-putar di tengah & sering balik lagi belakang.
Teriakan 'forward, forward' atau 'maju, maju", kerap terdengar dari pinggir lapangan. Bahkan Cristiano Ronaldo kerap kesal kala mendapatkan posisi bagus tetapi rekan-rekannya lambat mengumpannya.
Rangnick sepertinya sudah lama memendam amarah, mungkin karena sepak bola menekan yg jadi filosofinya tak teramalkan oleh timnya.
Tak kuat menahan masygul, manajer MU sejak 29 November 2021 itu menumpahkan unek-uneknya kepada media tak lama setelah Leicester menahan mereka seri 1-1 pada 2 April yg mengikis optimisme finis empat besar.
Rangnick lalu menyibakkan penyakit kronis United, yakni tidak berani beradu fisik dengan lawan baik saat membawa bola maupun merebut bola, keberanian dalam menyerang lawan, hingga tiadanya DNA sepakbola menyerang dalam tubuh beberapa akbar pemain United.
Tak perlu menunggu tugas konsultan regu begitu peran pelatih sementaranya selesai, mantan direktur sepakbola RB Leipzig itu tak tahan untuk memberikan rekomendasi kepada hirarki klub supaya regu lebih baik lagi.
Baca juga: Ralf Rangnick serang balik komentar Louis van Gaal tentang Man United
Dia merekomendasikan empat hal. Satu, rekrutlah manajer dengan gaya bermain spesifik seperti Manchester City mempekerjakan Pep Guardiola & Liverpool menyewa Juergen Klopp.
Kedua, belilah pemain yg berani beradu fisik & agresif mengingat saat ini terlalu banyak pemain MU yg enggan main fisik & malas berlari guna mengganggu lawan & untuk mengejar bola.
Ketiga, pelajari dengan saksama DNA pemain yg akan direkrut sebelum mereka menandatangani kontrak bermain di MU.
Keempat, hadapilah kenyataan bahwa butuh tiga jendela transfer lagi untuk meluruskan MU ke jalan prestasi.
Empat rekomendasi itu dikeluarkan Rangnick karena dia melihat skuadnya itu kurang gigih & kurang agresif.
Contohnya tersingkap saat MU didikte oleh Leicester City akhir pekan lalu yg menciptakan Setan Merah hampir tak mendapatkan poin.
Harus diperbaiki
Gol Kelechi Iheanacho jadi citra nyata mengenai pemain MU yg tiada berani beradu fisik, tidak kreatif & kurang agresif. Fred begitu mudah ditekel Youri Tielemans, Paul Pogba tak berusaha menutup ruang gerak James Maddison, sedangkan Alex Telles lamban menahan laju Iheanacho.
Rangnick menilai skuadnya memang tak kurang berkarakter & kemampuan teknisnya. Tapi skuadnya kalah berani dari lawan ketika beradu fisik & juga mengalami masalah intensitas. "Setiap kali ada kontak fisik, kami sering kalah. Ini yg harus kami perbaiki," mengatakan Rangnick.
Pelatih asal Jerman itu bahkan menyebut semua yg dia sebut itu adalah bagian dari DNA pemain yg harus ada pada skuad United.
Uniknya, Rangnick bukan pelatih perdana yg menganalisis demikian. Jose Mourinho sewaktu masih melatih Setan Merah pun begitu, tepatnya saat pertandingan terakhirnya jadi manajer MU ketika Liverpool mengalahkan MU 3-1 pada Desember 2018.
Menunjuk pemain-pemain The Reds yg tak ragu beradu fisik seperti Andrew Robertson, Sadio Mane, Mohamed Salah, & Fabinho, pelatih asal Portugal itu sudah menyampaikan hal yg diutarakan Rangnick empat tahun kemudian.
"Mereka (pemain-pemain Liverpool) pemain yg berani beradu fisik dan, di atas itu, mereka juga pemain yg bagus secara teknis. Saya juga memiliki banyak pemain bagus secara teknis, tetapi kami tidak memiliki banyak pemain dengan kegigihan seperti mereka," mengatakan Mourinho saat itu.
Baca juga: Rooney dukung Pochettino ketimbang Ten Hag sebagai manajer baru United
Identifikasi Rangnick ini tak saja menolong manajer United berikutnya, entah Erik ten Hag, Mauricio Pochettino, atau siapa saja, tetapi juga semestinya menolong manajemen Setan Merah.
Fakta Rangnick mengumbar rekomendasinya kepada publik, menunjukkan Rangnick hendak mengusik hirarki klub yg sejak lama dituding sebagai biang keladi melempemnya Setan Merah sembilan tahun terakhir ini.
Hirarki MU sendiri cuma memberikan predikat pelatih sementara kepada Rangnick ketika MU masih memiliki peluang merebut gelar.
Fred adalah di antara pemain yg merasakan keanehan dari status pelatih sementara yg disandang Rangnick, justru ketika MU menghadapi saat-saat krusial.
Tapi yg paling keras mengkritik manajemen MU adalah para mantan pemain Setan Merah. Salah satunya Teddy Sheringham.
"Jika Anda punya pelatih yg tahu akan lama menjabat & berkeharapan menciptakan pemain semakin baik, maka semua orang bakal mengikuti dia. Jika itu tak terjadi, maka semua orang akan sulit mengikutinya karena semuanya bakal berubah saat akhir musim & mereka (pemain) harus mengawali lagi bersama manajer baru," mengatakan Sheringham.
Harus realistis
Man United sendiri, & juga Liverpool serta Man City, meletakkan fondasi sukses di atas arsitek yg itu-itu saja tetapi memiliki ide cemerlang dalam membangun regu yg kuat.
Ini terlihat ketika Sir Alex Ferguson selama 27 tahun menukangi Old Trafford di mana semua trofi pernah diraih Sir Alex termasuk 13 gelar pemenang liga & 2 gelar Liga Champions.
Liverpool & Man City juga begitu. Dalam sembilan tahun terakhir ketika MU tujuh kali mengganti pelatih termasuk dua pelatih caretaker dan 1 pelatih interim, The Reds & The Citizens masing-masing cuma dilatih dua orang, termasuk Juergen Klopp di Liverpool & Pep Guardiola bersama City. Kedua klub ini berubah jadi dua penguasa utama Liga Premier.
Trofi yg diraih pun banyak, ketimbang MU yg tak pernah menjuarai lagi liga. Liverpool sekali pemenang liga & sekali Liga Champions, sedangkan Man City empat kali pemenang liga.
Tetapi pelatih yg itu-itu saja dapat juga bukan jaminan karena sejumlah klub akbar Eropa malah membangun kesuksesan di atas suksesi yg lebih kerap dalam jabatan manajer tim.
Baca juga: Rangnick akui Manchester United saat ini bukan unggulan empat besar
Real Madrid, Barcelona, Bayern Muenchen & Chelsea adalah contohnya. Sewaktu Sir Alex mengisi tahta Old Trafford selama 27 tahun, Madrid sudah 22 kali gonta ganti pelatih, Barcelona 15 kali, Bayern 13 kali, & Chelsea 16 kali.
Prestasinya pun menyaingi & bahkan melebihi 27 tahun Sir Alex memimpin United. Madrid misalnya, selama era Sir Alex di MU sudah merebut 12 gelar liga & 4 Liga Champions, sedangkan Barcelona 12 liga & 4 Liga Champions. Chelsea lima gelar liga & 1 gelar Liga Champions.
Pun dalam 9 tahun ketika MU dilatih lima manajer (belum termasuk dua caretaker), Madrid, Barcelona & Chelsea sudah 7 kali ganti pelatih, sedangkan Bayern enam kali.
Tetap saja, dominasi Bayern, Madrid & Barcelona tak tergoyahkan. Mereka berkali-kali menjuarai liga & sesekali Liga Champions ketika MU cuma dapat sekali pemenang Liga Europa saat dilatih Mourinho & sekali Piala FA saat ditukangi Louis van Gaal.
Oleh karena itu, lama tidaknya seseorang jadi pelatih belum tentu jadi jaminan adanya konsistensi dalam tim. Namun kalau melihat Man City & Liverpool saat ini serta MU saat dilatih Sir Alex, maka pelatih yg dapat lama melatih Setan Merah mungkin lebih baik.
Tapi MU harus realistis untuk tak berharap banyak kepada Rangnick yg cuma diberi mandat separuh musim. Kalaupun Rangnick gagal, maka itu lebih merupakan kegagalan manajemen & pemilik MU.
Apakah delapan pertandingan tersisa musim ini dapat mengantarkan MU ke empat besar? Sulit sekali menjawabnya karena jawaban itu membutuhkan hasil pertandingan yg didapat dari cara bermain & bersikap yg baru dari pemain-pemain MU.
Berita diatas dikutip dari internet, jika Rangnick & akutnya masalah yg dihadapi Manchester United adalah spam, mohon beritahu kami.